𝘼𝙠𝙪 𝙧𝙚𝙡𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙥𝙪𝙣 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪𝙣𝙮𝙖, 𝙙𝙚𝙢𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙡𝙖𝙧𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙠𝙞 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙩𝙧𝙤𝙩𝙤𝙖𝙧-Naya
Kalau di pikir-pikir lagi, banyak kenangan yang tidak tahu harus di...
Hai haii!! Gimana kabar kalian? Maaf yah baru bisa di uploud lagi😭 Nyiapin tugas latihan drama.. hehe
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
~💡~
Recomend song: Memories - Conan Gray
Benar kata orang. Kenangan paling susah di lupakan adalah kenangan ketika hujan. Rasanya ketika hujan turun semua cerita menjadi sangat jelas.
Aku takut apa yang aku lakukan sekarang menjadi pemicu hal itu terjadi.
Berjalan di tempat seperti biasa. Dengan tiba-tiba hujan itu turun.
"Hujan, neduh duluu," ajakku.
"Aku bawa payung. Coba ambil di tas." Dia memberikan punggung tasnya, dan aku membuka tas itu dan mengambil payung.
"Lanjut jalan bang?"
"Lanjut aja." Dan aku membuka payung itu. Setelah beberapa langkah ia mulah merasa tidak enak.
"Nay, malu nay. Di liatin orang," ucapnya. Banyak di pinggiran jalan orang-orang yang sedang meneduh orang itu memperhatikan kita. Yaps, aku sedang berbagi payung dengannya. Tangannya yang memeluk helm fullface jadi aku yang memayunginya.
Tadinya, aku berbagi payung tidak ada pikiran untuk modus or semacamnya. Tapi memang darurat. Masa aku sendiri yang pake payung terus dia engga? Ini pun payung punyanya. Kalau pun itu bukan Adrian, aku pasti melakukan hal yang sama.
"Neduh aja yuk? Tuh di warung itu," ajaknya, aku mengikuti.
Aku menyimpan payung di depan. Hujan semakin deras dan angin yang menyerupai kabut di pagi hari.
"Mie ayam enak kayanya," celotehnya. Di depan sana ada supermarket dengan mie ayam yang memang suka nangkring di sana.
"Mu beli bang?" Tanyaku. Dia mengangguk. "Tapi masih hujan."
"Bentar lagi juga raat keknya," ucapku.
Benar saja, tak lama dari itu akhirnya hujan mulai mereda. Tapi tak terlalu reda. Jadi kita masih memakai payung untuk menyebrang. Setelah sampai, ia langsung pesan, "mau ga nay?" Tanyanya. Aku menggeleng.
"Aku ke alfa ya."
"Yaa."
Aku pun masuk ke alfa dan membeli 2 susu. Lebih tepatnya hanya ingin merecehkan uang besar. Ya tidak mungkin aku membayar angkot memakai uang 100 ribu.
Setelah itu aku keluar dan melihat dirinya yang tengah duduk sambil menyantap mie ayam. Kita berbincang ringan sampai hujan mulai mereda.
Kita melanjutkan perjalanan pukang tanpa menggunakan payung lagi.
"Payungnya bawa aja sama kamu. Bisi di sana hujan," katanya.
"Gak akan. Aku masukin ya payungnya. Bisi lupa kalau aku pegang." Ia memberhentikan langkahnya, dan aku memasukan payung itu ke kantongnya. Namun dengan tidak sengaja aku memasukan susu yang aku beli tadi di alfa. Setelah mulai jalan aku baru teringat.