Part 12

955 94 8
                                        

Baca lebih cepat di karyakarsa
Adiatamasa

💜

Monnie terbangun dari tidurnya dan merasa masih sedikit mengantuk. Tapi, ia harus bangun sekarang karena saat ini ia merupakan pekerja di rumah Wyne. Wanita itu segera mandi dan berpakaian. Ia melihat sarapan sudah disiapkan di meja. Ia segera menghabiskannya sembari menonton acara televisi.

"Monnie!" Wyne masuk begitu saja tanpa permisi.

Monnie meletakkan sendoknya dengan tenang, menyeka mulut dan tersenyum."Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"

"Ya, dimana hasil yang aku minta." Wanita itu duduk di kursi yang kosong.

Jam kerja bahkan belum dimulai, tapi, Wyne sudah datang meminta. Namun, karena wanita itu adalah Bos maka ia bisa bertindak sesuka hati. Monnie melangkah ke meja kerja dan mengambil hasil pekerjaannya dalam lembaran kertas. Setelah itu, Monnie kembali duduk dan menghabiskan sarapannya.

Wyne tersenyum sangat puas."Kau bisa melanjutkan isinya sejauh yang kau bisa. Aku akan memeriksanya jika kau sudah selesai."

"Kenapa seperti itu, Bu? Ibu harus memeriksanya setiap bab agar bab selanjutnya tidak terjadi plot hole. Merevisinya juga akan menjadi lebih mudah,"jelas Monnie meskipun ia tahu Wyne tidak begitu mengerti akan hal tersebut.

"Aku harus menyelesaikan novelku selanjutnya."

"Oh Ibu akan menerbitkan novel baru, ya." Monnie pura-pura kaget. Padahal novel terbarunya sama sekali tidak semenarik itu. Isinya sama sekali tidak bernyawa. Bukunya laku keras hanya karena namanya yang sedang melambung tinggi.

"Iya judulnya Ti amo Vedovo,"ucapnya dengan wajah semringah.

Raut wajah Monnie berubah seketika. Itu sama persis dengan judul novel yang pernah ia buat. Hanya saja ia menuliskannya di buku catatan dan tertinggal di dalam rumahnya yang terbakar itu. Tapi, bisa saja beberapa Penulis memiliki judul yang sama."Judul yang bagus, Bu."

"Aku sangat tidak sabar. Aku hampir kehilangan buku catatanku. Tapi, untunglah sudah ketemu." Hari ini Wyne sangat bahagia.

Tangan Monnie mengepal. Ia jadi teringat dengan buku catatannya. Mungkinkah Wyne mengambil bukunya yang hilang juga. Ia ingin tahu buku catatannya seperti apa, tetapi, ia tidak berani bertanya. Ia tidak ingin dicurigai."Semoga berjalan dengan lancar. Saya akan mengerjakan buku ini dengan baik."

"Oh iya, Monnie judul buku yang sedang kau kerjakan adalah Anhedonia. Ingat, Anhedonia. Kau cari tahu sendiri artinya apa dan kembangkan imajinasimu dengan baik,"kata Wyne tanpa melihat wajah Monnie.

Monnie terperanjat. Tubuhnya membatu menatap Wyne tak percaya. Bagaimana wanita itu bisa tahu judul bukunya yang ketiga. Bukankah wanita itu sangat berusaha mendapatkan  apa yang ia miliki. Wyne bahkan tidak memiliki bakat, tetapi, memaksakan dirinya seperti Ilona. Monnie menatap Wyne dengan segenap rasa kebencian.

"Kalau begitu, aku pergi ke kantor dulu. Jika ada sesuatu yang ingin kau tanyakan, silakan hubungi aku,"kata Wyne dengan tatapan sombongnya.

"Baik, Bu."

Wyne menghentikan langkah dan menatap Monnie lagi."Jangan pergi tanpa izin dariku "

"Iya, Bu."

Monnie menggeram."Ternyata kau seobsesi itu padaku, Wyne. Kukira kau tidak sejahat ini. Ternyata kau masih berusaha mendapatkan semua jejakku. Tapi, ini akan mempermudahku melakukan semuanya."

Monnie merapikan meja sarapannya, lalu kembali ke meja kerja. Ia menuliskan beberapa bab. Sebelum ia mulai bekerja, ia merekam dirinya sedang menulis cerita itu. Dengan sengaka ia menampakkan wajah dan layar. Mungkin suatu saat akan berguna.

Setelah lim jam berlalu, Monnie merasa sangat lelah. Ia pergi ke kamar dan melihat penampilannya di kaca. Bukankah saat ini ia sanhat berantakan, oleh karena itu Wyne menatapnya seperti meremehkan. Untuk menarik perhatian Hide, maka ia harus berpenampilan menarik.

