Ayyara Zivanna arkanaya adalah seorang cewek beruntung yang mendapatkan hati seorang Deiro Alghava denathan. Hubungan mereka adalah hubungan yang orang orang impikan. Namun ada satu hal yang menjadi benalu dalam hubungan mereka. Yaitu restu orang tu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . "Kamu adalah endelweiss dalam Pekarangan locitaku." . .
Sore ini Ayyara dan Ghava tengah duduk di atas baita yang berlayar diatas danau. Tangan mereka saling menggenggam, pandangan mereka tertuju pada objek yang sama.
"Seeng, kamu tau nggak?" Tanya Ghava memulai pembicaraan.
"Tau apa?" Ayyara beralih menatap Ghava.
"Aku ada sesuatu buat kamu." Ghava mengeluarkan sebuah kotak dan memberikannya kepada Ayyara yang terlihat kebingungan.
"Apa ini?"
"Buka aja, tapi jangan ketawa ya." Pesan Ghava kemudian memalingkan wajahnya.
Ayyara membuka kotak tersebut. Dan ada lampu tidur kecil berbentuk panda di dalamnya. Mata Ayyara berbinar melihat itu. "Kamu suka nggak?" Tanya Ghava.
"Aku selalu suka sama apapun, asalkan itu pemberian kamu seeng." Jawab Ayyara lembut.
"Nanti setiap tidur, kamu harus nyalain lampunya. Biar kamu selalu inget sama aku. Jangan sampai rusak ya, nanti kalo rusak kamu bilang sama aku, nanti aku beliin yang baru." Pesan Ghava lembut kemudian membawa Ayyara dalam dekapannya.
"Kamu beli dimana? Bagus banget." Puji Ayyara terus memandangi lampu tersebut.
"Itu aku beli di toko.... Aaaggh, lupa nama tokonya. Pokoknya kemarin pas nganter Chella beli perlengkapan sekolah aku liat lampu itu terus keinget kamu. Jadi yaudah aku beli aja buat kamu." Jelas Ghava panjang lebar.
Sedangkan Ayyara hanya manggut manggut saja. Ghava menghela nafas panjang.
"Seeng, kamu tau nggak?" Tanya Ghava iseng.
"Apa? Kan kamu belum ngasih tau." Jawab Ayyara merasa penasaran.
"Kamu itu bagaikan danastri, yang turun dari basanta. Membawa cinta dan kandarpa. Hadirmu memang sederhana, namun membawa ribuan hasra pada locita.
Netramu sehangat sandykala, Senyumu seindah bianglala yang penuh rona. Hatimu selembut pawana. Tak dapat ku pungkiri, Asmaralanamu memanglah dikara. Hingga akaramu selalu hadir Dalam alam bawah sadarku." Setiap kalimat yang Ghava ungkapkan tadi mampu membuat kupu-kupu yang ada dalam diri Ayyara berterbangan kemana-mana.
Ia menatap dalam mata Ghava dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
"Makasih." Ucap Ghava menggenggam tangan Ayyara.
"Kan harusnya aku yang bilang makasih."
"Makasih udah mau jadi cintanya aku, makasih udah mau jadi kesayangan aku, makasih udah mau jadi obat dari segala luka lara ku. Makasih atas segala perhatian kamu selama ini ke aku. Intinya aku sayang dan cinta sama kamu." Ghava mengusap punggung tangan Ayyara.