11. Confess Your Feelings.

1.8K 194 12
                                        

"Tidakkah ibu berpikir ini agak berlebihan? Ibu bisa sakit."

Kepulangan Claudine setelah satu setengah minggu di Herhardt, membuat nyonya Brandt merasa lebih baik.
Walau tak bisa dipungkiri wanita itu masih mengurung diri di kamar dan meratapi kepergian suaminya-- Count Brandt.

Claudine berdiri di depan pintu kamar nyonya Brandt, berbicara dari luar.
Berharap nyonya Brandt berubah pikiran dan membuka pintu kokoh ini, membiarkan dirinya masuk.

"Ibu butuh waktu, Claudine. Terimakasih sudah kembali."

Suara itu terdengar, suara lembut namun gemetar dan serak.
Ibunya melalui begitu banyak cobaan dalam hidup.

Kalung yang menghias leher jenjang Claudine nampak bercahaya, membuat Claudine memegangnya lalu berjalan menuju kamarnya.

"Kenapa? Beberapa hari ini, kalungnya terus saja menyala." Gumam Claudine.

Dirinya menatap pantulan cermin, memandang rupanya yang jelita.
Claudine tak mengerti. Kenapa wanita itu datang ke mimpinya dan memberikan kalung ini?

-·-

"Nona, Countess meminta anda untuk menjamu tamu, menggantikan beliau."

Emily berdiri di depan pintu kamar Claudine.
Emily yakin bahwa nona-nya ini masih sedikit bersedih dan takut. Dua hari lalu setelah kepulangannya dari Arvis, Claudine menangis di kamarnya dan berkata dia takut.
Emily tak tahu apa yang terjadi di Arvis, tapi dia harap Claudine tidak berlarut dalam ketakutan itu.

Apalagi suasana berkabung yang masih belum hilang, nyonya Brandt masih merasa kehilangan.
Sepertinya beliau benar-benar mencintai Count Brandt.

"Siapa?" Suara Claudine terdengar dari dalam. Mungkin gadis itu sedang membaca.

"Countess tidak berkata apapun, mungkin beliau ingin anda melihatnya sendiri." Jawab Emily.

Claudine terdiam, lalu menaruh bukunya dan berdiri; keluar dari kamarnya.

Dia menatap Emily yang berada di sampingnya. "Apa ibu masih belum mau keluar kamar?" Tanya Claudine.

"...belum, nona."

-·-

Pintu ruang tamu terbuka, menampakkan sosok gadis cantik dengan heels putih senada dengan dressnya-- masuk ke dalam ruangan.
Wajahnya terlihat tegas dan serius, punggungnya yang tegap itu tertutup oleh rambut panjangnya.

"Selamat siang, tuan--"

Mata Claudine membulat kaget, memandang siapa orang di depannya.
Riette berdiri di sana, dengan senyum cerahnya. Pria itu terlihat gembira.

"Lady," panggilnya pelan.

Angin berhembus, masuk dari jendela lebar yang terbuka. Membuat tirai jendela itu bergerak kesana-kemari seperti adegan romansa klasik.
Aroma petrichor dari Riette seakan memenuhi ruangan, membuat dada Claudine berdegup kencang.

"A-apa yang anda lakukan?"

Pertanyaan Claudine dibalas senyum tipis oleh Riette. Pria itu kemudian duduk di sofa ruangan, meminta Claudine agar ikut duduk di hadapannya.

"Baiklah, tuan Riette. Bilang pada saya, ada apa anda kemari?" Tanya Claudine sambil menghela nafas.

"Saya ingin membicarakan sesuatu yang penting." Kata Riette. Mata cokelatnya menatap Claudine dengan serius dan lembut.

Tight-RopeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang