"Ada apa, Claudine?"
Gadis 13 tahun itu kini berada di kediaman Herhardt, di Arvis.
Wilayah yang dirumorkan seperti bagian dari surga.
Arvis, penuh dengan keajaiban dan keindahan alam.
Serta seorang pewaris Arvis, Mahakarya Arvis.
Matthias von Herhardt.
Sekaligus, seseorang yang paling Claudine benci dihidupnya.
Gadis itu terus mengaduk tehnya, mengabaikan percakapan di pesta teh yang digelar nyonya Herhardt untuk merayakan kepulangan Matthias dari akademi militer.
"Aku bosan," kata Claudine.
Elysse--nyonya Herhardt--nampak tersenyum.
Wanita itu terlihat sangat anggun dan berwibawa, duduk dengan seekor anjing putih di pangkuannya.
"Apakah kamu ingin bermain, Claudine?" Pertanyaan Elysse dibalas anggukan pelan oleh Claudine.
Elysse nampak mengarahkan tatapannya pada seorang gadis kecil berambut pirang.
Gadis itu adalah anak angkat dari Bill Remmer; kepala kebun kediaman Herhardt.
"Aku mau bermain dengannya." Kata Claudine sambil menunjuk gadis itu.
Seringai tipis terukir di wajahnya, terlihat merencanakan sesuatu.
"Tapi dia hanyalah anak tukang kebun. Dia tak pantas." Kata Elysse masih dengan senyum anggunnya.
Claudine menggeleng pelan mendengar penuturan Elysse, "tidak, saya tidak keberatan, nyonya." Katanya.
-·-
"Oh? Halo."
Claudine tersenyum pada gadis pirang itu.
Mereka berada di ruang tamu Herhardt, dengan banyak permainan yang telah disiapkan.
Claudine tahu disini dia hanya akan membuang waktu, karna pada dasarnya gadis rendahan seperti si pirang ini tidak mengetahui cara bermain apapun.
"Nama mu siapa?" Tanya Claudine dengan senyum tipisnya.
"Saya Layla Llewellyn."
Kena. Senyum Claudine mengembang lebih lebar, gadis itu berdiri lalu menghadap tepat di depan Layla.
Mata biru Claudine seakan memancarkan cahaya yang merendahkan Layla.
Seakan menginjak-injak si pirang dengan tatapannya.
Gadis ini. Layla Llewellyn, yang telah mengambil semua kebahagiaan Claudine.
Kehidupan sempurna Claudine sebagai bangsawan kelas atas dan calon Duchess of Herhardt menjadi pupus begitu saja karna gadis ini.
Benar-benar seorang simpanan yang tak tahu diri. Itu lah Layla Llewellyn.
"Kau bisa bermain apa?" Tanya Claudine dengan nada remeh.
Wajah Layla nampak gugup. Gadis itu memandang Claudine dengan takut.
"S-saya tidak mengerti, lady." Katanya, ragu.
"Apa kau bisa bermain catur?"
"Tidak."
"Bagaimana dengan piano?"
"Saya tidak pernah belajar bermain piano."
"Kalau merangkai bunga?"
"Saya juga tidak bisa."
Kedua gadis itu tetap terdiam.
Sedari siang sampai matahari mulai berada di ufuk barat, menandakan waktu telah masuk sore.
Claudine menghela nafas kesal, berdiri dan berjalan menuju pintu; mengabaikan Layla yang terlihat bingung.
Sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu, Claudine menoleh dengan tatapan kecewa dan merendahkan.
"Aku benar-benar kesal. Kau membuang waktu. Ternyata lebih baik bermain dengan anak anjing."
Kata Claudine dengan nada merendahkan yang tersirat.
Setelah mengatakan itu, Claudine keluar dari sana.
Mengabaikan Layla yang terlihat akan menangis.
-·-
"Bagaimana dengan gadis itu?"
Suara lembut dari Elysse membuat Claudine menoleh.
Gadis itu memasang wajah murung dan kecewa.
"Saya benar-benar kecewa, Duchess... Layla tidak mengerti apapun, dia benar-benar tak terpelajar." Kata Claudine.
Mendengar hal itu, Elysse terkekeh. "Sudah ku bilang dia tak pantas untuk mu." Perkataan Elysse membuat seringai tipis terukir di wajah Claudine.
"Anda benar," katanya.
Suara langkah kaki dan sepatu kaki kuda terdengar nyaring, membuat kedua nona bangsawan itu menoleh.
Itu adalah Matthias dan kawan-kawan nya.
Sepertinya mereka habis pulang dari berburu.
"Matthias," Panggil Elysse pelan.
Melihat pertumbuhan putranya yang sudah sebesar ini, Elysse sama sekali bangga atas pencapaiannya.
Dia telah melahirkan Mahakarya Arvis.
Matthias von Herhardt.
"Perkenalkan, dia adalah lady Claudine." Kata Elysse.
Mendengar itu, Claudine sontak membungkuk sopan.
Layaknya seorang lady.
Gadis itu nampak anggun dan terpelajar.
Matthias menatapnya dengan datar sebelum mengangguk samar.
Riette, sepupunya nampak mengembangkan senyum lebar.
"Bukankah anda lady Claudine von Brandt? Saya dengar anda adalah anak dari keluarga bangsawan paling bermartabat di Berg. Anda bunga sosialita, ya?" Perkataan Riette membuat Claudine mendongak.
Jelas sekali pipi gadis itu bersemu. Hatinya menghangat saat mendengar pujian dari Riette.
Riette... Pria yang ia cintai setengah mati, sayangnya harus mengorbankan nyawa demi *Berg.
"Tak perlu berlebihan, tuan Riette. Saya belum melakukan debut di pergaulan kelas atas, jadi saya belum resmi menjadi bunga sosialita." Kata Claudine dengan senyum manisnya.
Gadis itu terlihat mirip dengan mawar merah.
"Ah, tentu saja. Anda terlihat sempurna." Kata Riette. Lagi-lagi hal itu membuat debar jantung Claudine mencepat.
"Sudahlah, ayo kita makan malam." Elysse menyudahi pembicaraan singkat mereka.
Matthias, pria itu tak henti melepaskan pandangan dari Claudine.
Seorang bunga sosialita, bangsawan kelas atas?
Sepertinya akan cocok jika bersanding dengan dirinya yang sempurna.
Sang Mahakarya Arvis, Matthias von Herhardt.
-·-
Chapter selanjutnya perkenalan tokoh ya guys!
Stay tune~👋🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Tight-Rope
Fantasy"Menyerahlah, Claudine. sejauh apapun kau mau kabur dari ku, aku akan tetap bisa menemukanmu." ini tentang Claudine von Brandt, antagonis dalam novel yang kembali mengulang waktu. ⚠️ - alur lambat - fanfiksi dari webtoon - original story by Solche...
