*putar musiknya! (Only One by Rainie Yang --- Derailment Ost.)
Malam ini, mereka akan bermalam di hutan. Sebelum sampai ke daerah perang, mereka akan beristirahat sejenak di sini.
Beruntungnya Riette dan Matthias satu tenda, setidaknya mereka bisa berbincang karna lebih akrab.
Pandangan Riette jatuh pada langit malam bertabur bintang, menatap bulan yang seindah Claudine.
Pikirannya hanyut entah memikirkan apa.
"Bertahan..." Riette bergumam, mengingat jelas ucapan Claudine kala itu, berkata seakan memotivasinya.
Riette harus bertahan. Harus.
"Kau tidak tidur?" Matthias datang sambil menyibak pintu tenda, berdiri di samping Riette.
Sepatu boot, celana putih dan kaus navy yang digunakan Matthias nampak cocok padanya.
Riette menoleh, kemudian berdehem pelan. "Ya, kau duluan saja. Aku belum mengantuk." Jawab Riette.
Matthias mengangguk-angguk paham.
"Nanti pagi kau harus sudah bangun sebelum aku. Kalau tidak, kau harus membayarnya dengan uangmu." Kata Matthias lalu kembali masuk ke dalam tenda.
Riette segera berdecih sebal lalu ikut masuk ke dalam tenda.
Di dalam tenda, terdapat dua prajurit lain yang juga setenda dengan mereka.
Riette kenal dekat, namun dia tak membuka percakapan.
Pria itu segera bersiap untuk tidur.
Pikirannya bahkan tak bisa jernih dan terus saja meneriaki nama Claudine.
Riette mengerutkan alisnya, mencoba untuk menjernihkan pikirannya.
"Apa itu?" Suara Riette terdengar, membuat ketiga pria di sampingnya ikut membuka mata.
Perhatian mereka tertuju pada Matthias-- pria bermata biru itu tidur dengan sebuah jepit rambut kecil berbandul mawar biru yang di jepit pada kerah kausnya.
Untuk sesaat hening, lalu Matthias membuka mata, seakan berkata apa lihat-lihat?
"Tidur sana." Decaknya. Matthias kemudian melepas jepitan itu dari kerahnya dan menyimpannya di saku celana, mengabaikan tatapan terkejut Riette dan dua prajurit lain.
"Apa mungkin itu milik tunangan anda, Duke? Lady Brandt ya..."
Ucapan salah satu prajurit hanya dianggap angin lalu oleh Matthias. Pria itu tetap diam dan membalik posisi tidurnya, seperti tolakan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Sedangkan Riette, dia juga berpikir.
Apa yang dikatakan prajurit itu benar? Apakah Claudine memberikan jepit mawar biru itu pada Matthias?
Rasanya konyol, seperti Claudine mempermainkan mereka berdua.
Riette kira hanya dia yang diberi jimat penyemangat oleh Claudine, tapi ternyata Matthias juga.
Mata cokelatnya melirik gagang pedang miliknya yang diikat dengan pita putih yang Claudine berikan, lalu mata Riette kembali terpejam. Memaksa untuk pergi ke alam mimpi.
Peduli apa. Aku juga bukan siapa-siapa bagi Claudine, mungkin hanya sahabat saja.
Matthias, kan, tunangannya.
Riette larut dalam pikirannya, tak menyadari bahwa dia mulai pergi ke alam mimpi.
-·-
C...laudine....
.....Cl...Claudine...
Claudine... Memilih kamu..
Riette terbangun dengan napas tersengal, suara yang menggerayanginya semalam semakin membuat bulu kuduknya berdiri.
Pria itu menoleh, menatap teman-temannya yang masih tidur, bahkan Matthias juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tight-Rope
Fantasy"Menyerahlah, Claudine. sejauh apapun kau mau kabur dari ku, aku akan tetap bisa menemukanmu." ini tentang Claudine von Brandt, antagonis dalam novel yang kembali mengulang waktu. ⚠️ - alur lambat - fanfiksi dari webtoon - original story by Solche...
