Pulang dari Jogjanya sore mejelang malam, setelah satu kali lagi wisata ke pantai, lalu ke pusat oleh-oleh dan setelah itu pulang. Di perjalanan mampir dulu untuk makan malam. Makan malam yang benar-benar malam karena baru makan jam sembilan. Jam sebelas malam, baru lanjut jalan pulang.
Diperkirakan sampai di area sekolah lagi besok pagi, sekitar jam lima atau jam enam. Bisa lebih cepat, bisa lebih lambat. Tergantung perjalannya, macet atau lancar. Yang jelas, nanti pihak guru akan memberi kamar pada orangtua kalau mereka sudah akan tiba. Karena murid-murid pasti pada tidur, lelah kemarin habis main di pantai lama-lama.
Sayangnya Nanda tidak bisa tidur, ia yakin ini efek kopi yang ia minum kemarin sore. Teman sebangkunya sudah berganti Bima, karena Yogi yang entah ia pindah kemana. Di jalan pulang ini sudah pada mencar-mencar, termasuk Bima yang jadi teman di sebelah Nanda.
Bima tidur, pulas. Nanda hanya terus-terusan memejamkan mata mencoba tidur, tapi ya tidak bisa. Akhirnya bengong lagi memperhatikan jalan yang gelap. Sesekali ada mobil kecil mendahului busnya, ada motor juga. Nanda pikir yang begitu bisa membantunya tidur, tapi ya tidak.
Mungkin baru jam tiga, atau malah setengah empat Nanda baru tertidur. Itu pun setelah masuk tol, yang isinya hanya kendaraan roda empat semua. Tidurnya baru sebentar, rasanya Nanda baru memejamkan mata saat ia dengar Bima menjawab telpon kalau ayahnya sudah menunggu di sekolah.
Kantuknya hilang, berganti sakit kepala hebat karena kurang tidur. Kalau begini Nanda menyesal kemarin minum kopi, harusnya ia jajan milktea saja.
"Bokap lo udah di sekolah?"
"Udah. Lo yang jemput siapa?"
"Bokap aja paling." jawab Nanda pelan, seraya ia ambil handphonenya dan mengecek pesan dari ibunya. Dan ternyata yang jemput Nanda semuanya alias ayah, ibu, dan adiknya. Heboh banget sampai semua ikut, eh tapi Nanda sudah kangen adiknya sih.
Sekitar jam setengah tujuh, saat matahari sedang hangat-hangatnya menyinari, bus satu sampai tujuh baru tiba di lingkungan sekolah. Sudah jelas amat ramai dan bikin macet, karena berbarengna dengan jam kerja dan orang-orang yang menjemput para siswa.
Nanda hanya berpamitan ala kadarnya pada teman-teman Medioker, sakit kepalanya tidak bisa ditahan dan ingin segera sampai rumah agar bisa cepat tidur. Kalau boleh, nanti Nanda mau minum obat sakit kepala saja. Kalau boleh itu juga, masalahnya di keluarga Nanda agak keras soal obat-obatan warung begitu.
"Kakaaak~!" Gilang yang paling pertama sadar akan kehadiran Nanda, ia kesenangan sendiri sampai ingin melepas gandengan ayahnya dan lari menyusul si kakak. Tapi ya ditahan, Nanda bawa banyak barang soalnya.
"Akhirnya sampe juga."
"Hmm~" Nanda sekadar menyahut, tersenyum lemas membiarkan ibunya mengusapi pipi Nanda. "Kepala aku sakit banget Bu, semalem gak bisa tidur gara-gara minum kopi."
"Loh? Kok tumben?" dan Nina hanya dapat jawaban Nanda yang angkat bahu. "Mau ke dokter?"
"Nggak ah, mau tidur aja. Minum obat sakit kepala aja nanti. Ya? Kalo ke dokter dulu lama lagi, mau cepet-cepet tiduran."
"Iya deh iya." mengalah saja, kasihan juga Nina pada anak sulungnya. "Yuk. Mas, tolong tas Kakak."
"Iya ini aku bawa kok."
Nina cekikikan. Gunawan tadi sempat diabaikan karena Nina seperti memonopoli Nanda, padahal kan yang kangen dengan Nanda bukan Nina dan Gilang saja, tapi Gunawan juga.
Tas baju dan tas oleh-oleh milik Nanda disimpan di bagasi mobil, Nanda ikut membantu karena kan itu tasnya bukan tas ayahnya. Meski memang sakit kepalanya ini buat Nanda makin gila. Mana kini malah terasa lapar, bubur ayam enak sepertinya, di rumah juga mungkin ada masakan ibunya. Haaahh jadi Nandi mau makan atau mau tidur?
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonflower (BL 18+) [COMPLETE]
Random❝𝑻𝒉𝒆 𝑭𝒂𝒕𝒆𝒔 𝒘𝒊𝒍𝒍 𝒇𝒊𝒏𝒅 𝒂 𝒘𝒂𝒚.❞ Orang bilang, semua akan indah pada waktunya. Entah kapan waktunya juga tidak tau. Pun, memang kata-kata begitu masih berlaku? Mungkin memang hanya sekadar kata-kata saja. . . . ❀ 𝕆ℝ𝕀𝔾𝕀ℕ𝔸𝕃 ℂℍ𝔸ℝ...
![Moonflower (BL 18+) [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/366562606-64-k971978.jpg)