Jam tujuh kurang, Nanda sudah siap-siap berangkat. Motornya masih dipanaskan, Nanda masih pakai sepatu. Hari ini ada olahraga jadi ia bawa sepatu tambahan dan disimpan di bawah jok motor. Bekal sudah masuk tas, seragam batiknya juga sudah masuk tas. Dari rumah pakai pakaian olahraga dan jaket saja.
"Nanda, jangan lupa jemput Nugi dulu ya?"
"Sip, Yah. Rumahnya yang dulu rumah Pak Sugeng itu kan?"
"Iya, masih inget kan? Pokoknya di pinggir gang banget, warna ijo toska kalo nanti kamu bingung."
"Sip. Sip." Nanda bangkit, ia panggul tasnya. "Berangkat ya."
"Hati-hati."
"Buu, aku berangkat yaa~"
"Iyaa, hati-hati Kaak."
"Daah Gilang~" Nanda acak-acak rambut adiknya yang sudah mengembang bagai singa sejak bangun tidur tadi. Ah, hari ini Gilang libur, makanya jam segini belum mandi. Curang banget bisa libur. Nanda juga mau dong.
Masih terdengar suara adiknya yang teriak 'Dadaah, dadaah~' di pagar. Nanda sekadar melirik dari spion dan senyum-senyum lucu. Adiknya memang lucu, walau kadang usil, tapi tetap lucu buat Nanda.
Dari rumah, Nanda tinggal lurus saja sampai mentok gang, lalu belok kanan yang dimana ada dua jalan, jalan di selah kiri dan kanan. Nanda pilih jalan yang di kiri, karena katanya rumahnya memang ada di pinggir gang. Dari jauh, Nanda sudah bisa lihat sosok Nugi. Syukur deh sudah nunggu di depan rumah, jadi Nanda tidak perlu repot-repot manggil kan? Hehe.
"Yuk."
Nugi, si anak baru kelas sepuluh ini mengangguk, ia terima helm dari Nanda. Setelah pakai, langsung naik ke boncengan.
Canggung, jelas. Maklum hari pertama, baru kenal juga.
"Gi?"
"Iya Kak?"
"Kalo misal ngomong sesuatu, agak keras ya? Takut gue gak denger."
"Oh? Oke, Kak."
Nanda kan juga harus antisipasi. Kalau dengan teman-teman yang lainnya sih mereka sudah khatam, Nugi ini kan baru. Tidak begitu tau juga soal kondisi telinga Nanda. Yang pakai alat bantu dengar memang hanya telinga kiri, tapi bukan berarti yang kanan bisa bekerja sempurna, telinga kanannya juga ada kurangnya meski tidak sekurang yang kiri.
Aah... Nanda jadi ingat, dulu ia pernah digosipkan sombong oleh kakak kelas. Hanya karena saat disapa Nanda abai saja. Padahal Nanda tidak dengar dan suasana sedang ramai. Dari sana Nanda jadi suka antisipasi, kadang menyapa duluan sebelum datang gosip serupa lagi. Walau hanya dengan anggukan kepala saja sih.
Tidak banyak obrolan sepanjang jalan ke sekolah. Nanda fokus pada jalan, Nugi juga hanya diam memperhatikan jalan. Kemarin Nugi masih diantar ayahnya, karena kemarin hari pertama masuk sekolah, hari ini sudah diserahkan pada tetangga.
Nanda juga agak heran sebenarnya, kenapa sampai harus banget dititipkan begini? Dulu rasanya Nanda saat kelas sepuluh masih oke saja ke sekolah naik busway, Nanda juga dulu hitungannya ansos kok, temannya hanya Nando dan Marcel, sebelum kenal Bima, Sena dan Keval.
"Emang tadinya Nugi sekolah dimana Bu?"
"Di negri juga katanya, cuma ya pindah sekolah, sekalian pindah rumah."
"Ooh.. kenapa emang Bu?"
"Kenapa ya?" gelagat ibunya ini justru malah terlihat ragu untuk memceritakan lebih jauh tentang alasan kenapa pindan dan kenapa bisa sampai minta tolong temani ini.
Nanda juga tidak mau memaksa sebenarnya, ia kepo, tapi kalau ibunya tidak mau cerita ya tidak papa. "Ayahnya Nugi tuh atasannya Ayah ya?"
"Iya, bos-nya gitu lah. Kan Ayah nih GM, nah atasannya lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonflower (BL 18+) [COMPLETE]
Acak❝𝑻𝒉𝒆 𝑭𝒂𝒕𝒆𝒔 𝒘𝒊𝒍𝒍 𝒇𝒊𝒏𝒅 𝒂 𝒘𝒂𝒚.❞ Orang bilang, semua akan indah pada waktunya. Entah kapan waktunya juga tidak tau. Pun, memang kata-kata begitu masih berlaku? Mungkin memang hanya sekadar kata-kata saja. . . . ❀ 𝕆ℝ𝕀𝔾𝕀ℕ𝔸𝕃 ℂℍ𝔸ℝ...
![Moonflower (BL 18+) [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/366562606-64-k971978.jpg)