"Nan."
Dipanggil sekali, si pemilik nama masih diam, serius dengan sarapan. Sampai harus dicolek-colek adiknya dulu baru Nanda menoleh, mambaca isyarat adiknya yang nunjuk-nunjuk ke arah ayah mereka.
"Iya? Kenapa, Yah?"
"Gak dipake?"
"Oh. Lupa, tadi langsung turun."
Ibunya menepuk bahu Nanda, buat ia menoleh dan membaca gerak bibir ibunya yang memberi titah, "Ambil dulu gih, sana."
"Oke, oke." Nanda hanya terkekeh-kekeh saja. Ia bangkit dan langsung melenggang setengah berlari menaiki anak tangga. Tadi memang lupa, ingatnya begitu sampai di bawah di meja makan.
Sebenarnya Nanda masih bisa dengar, tapi tidak begitu jelas kalau tidak pakai alat bantu dengarnya. Pun, ia juga malah terbiasa baca gerak bibir, jadi saat pakai atau tidak pakai tetap baca gerak bibir. Untung keluarganya ini kalau bicara dengan Nanda selalu pelan-pelan, jadi Nanda bisa sambil baca juga dengan perlahan.
Saat kembali ke meja makan, ibunya sudah ikut duduk, Nanda juga langsung duduk lagi melanjutkan makannya yang tadi. Kalau hari-hari biasa, keempatnya selalu makan bersama, karena setelah itu semuanya punya kegiatan masing-masing. Beda cerita kalau akhir pekan, jam bangun tidurnya saja sudah beda-beda, apalagi Nanda dan adiknya.
Kalau masih hari-hari biasa kan, ayahnya pergi kerja, ibunya juga berangkat ke toko bunganya di ruko depan komplek, Nanda sekolah, dan adik lima tahunnya juga berangkat ke sekolah. TKnya tidak jauh, masih dekat rumah, biasanya Gilang diantar ibunya dulu, baru ibunya ke toko, pulangnya pun begitu, ibunya nanti jemput Gilang ke sekolah, lalu ikut ke toko.
Sebenarnya di toko bunga ibunya ada tiga pegawai lagi, ibunya Nanda tidak ke toko pun tidak masalah, cuma berhubung ibunya Nanda ini oraangnya ulet, jadi lebih memilih ke toko, merangkai bunga, mengurusi pesanan buket dan lain-lain daripada diam-diam saja di rumah. Sepi juga lagian, suami kerja, anak-anak sekolah. Jadi ia ke toko saja.
Jam tujuh, terdengar pintu pagar dibuka. Bukan karena ayahnya mau mengeluarkan mobil untuk kerja, mobilnya sudah dikeluarkan sejak subuh tadi. Pintu pagarnya dibuka karena Nando sudah tiba. Dengan entengnya ia nyelonong masuk, langsung salim tangan ayahnya Nanda. Padahal Nandanya masih di kamar lagi siap-siap pakai dasi.
"Motor Nando aki-nya soak Om, baru mau dibawa servis nanti pulang sekolah. Semalem udah kemaleman, bengkelnya keburu tutup."
"Ooh, sekalian aja si Nanda diajak. Kayaknya dia juga udah lama tuh belum servis motor lagi."
"Nanti Nando aja deh, Om."
"Nando, mau dibawain bekel gak? Masih ada gepuk nih. Mau yaa? Sekalian sama Nanda. Ibu siapin ya Nan?" dari dapur, ibunya Nanda bersuara agak tinggi.
Nando sekadar cengar-cengir saja ditawari bawa bekal. Ya pasti mau lah, masa ditawari bawa makan malah ditolak? Ayahnya Nanda ini juga hanya senyam-senyum, menyuruh Nando ke dapur sementara ia berangkat kerja.
Bekalnya benar-benar disiapkan, dua kotak bekal isi nasi, daging gepuk, tumis toge tahu dan jeruk. Yakin pasti kenyang, mana hampir 100% nutrisi terpenuhi. Banyak bersyukur Nando nebeng Nanda hari ini, berbonus bekal. Hehe.
"Lah? Kapan datengnya lo?"
"Barusan. Nih." Nando sodorkan bekal milik Nanda. "Bokap lo nyuruh lo ikut servis motor sama gue nanti."
"Hmm, oke lah." kepalanya mengangguk-angguk, sambil mengintip isi bekal yang disiapkan ibunya. "Sendoknya mana Bu?"
"Oh iya. Lupa Ibu, ambil sendiri aja ya Kak. Ibu mau liatin Gilang nih, udah jam segini. Kalian juga mau berangkat kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonflower (BL 18+) [COMPLETE]
Random❝𝑻𝒉𝒆 𝑭𝒂𝒕𝒆𝒔 𝒘𝒊𝒍𝒍 𝒇𝒊𝒏𝒅 𝒂 𝒘𝒂𝒚.❞ Orang bilang, semua akan indah pada waktunya. Entah kapan waktunya juga tidak tau. Pun, memang kata-kata begitu masih berlaku? Mungkin memang hanya sekadar kata-kata saja. . . . ❀ 𝕆ℝ𝕀𝔾𝕀ℕ𝔸𝕃 ℂℍ𝔸ℝ...
![Moonflower (BL 18+) [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/366562606-64-k971978.jpg)