Tangan besarnya menggenggam erat tangan mungil si gadis merah. Atau mungkin kata mencengkram lebih cocok untuk dipakai- melihat bagaimana gerakan si pria yang cukup kasar, menarik si gadis menuju ruang VIP yang dia sewa.
Cerutu di tangan Matthias terlupakan, dibiarkan terbakar tanpa dihisap. Lalu akhirnya dia berhenti, melepaskan Ruelle dengan sedikit kasar sampai gadis itu hampir menabrak dinding.
Mata birunya langsung menelisik si gadis; seakan menghakimi setiap pergerakan kecil yang dia lakukan.
"Surat kabarnya, lady." Matthias berkata, lalu akhirnya menghisap kembali cerutunya, menghembuskan asapnya tepat di depan wajah Ruelle.
Kerutan alis terbit di wajah cantiknya melihat tingkah laku Matthias.
Surat kabar, Ruelle tahu jelas apa yang dia coba sampaikan.
Surat kabar dengan headline tentang mereka beberapa hari lalu, dan Ruelle tahu bahwa Matthias mungkin murka, atau mungkin tidak juga.
"Apa anda sudah membacanya?" Ruelle berkata, suaranya kian gemetar, namun sorot matanya tanpa disadari sedikit menantang.
Matthias menatapnya, mata biru itu memerhatikan sorot mata aquamarinenya yang... Menantang. Familiar, sangat familiar- sama dengan sorot mata wanita itu, Claudine von Brandt.
Entah si Duke sudah melupakannya, atau kata-kata melupakan itu hanya alibi semata agar rumor pembatalan pertunangan mereka teredam.
"Ya." Jawabnya, nada suaranya turun satu oktaf, seakan hampir tak perduli. "Tapi gosip tidak layak diberi perhatian lebih dari sekali." Lanjutnya.
"Tidak layak?" Senyum pahit menarik bibir Ruelle. "Koran ini menulis seolah saya wanita tak tahu malu yang sengaja menjebak Duke Herhardt di hotel murahan! Ayah saya bahkan-" suaranya patah sejenak, "-bahkan murka pada saya!"
Matthias tidak menjawab. Ia menatapnya sebentar, lalu berjalan mendekat. Setiap langkahnya berat, tapi terkendali.
Selalu terkendali, selalu tenang, tipikal Matthias.
Meski di saat hatinya bergemuruh dengan campuran ratusan perasaan, atau ketika pikirannya dikuasai kegelapan, mata biru itu selalu menemukan cara untuk tenang. Dan wajah tampannya selalu bisa mengendalikan ekspresinya.
"Kau tahu benar apa yang terjadi malam itu, Lady Ruelle. Aku hanya memintamu menemaniku karena keadaan mendesak. Tak lebih." Suaranya kini lebih tenang, meski dia menatap ke bawah di mana Ruelle berdiri hanya setinggi dada bidangnya.
"Tapi orang-orang tidak peduli soal itu!" sergahnya. "Yang mereka tahu hanyalah foto yang mereka lihat-saya dengan Anda-di depan pintu kamar hotel itu! Anda bisa membersihkan nama Anda kapan pun, tapi saya? Saya akan selalu jadi bahan ejekan."
"...apa anda pikir semua orang sekuat itu untuk menahan rumor seperti ini?"
Daripada sebuah pertanyaan, itu hampir terdengar menyedihkan. Seperti permohonan untuk dimengerti, menurut Matthias. Tanpa sadar rahangnya mengeras, cukup kuat hingga dia sendiri bisa mendengar giginya menggertak.
Matthias mengembuskan napas pelan, menahan sesuatu yang tidak ingin ia katakan.
Ia tahu, di balik semua itu, yang paling menakutkan bukan rumor-tapi perasaan asing yang tumbuh di dadanya.
Bajingan dia, bajingan Matthias von Herhardt.
Menatap Ruelle seakan mengenalinya- disaat yang dia ingat hanyalah Claudine.
"Rumor akan berlalu," ujarnya sebagai akhir, datar. "Yang penting, kau tetap tahu siapa dirimu."
Itu terdengar seperti sesuatu yang konyol, hampir seperti Matthias tidak bisa mengatakan sesuatu dengan jelas.
Tapi di sanalah dia, bertinggi tegak mengurung Ruelle di bawah bayangannya, mata birunya bersinar seperti mengejeknya.
Matthias menatapnya lama sekali.
Sampai akhirnya, ia berbisik-pelan, tapi tajam seperti bilah kaca.
"Kau bukan dia. Tapi kadang, caramu menatapku membuat aku berharap kau tidak pernah ada." Bisikan itu pelan, sangat amat pelan sampai Ruelle hanya bisa mendengar beberapa patah kata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tight-Rope
Fantasi"Menyerahlah, Claudine. sejauh apapun kau mau kabur dari ku, aku akan tetap bisa menemukanmu." ini tentang Claudine von Brandt, antagonis dalam novel yang kembali mengulang waktu. ⚠️ - alur lambat - fanfiksi dari webtoon - original story by Solche...