Monnie menghubungi Wyne untuk meminta izin keluar. Wanita itu mengizinkan setelah melihat sudah banyak yang dikerjakan oleh Monnie.
Monnie pergi ke mal untuk membeli pakaian bagus dan tak lupa ke salon. Ia juga merawat kukunya agar terlihat bagus. Uang yang diberikan Willy cukup banyak, lebih dari cukup untuk mempercantik diri.

Setelah penampilannya berubah menjadi cantik dan cukup berbeda, ia menemui Bibi yang sedang menunggunya di sebuah tempat makan. Bibi tersenyum penuh arti melihat Monnie.

"Cantik!!"puji Bibi.

"Aku harus cantik dan wangi." Monnie mengibaskan rambutnya,"untunglah aku punya tabungan, jadi, aku bisa mengupgrade diri ini."

"Jika Willy melihatmu, dia pasti memaksamu menikah dengannya." Bibi terkekeh.

"Bagaimana dengan pesananku?" Monnie menagih janji Bibi untuk menyiapkan beberapa pakaian. Mungkin setelah ini ia akan sulit untuk pergi keluar lagi. Wyne pasti tidak mengizinkannya pergi terlalu sering.

"Ada~" Bibi menyerahkan paper bag yang sangat besar,"dress seksi, gaun pesta, baju dugem, baju compang-camping, semua ada."

"Thanks, kau memang selalu bisa kuandalkan." Monnie sangat bangga dengan sahabatnya itu. Selalu ada dalam suka dan duka. Ia akan memberikan hadiah padanya saat misinya selesai.

Bibi menopang dagu dengan tangannya."Tapi, aku merasa kesepian."

"Sibukkanlah dirimu, Bi." Monnie meneguk minumannya,"Oh ya~mereka masih saja pergi ke rumahku."

"Rumah mana, say?"

"Rumah yang terbakar. Mereka bahkan menemukan buku catatanku, ya, aku tidak tahu seperti apa kondisinya. Tapi, Wyne berniat menerbitkannya. Dia sangat bersemangat." Monnie mengaduk minumannya dengan raut wajah kecewa.

"Untuk apa mereka ke rumahmu itu?"

"Mencari karyaku!"

"Menjijikkan sekali nenek sihir itu." Bibi mendengkus."Seharusnya dirubuhkan saja. Dengan begitu tidak ada yang akan datang lagi. Rumah itu dikenal angker karena kisahnya. Tidak ada yang berani mendekat."

Monnie tahu ini sudah sangat terlambat untuk bertindak, tapi, ia tidak menyangka sudah bertahun-tahun berlalu Wyne masih saja mencari jejak peninggalan Ilona. Monnie memegang tangan Bibi."Bisakah aku meminta tolong padamu?"

"Apa pun, cintaku."

"Tolong katakan pada Willy untuk merubuhkan rumahku. Kita butuh alat berat,"kata Monnie dengan serius.

"Jika kau mengatakannya akan lebih mudah, Monnie. Dia akan selalu mendengarkanmu."

Monnie menggeleng kuat."Tapi, aku tidak mau ada jejak di ponselku. Lagi pula aku sedang tidak ingin bicara padanya."

"Aku akan mencoba,tapi, bukankah sebaiknya kita lakukan sekarang?" Bibi terkekeh sambil mengambil ponselnya. Ia menghubungi Willy. Setelah tersambung, ia menyerahkan pada Monnie agar berbicara.

"Dasar kau ini!" Monnie menggeram. Ia terjebak oleh situasi. Tapi, ia harus melakukan ini. Ia akan sangat membutuhkan bantuan Willy. Pria itu memiliki power yang besar.

Wanita itu berhasil merayu Willy untuk mewujudkan keinginannya. Sambungan telepon terputus karena Willy sedang bekerja. Pria itu berjanji akan membereskannya hari ini.

"Terima kasih." Monnie mengembalikan ponsel Bibi.

"Oh ya kau sudah tahu mengenai Hide? Harta kekayaannya mencapai triliunan."

"Oh ya? Bagaimana kau tahu? Tapi, melihat rumahnya seperti itu aku tidak heran. Kenapa dia bisa sekaya itu?"tanya Monnie.

"Korupsi,"bisik Bibi,"dia sudah masuk dalam daftar pemeriksaan, tapi, masih lama sih. Jadi, kau harus menyelesaikan dengan cepat. Ini info dari orang yang terpercaya." Beruntung Bibi suka pergi ke tempat-tempat yang sering dikunjungi orang kaya. Keramahannya disukai hanyak orang dan akhirnya ja memiliki banyak teman dari berbagai kalangan.

Monnie mengangguk mengerti."Aku akan melakukannya dengan baik. Aku akan memulainya malam ini." Wanita itu menyeringai.

💜💜💜

MUST BE A HAPPY ENDINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang