Semenjak kejadian di pesta ulang tahun lady Sodent tempo hari, perilaku Matthias berubah total.
Seperti menjadi seseorang yang berbeda-- bukan lagi Duke sempurna pemilik Arvis.
Matthias berperilaku kasar dan mulai memaksa, bahkan pria itu menahan Claudine yang ingin pulang ke kediaman Brandt.
Matthias seakan menculik Claudine di paviliunnya.
Claudine bahkan tak tahu apa motif Matthias sampai melakukan hal ini. Apakah pria itu merasa cemburu karna pertemuan Claudine dan Riette di pesta? Apakah itu masalah besar?? Claudine rasa tidak...
Claudine yakin Matthias sudah mencintai Layla.
Sophie, pelayan pribadi yang diperintahkan Matthias untuk melayani Claudine datang. Dia membawa kotak-kotak yang cukup banyak dibantu Hessen, menaruhnya di sudut ruangan kamar Claudine.
"Apa semua itu?" Claudine bertanya dengan alis mengkerut. Dirinya duduk di jendela besar dengan piyama santai dan buku novel yang tengah ia baca.
Walaupun dia bisa melihat keindahan Arvis dari jendela, tetap saja akan membosankan.
Gadis itu sudah di sini selama beberapa hari, dan dia belum mendengar kabar apapun soal keluarganya.
Claudine khawatir dengan keadaan ibunya, nyonya Brandt. Tapi gadis itu tahu apa yang akan Matthias katakan jika dia meminta untuk pulang.
"Kau berani membantah tunangan mu?"
Claudine hanya menyandang gelar lady saat ini. Dia belum resmi menyandang gelar Duchess of Herhardt, karna belum menikahi Matthias. Tentu Claudine tak memiliki keberanian lebih untuk itu.
"Tuan Duke memesan dress-dress paling menawan dan paling mahal di Arvis dan beberapa perhiasan untuk anda, lady." Jawab Sophie dengan tenang.
Hessen membenarkan kacamatanya, "tuan Duke juga memanggil anda ke ruang tengah, lady. Beliau ingin membicarakan sesuatu." Sambung Hessen.
Claudine menghela nafas pelan. Gadis itu menaruh novelnya di meja dan segera berdiri.
Pandangannya datar tanpa senyuman, sorotnya terlihat sedikit kosong.
"Kapan aku bisa keluar dari paviliun?" Tanya Claudine.
Dia yakin Matthias menyembunyikan ini semua dari Norma ataupun Elysse. Tentu si Duke tidak mau rahasia dan permainan kecilnya ini terbongkar.
Baik Hessen maupun Sophie terlihat canggung dengan pertanyaan itu.
Ah... Nampaknya mereka bahkan tak tahu soal rencana Matthias, tuan mereka.
"Abaikan perkataanku. Tolong bantu aku bersiap-siap."
Mau apa lagi? Claudine hanya bisa pasrah... Toh, sebentar lagi perang akan dimulai.
Perang di kota Sienna. Perang yang mungkin merenggut nyawa cinta-nya, Riette-nya.
-·-
"Apa yang ingin anda katakan?"
Claudine duduk di hadapan Matthias. Pria itu terlihat memakai kemeja putih dan celana hitam santai-- tidak biasanya. Pria yang selalu berpenampilan formal bahkan saat berburu, hari ini hanya memakai setelan biasa seperti itu?
"Saya mendapat surat dari nyonya Brandt." Matthias menjawab cepat lalu meletakkan buku yang ia baca di meja.
Claudine terlihat sedikit risau, namun dia berusaha menetralkan ekspresinya.
"Apa yang beliau sampaikan?"
Matthias berdehem pelan, menatap Claudine dengan serius. "Sedang berduka." Ucapnya.
Penuturan Matthias membuat mata Claudine membulat, pupilnya mengecil kaget saat mendengar itu.
Kedua tangan Claudine yang di taruh di atas dressnya, nampak mencengkram dress itu dengan perasaan campur aduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tight-Rope
Fantasy"Menyerahlah, Claudine. sejauh apapun kau mau kabur dari ku, aku akan tetap bisa menemukanmu." ini tentang Claudine von Brandt, antagonis dalam novel yang kembali mengulang waktu. ⚠️ - alur lambat - fanfiksi dari webtoon - original story by Solche...
