21

1.7K 173 87
                                        

Dan... yup, Nanda jadi sering pulang. Bisa dua minggu sekali Nanda pulang. Atau begitu ada kesempatan pulang, ya pulang. Alasan pulangnya bukan lagi soal permintaan Nina, tapi memang Nanda saja yang bucin mau ketemu Nugi terus.

Saat Nugi akhirnya libur semester pun Nanda menyempatkan pulang untuk jemput Nugi dan mereka kesana sama-sama. Waktu itu lumayan lama juga Nugi disana, semingguan. Banyak jalan-jalannya, kadang berduaan Nanda, kadang ramai-ramai dengan Medioker. Seru lah. Meski saat Nanda kuliah Nugi hanya di kosan Nanda saja sih, leha-leha main game atau nonton YouTube.

Saat giliran Nanda yang libur semester, tentu pulang. Tiap harinya menjemputi Nugi setelah menjemput Gilang. Atau malah bertigaan jalan-jalan sepulang sekolah Nugi. Kadang Nugi yang menginap di rumah Nanda, kadang gantian Nanda yang ke rumah Nugi. Pokoknya merealisasikan yang sempat terabaikan dua kali liburan semester lalu.

Tapi ini Nugi juga sudah kelas 12, sedang pusing-pusingnya memikirkan mau kuliah dimana. Gunadi menawarkan kuliah di Bandung juga dengan Nanda, tapi Nugi yang tidak mau, kejauhan dari rumah katanya. Akhirnya pilih-pilih yang di kota ini saja. Meski banyaknya swasta sih. Tapi ya tidak apalah, PTN dan PTS sama saja.

Untuk jurusan, Nugi tidak mau yang berat-berat di kepala. Tidak mau jurusan yang seperti Nanda. Meski Nugi juga anak IPA, tapi tidak mau kuliah yang masih berhubungan dengan MIPA. Pusing. Nugi tidak sanggup. Setelah mengobrol panjang dengan Gunadi, Nugi diberi pilihan, antara Pendidikan Bahasa terserah bahasa apa, atau Manajemen seperti Gunadi dulu.

Nugi bingung, namun setidaknya sudah terarah mau kemana. Tidak lagi harus memilih salah satu dari banyaknya jurusan perkuliahan.

"Terus jadinya lo pilih apa?"

"Manajemen kayaknya, ngikutin Om Adi."

"Hmm."

"Susah gak ya?"

"Kalo rajin kuliah sama ngikutin dari awal sih mungkin nggak ya Gi. Ini sependek pengalaman gue aja. Gue juga dulu sempet mikir gue nih bundir ngambil Biologi, tapi pas dijalanin, gue bisa ngikutin yaa kadang ada susahnya sih, tapi ya bisa. Soalnya kayak, dari matkul A ke B ke C tuh nyambung gitu Gi."

"Ooh gitu."

"Lo kenapa gak ambil yang bahasa aja? Bahasa Inggris kek kayak Marcel."

"Pengen sih, cuma kalo ngambil bahasa tuh kayak nanti banyak praktik ngomongnya gitu gak sih? Apalagi bahasa asing."

"Ya iya.. terus?"

"Ya gue malu lah Nan."

"Euh." Nanda sontak melengos, sampai ia dorong kepala Nugi yang padahal lagi asik rebahan di lengan Nanda. "Kuliah tuh pasti bakal banyak ngomong. Kayak, dikit-dikit presentasi, dikit-dikit presentasi. Kita tuh dituntut aktif kalo gak mau ketinggalan."

"Iya ya?"

"Iya lah."

"Hmm.." Nugi hanya mengangguk saja, mencoba mencerna, seraya ia kembalikan kepalanya ke posisi semula rebahan di lengan Nanda. "Eh Nan, besok lo baliknya malem kan?"

"Iya, santai lah, pake travel kok. Kenapa?"

"Siangnya kita ke kafe kucing yang dulu itu yuk?"

"Boleh. Lo beneran mau nyari temen buat Melon?"

"Iya. Eh tapi bakal berantem gak ya? Melon kalem sih, apalagi semenjak abis disteril. Mana makin gembrot. Bener aja namanya Buntelan Melon."

"Nanti coba kenalin lah, lo mau adopt yang kitten apa gimana?"

"Kitten sih maunya, ya domestik aja kayak Melon. Tapi kalo ada yang udah dewasa juga gak papa."

"Liat besok deh. Lagian kan gak bisa langsung adopt juga. Itu gue pas mau adopt Melon lumayan lama loh, kayak gue bener-bener ditanyain sama mereka, serius adopt gak? Gitu. Gue kayak.. lah ini gue adopt buat kado, gimana bilangnya ga?"

Moonflower (BL 18+) [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang