Suasana di Sodent Kasino terasa hiruk-pikuk. Dentingan gelas kaca berseteru, teriakan penuh kepuasan terdengar, wangi mewah khas parfum-parfum mahal dan campuran asap tembakau menghiasi ruangan megah itu. Sepatu-sepatu hitam pantofel yang mereka kenakan mengkilap sempurna di bawah lampu kristal, tidak perlu ditebak; pasti sepatu-sepatu itu seharga seminggu makan bagi rakyat-rakyat biasa.
Salah satu asap tembakau berasal dari sofa VIP di sudut ruangan, Matthias duduk dengan kaki tersilang, salah satu tangannya merangkul senderan empuk sofa kulit sementara tangan yang lain memegang cerutu yang terbakar. Asap abu menghembus dari hidungnya, fitur wajahnya yang keras itu nampak tidak dalam suasana hati yang bagus, sedangkan mata biru dalamnya memerhatikan sekeliling dengan tatapan seakan bisa memenggal kepala orang kapan saja.
Dari semua orang yang sibuk dengan urusan mereka; berjudi, suara tepuk tangan atau dentingan koin emas, mata birunya menangkap satu wanita. Di seberang ruangan, dengan gaun biru navy dan rambut yang disanggul dalam chignon elegan, tapi wajahnya jauh dari kata elegan. Itu penuh dengan rasa cemas dan tak nyaman.
Tak perlu ditebak, Ruelle lah wanita itu.
Seakan semua yang Claudine atur berjalan sesuai kemauannya, dan Matthias menemuka dirinya mulai tenggelam lagi.
Entah apa yang melahap habis pikiran jernihnya; antara scotch di meja yang tinggal setengah, atau wanita di seberang ruangan itu.
Lalu Theo von Herbert, Baron yang entah darimana datangnya tiba-tiba menarik tangan Ruelle. Matthias menontonnya dari kejauhan, seperti drama teater murahan yang bisa menarik perhatian siapa saja yang melihatnya.
Seperti takdir mempermainkannya, seperti Claudine ada di dalam diri wanita itu. Karena apa?
Apa karena warna rambut mereka hampir mirip? Atau apa?
Bahkan pria ini tidak bisa menemukan jawaban dari pertanyaan yang dia tanya pada dirinya sendiri.
_·_
Angin malam berhembus cukup kencang, mungkin akan turun hujan malam ini.
Berbeda dengan badai yang mungkin menunggu di luar, kamar Claudine nampak nyaman dan hangat dengan beberapa lilin yang menyala. Salah satunya lilin aroma terapi di sudut ruangan.
Senyum tipis terulas di wajah cantiknya, mata biru itu netral menatap sebuah cincin berlian yang terpasang sempurna di jari manisnya, menghiasi kulit pucatnya dengan sempurna.
Itu pemberian Riette. Dia yang memasangnya sendiri di jari manisnya, lalu mengecup punggung tangannya sambil berkata bahwa cincin itu cocok untuk Claudine miliki.
Tanpa sadar pipi bersemu tipis kemerahan, senyumnya belum hilang juga, hingga ketukan di pintu terdengar. Belum sempat Claudine ingin menjawab, pintu kamarnya sudah terbuka.
Ibunya, berdiri di sana.
Nyonya Brandt menatapnya dari ambang pintu, tangannya itu memegang sisi bingkai pintu. Rambutnya masih disanggul, dan jika Claudine ingat, dia tidak pernah melihat ibunya itu dengan rambut tergerai. Baik di kehidupan ini maupun di kehidupan lalu.
Gadis itu segera bangun dari posisi telungkupnya di atas kasur, tangannya merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan. Pun berusaha menyembunyikan cincin yang terpasang di jari manisnya.
Karena nyonya Brandt pasti tahu; bukan Matthias yang memberikan itu.
"Ibu?" Claudine bergumam, mata birunya mengikuti tiap gerak-gerik kecil yang ibunya buat, melihatnya berjalan ke arahnya dan duduk di ujung kasur.
"Putriku..." Suaranya halus, hampir terbawa oleh angin malam. Tangannya naik mengelus rambut Claudine, suatu gerakan yang sangat-sangat amat jarang dia dapat dari ibunya.
Tapi sekarang, di malam ini, ibunya mengelus kepalanya. Seperti selayaknya seorang ibu yang mengasihi putrinya.
Dan itu membuat sesuatu di hati Claudine seakan dipelintir, tanpa sadar dadanya sesak dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Dia sayang, sangat sayang pada ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tight-Rope
Fantasy"Menyerahlah, Claudine. sejauh apapun kau mau kabur dari ku, aku akan tetap bisa menemukanmu." ini tentang Claudine von Brandt, antagonis dalam novel yang kembali mengulang waktu. ⚠️ - alur lambat - fanfiksi dari webtoon - original story by Solche...
