Tawa itu terasa sedikit canggung, berusaha meminimalisir rasa tak nyaman dari satu pihak.
Galeri seni yang terlihat cukup ramai tak membuat suasana nya jadi tenang, masih saja terasa tegang.
Claudine dan Matthias berdiri di depan sebuah lukisan besar, berlukis padang bunga mawar biru yang luas dengan cuaca yang mendung.
Senyum tipis Claudine terukir, dia nampaknya menyukai lukisan itu.
"Mirip seperti anda," Matthias bergumam pelan.
Claudine menoleh, wajahnya nampak bertanya walaupun dia tak mengeluarkan pertanyaan.
"Padang mawarnya cantik, seperti anda. Sedangkan awan mendungnya terlihat berbahaya namun juga indah, seperti anda." Matthias tersenyum, sangat tipis seakan tak mau menunjukkan bahwa dia tengah tersenyum. Jarinya bergerak menunjuk lukisan di depan mereka.
Claudine terdiam. Dia kemudian kembali tersenyum. "Terimakasih." Katanya.
Mereka kembali hening.
Baik Matthias maupun Claudine, keduanya menyelam ke pikiran masing-masing. Entah memikirkan apa.
dan sialnya di saat seperti ini, Claudine kembali teringat dengan 'kencan' pertamanya dengan Riette. Ah, itu sudah berbulan-bulan lamanya. Mungkin di waktu ketika Matthias sibuk dengan perang luar negri dan tidak pulang ke Arvis selama 2 tahun.
Walaupun momen itu tidak resmi dikatakan sebagai kencan... Namun Claudine masih mengingatnya dengan jelas.
Claudine menoleh pada Matthias yang masih bergeming di tempatnya, berdiri sambil menatap lekat lukisan besar di hadapan mereka.
Sebuah tanda tangan kecil terlihat samar di ujung lukisan itu, bertinta emas dengan inisial R.
"..apakah anda ingin membelinya, tuan Duke?" Claudine membuka percakapan kembali, sedikit berdehem untuk meminimalisir atmosfer canggung di antara mereka.
Matthias yang mendengar suaranya nampak menoleh, menatap Claudine dengan mata biru dalamnya. Tatapan yang masih sama, yang kini semakin penuh akan perasaan yang dia coba sembunyikan.
Matthias nampan menyedihkan, namun sayangnya Claudine tak mengasihaninya.
"..." Pertamanya hening, hanya tatapan Matthias yang melekat padanya sebelum akhirnya dia membuka suara, "...mungkin ide bagus, Claudine." Suaranya setenang unggas air. Benar-benar menghanyutkan.
Claudine tersenyum tipis, senyumannya terlihat sedikit tersirat akan sesuatu. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada, sedangkan pandangannya kembali lurus ke lukisan itu.
-·-
Sore ini, nampaknya Matthias masih belum mau melepaskan Claudine. Kencan mereka masih terus berlanjut, seakan Matthias benar-benar tak mau hari ini berakhir.
Mereka memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran mewah di tengah kota.
Suasana tenang membuat suasana hati Claudine sedikit membaik. Gadis itu nampak sibuk memakan sajiannya, mencoba mengabaikan Matthias yang sedari tadi terus saja menatapnya; bahkan sampai hampir menganggurkan steak di hadapannya.
"Apa setelah ini anda akan segera pulang? Saya pikir pekerjaan anda masih menumpuk." Claudine berkata sambil menyuap satu potong steak ke dalam mulutnya, perlahan mendongak dan menatap lurus pada Matthias.
Tak disangka- Matthias malah menyeringai, seringai tipis yang membuat Claudine sedikit sebal melihatnya.
"Sepertinya belum, Claudine. Saya sudah memerintahkan Hessen untuk menyelesaikan sisanya." Katanya dengan tenang.
Claudine terdiam, matanya nampak melirik steak Matthias yang masih setengah utuh. "..makanlah dengan benar, tuan Duke." Tegurnya, dengan suara kecil yang hampir sekedar gumaman.
Matthias terkekeh, "ya, saya memakannya dengan benar, Claudine." Dia membalasnya tanpa ragu, seakan mereka benar-benar sepasang kekasih. Padahal faktanya setelah 'kencan' ini berakhir, mereka akan segera memutuskan pertunangan.
