𝘼𝙠𝙪 𝙧𝙚𝙡𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙥𝙪𝙣 𝙬𝙖𝙠𝙩𝙪𝙣𝙮𝙖, 𝙙𝙚𝙢𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙡𝙖𝙧𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙠𝙞 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙩𝙧𝙤𝙩𝙤𝙖𝙧-Naya
Kalau di pikir-pikir lagi, banyak kenangan yang tidak tahu harus di...
Hay hayyy! Forgive me karena baru up sekarang😭🙏 sibuk bet gue cuyy, (lebih tepatmya so sibuk) biasalah bergelud ria dengan UAS😔 menyedihkan bukan. Hik hik. Gapapa aku usahakan up di gempuran UAS ini, sooo...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Recomend song Serana - For Revenge
~💡~
"Nay, kamu nonton twingkling watermelon ga?" Tanya Widya, aku mengangguk. Tentu aku menonton, itu drama korea yang cukup membuatku menangis tersedu-sedu.
"Itu yang namanya RRRRAAMMEEEEE BANGETTTT! SEBANGETT ITUUU!" aku menyutujui pendapat Widya.
"Kasian sama eun-gyeol aku mah, Wid. Dia harus sabar ngadepin tantruman bapaknya." Kataku. Kita tertawa.
Twingkling watermelon itu drama korea yang cukup konflik dari segi cerita-menurut padanganku. Mungkin karena aku lebih suka melihat orang memakai bahasa isyarat. Seperti drama korea Tell me that you love me. Untuk twingkling watermelon juga membumbui cerita time travel. Seperti My perfect stranger. Jadi ada 2 yang aku suka dalam satu drama. Itu yang membuatku tertarik nonton twingkling watermelon.
"Bakal seru ga sih kalau time travel beneran ada." Aku mengangguk menyesetujui.
"Kalau seandainya waktu bisa berputar ke masa lalu, apa yang kamu inginkan?" Katanya, dan aku termenung mengingat hal yang aku inginkan.
"Pulang sekolah waktu itu."
"Maksudnya?"
Aku tersenyum, sebelum pada akhirnya aku kembali bersuara, "Aku ingin adegan pulang sekolah waktu itu terulang. Aku bisa seleluasa itu buat ngajak dia pulang bareng. Saling tertawa, melemparkan lelucon, cerita panjang lebar sambil berjalan di bawah sinar matahari sore hari."
"Ya kalau gitu ... Kenapa ga tinggal ajak lagi aja dia buat pulang bareng?"
"Itu yang selalu aku inginkan, Wid, tapi sayangnya ... kita udah ga bisa-" aku menjeda ucapanku sebelum pada akhirnya kembali bersuara.
"Aku menyukainya sendirian, mencintainya sendirian, berjuangnya sendirian, cemburunya sendirian, sedihnya sendirian, lalu aku mengakhirinya sendirian dan sekarang aku melupakannya sendirian. Gak adil yah?" Saat ini air mataku sudah jatuh membuat genangan air di pipi.
"Nay..."
"Gapapa, lagian aku udah merenggut dia dari orang yang seharusnya. Aku ga pantas untuk dia, Wid."
"Memang. Kamu ga pantas buat dia Nay." Aku menoleh padanya melihat sorot mata Widya yang serius.
"Kamu ga pantes buat dia yang gatau arti feedback. Karena kamu itu terlalu sempurna Nay, apa-apa ngalah. Apa-apa bela-belain pulang bareng malem-malem karena kamu tau sama issue korban penculikan tepat di malam hari itu kan? Nay, kamu terlalu berharga untuk menyukai orang yang ga suka kamu balik. Jangan buang energi kamu buat manusia-manusia tidak punya hati itu, ya?" Aku tersenyum, ia memelukku sehingga semua air mata yang sudah lama di pelipis mata akhirnya terjatuh dengan deras.