"Omong-omong, tolong jangan panggil dengan nama saya. Sebentar lagi pertunangan kita akan selesai, Duke." Claudine jelas mengatakannya dengan tegas, seakan benar-benar tak menerima penolakan.
"Kalau begitu, tolong izinkan saya memanggil anda hanya dengan nama sampai kencan ini benar-benar berakhir."
...dan Claudine, nampaknya tidak bisa menolak permintaannya yang lebih terdengar seperti paksaan.
-·-
Ini sudah hampir malam, dan Ruelle belum juga dibolehkan untuk keluar dari ruang kerja ayahnya. Earl Sodent nampak benar-benar murka dengan skandal yang tertera di koran pagi ini; tentang Ruelle dan aristokrat terkenal di Berg, tentu saja Matthias von Herhardt.
"Tidakkah kamu tahu keluarga Sodent, Ruelle? Kamu benar-benar keterlaluan."
Earl Sodent nampak membanting kasar koran itu ke meja kerjanya, memijat pangkal hidungnya dan menghela napas berat. Dia sudah cukup tua... Seharusnya Ruelle bisa segera menikahi seorang tuan bangsawan atau meneruskan posisinya sebagai Earl. Namun berita kali ini benar-benar membuatnya emosi.
Tanpa ditanya pun, Earl benar-benar hapal betul bagaimana ciri-ciri putri semata wayangnya itu.
Rambut panjang berwarna merah... Tidakkah itu sangat cocok dengan Ruelle? Karna sedikit orang-orang berambut merah di Berg.
Jika itu countess Sandrine.. Tidakkah itu sangat konyol.
"Maaf, ayah. Aku benar-benar tidak melakukan apapun, aku hanya-"
Ucapannya terpotong, karna tiba-tiba Earl membentaknya.
"Ruelle! Kamu benar-benar mempermalukan keluarga Sodent, kamu tahu?!" Dia nampak menatap Ruelle dengan tajam.
Pikirannya terbang kemana-mana, memikirkan bagaimana caranya untuk mengembalikan nama baiknya... Atau mungkin dia harus segera menjodohkan Ruelle dengan seseorang agar skandal itu bisa elak?
"Aku bersumpah demi Tuhan, ayah..! Aku sama sekali tak melakukan apapun, tuan Duke lah yang meminta ku untuk mengantarkannya ke hotel... A-aku hanya mengikuti perintahnya." Ruelle masih membela dirinya, berusaha menyampaikan bahwa sebenarnya dia tidak bersalah.
"Kamu pikir orang-orang akan percaya dengan alibi mu yang tidak seberapa itu, Ruelle? Kenapa kamu menerima perintahnya, padahal kamu tahu bahwa Duke telah memiliki tunangan??" Suaranya tegas, Earl nampaknya benar-benar kecewa dan marah.
Ruelle hanya bisa diam. Meremat gaunnya dan mencoba menahan tangisannya.
Kalau saja malam itu ayahnya tidak menyuruhnya untuk menemui Theo von Herbert di kasino... Mungkin saja Ruelle tak akan diganggu para preman dan tidak akan bertemu dengan Matthias.
"..sudahlah, keluar dari ruanganku. Kamu harus meratapi kesalahanmu, jangan keluar dari kamar mu."
Itu keputusan telak, dan Ruelle sama sekali tak berkuasa untuk membantahnya. Gadis itu membungkuk sebagai tanda hormat, lalu segera pergi keluar dari ruang kerja ayahnya.
-·-
Halo...
Eh aku beneran minta maaf banget ges, udah lama bgt gak update😭
Sebenernya sih aku masih agak bingung harus nulis gimana, bahkan aku udah hampir lupa sama alurnya wkwk😭😭
Tolong dimaklumi ya kalau ada kesalahan, mungkin nanti aku bakal revisi(masih rencana, soalnya aku malaz).
Semoga memuaskan ya, untuk update selanjutnya aku gatau kapan, karna minggu depan bakal full ulangan😔
Mohon doa nya ges, terimakasih~
See yaa🤞🏻~
KAMU SEDANG MEMBACA
Tight-Rope
Fantasy"Menyerahlah, Claudine. sejauh apapun kau mau kabur dari ku, aku akan tetap bisa menemukanmu." ini tentang Claudine von Brandt, antagonis dalam novel yang kembali mengulang waktu. ⚠️ - alur lambat - fanfiksi dari webtoon - original story by Solche...
