Sudah update sampai part 18 di karyakarsa.
Cerita ini mengandung banyak scandal.
💜
Sekitar pukul lima, Monnie kembali ke rumah Wyne. Ia melihat mobil yang biasa dipakai Hide ada di rumah. Namun, mobil Wyne tidak ada. Sepertinya wanita itu sibuk mengerjakan novel barunya di kantor. Namun, Monnie masih harus memastikan buku catatan seperti apa yang Wyne maksud.
Monnie masuk ke rumah besar itu dan berpapadan dengan Hide yang sepertinya akan pergi. Mungkin pria itu hanya pulang sebentar untuk sebuah keperluan.
"Selama sore, Pak,"sapa Monnie dengan ramah. Ya, mulai saat ini ia harus bersikap ramah pada pria itu.
Pria itu terhenti dan mengernyit. Ia memperhatikan wajah itu dengan saksama. Seperti tidak asing, tapi, sepertinya ia mengenalnya. "Ah, ternyata kau, Monnie, maaf tidak mengenalimu. Kau mengubah gaya rambutmu?"
Monnie berpura-pura tersipu malu, bersikap selayaknya seorang gadis polos."Oh ini~" ia memegang rambutnya."Saya mengubahnya agar kepala terasa lebih ringan. Saya bisa berpikir jernih."
Hide mengangguk setuju."Untuk berpikir kita membutuhkan sesuatu yang membuat tubuh kita nyaman."
Monnie mengangguk."Iya, betul sekali, Pak."
"Wyne mengatakan kalau kau juga seorang penulis di platform digital?" Hide melanjutkan pembicaraan.
"Iya, itu sumber mata pencarian saya, Pak. Hmm~jika berkenan Bapak boleh membacanya di waktu senggang dan jangan lupa membelinya, ya,"ucap Monnie setengah bercanda.
"Oh ya~di Platform mana dan siapa namamu?"tanya Hide. Entah karena ia penasaran atau karena sekadar basa-basi. Tapi, setidaknya ini akan menjadi sebuah peluang bagi Monnie.
Monnie menangkap sinyal yang baik."Sepertinya Bapak tidak punya aplikasinya. Harus download dulu."
"Oh ya~" Hide melakukan apa yang diperintahkan Monnie. Mengunduh sebuah aplikasi dan membuat akun. Ia juga mengajari bagaimana cara membeli bukunya.
"Wah, kau punya banyak penggemar, ya?"ucap Hide setelah mengunjungi akun Monnie,"ini lebih banyak dari penggemar istriku."
"Tidak ada apa-apanya, Pak, dibandingkan dengan Ibu Wyne. Saya hanya dikenal secara anonim oleh pembaca. Saya tidak suka dikenal banyak orang,"kata Monnie.
Hide menatap Monnie tanpa berkedip. "Sayang sekali ya, para Pembaca tidak tahu kalau idola mereka secantik ini."
Monnie menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. "Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya kembali bekerja, ya, Pak."
Hide memandang kepergian Monnie selama beberapa detik. Ia merasa karakter Monnie itu mirip dengan seseorang di masa lalunya. Hide menggelengkan kepala, lalu ke mobil. Sopir melajukan kendaraannya menuju Bandara. Karena merasa bosan, Hide kembali membuka aplikasi yang ia unduh tadi. Ia penasaran kenapa sang istri sangat percaya pada Monnie, karyanya pasti setara dengan istrinya.
Hide membaca karya-karya milik Monnie. Ia yang tidak tertarik membaca tanpa sadar membaca sudah begitu jauh. Hingga ia harus mengeluarkan uang untuk membacanya sampai selesai. Hide suka dengan kisah-kisah menarik yang diceritakan Monnie. Tidak sekadar cinta, tapi, sebuah petualangan hidup penuh makna. Lalu, disertai dengan adegan dewasa yang panas. Wanita itu sangat ahli dalam urusan ranjang walaupun hanya dipaparkan dalam tulisan. Pantas saja Wyne memilihnya. Wanita itu memang sangat berbakat.
Monnie membuka ponselnya karena berbunyi berkali-kali. Ia tersenyum melihat nama Hide membeli karyanya. Ia juga melihat pria itu memberikan tips yang sangat besar. Tak lupa sebuah komentar memberikan semangat. Itulah alasannya kenapa Monnie membuat nama akun Hide dengan nama yang asing. Agar tidak mudah dideteksi oleh siapa pun.
Wanita itu membuka paper bag, menyimpan pakaian dan sepatu yang ia beli ke dalam lemari. Setelah itu ia kembali menulis sampai tengah malam. Dan saat itu, ponselnya terus berbunyi. Monnie kembali memeriksa, ternyata pria itu lagi. Ia sudah membeli banyak.
Monnie mengigit bibir bawahnya. Sepertinya ia harus melakukan sesuatu. Ia mengirimkan pesan secara pribadi pada Hide.
"Terima kasih, Pak. Itu terlalu banyak. Itu sudah cukup."
"Kau sangat berbakat, Monnie,"balas Hide.
Monnie mengulum senyumnya. "Bapak, sudah cukup. Aku merasa tidak enak. Bapak membaca karyaku, sebaiknya Bapak membaca karya ibu saja."
"Karyamu sangat bagus. Aku membaca semuanya. Aku hanya memberikan apa yang layak kau dapatkan."
Monnie tersenyum penuh arti karena Hide mulai terperangkap olehnya. Wanita itu mulai memikirkan balasannya.
"Lalu~jika Bapak membacanya, mana yang paling disukai?"
"My Sugar Daddy."
"Hahaha~aku sangat malu sekarang. Itu~lumayan vulgar. Maafkan aku. Wajahku panas sekarang karena malu."
"Karya adalah sebuah keindahan. Kau hebat. Itu membuatku sedikit merinding."
"Terima kasih, Pak. Selamat istirahat."
Tanpa sadar Hide tersenyum-senyum sendiri saat membalas pesan dari Monnie. Setelah itu ia menghubungi istrinya yang ternyata masih di kantor. Ia sudah menyuruhnya agar bekerja di rumah saja. Tetapi, istrinya itu bersikeras menyelesaikan beberapa di kantornya.
Hide mencoba menghubungi berkali-kali, tapi, Wyne tak kunjung menjawab. Ia menjadi sangat khawatir.
Sementara itu, Wyne tengah berdiri di hadapan tanah yang sudah rata dengan menganga. Rumah Ilona sudah hancur lebur. Ia menatap Vinz kesal."Kenapa rumahnya seperti ini?"
Vinz pun terlihat bingung. Ia tidak tahu kenapa rumah ini dirobohkan, padahal tidak ada satu orang pun yang peduli dengan rumah ini. Tidak ada yang berani merobohkannya karena dikenal angker. Vinz sangat yakin karena ia sudah bicara dengan Lurah setempat. Selain itu, tidak ada anggota keluarga yang tertinggal untuk mengajukan permohonan perubuhan.
"Vinz!!" Wyne menggeram. Ia sudah berjalan sejauh ini tapi tidak membuahkan hasil. Jadi, ia tidak akan mendapatkan apa pun setelah ini.
"Su-sudahlah, pasti tidak ada apa-apa lagi di dalam karena sudah hangus dan sudah lama sekali,"kata Vinz yang masih kaget.
"Kau memang tidak bisa diandalkan!" Wyne sangat marah. Hari ini juga ia metasa sangat marah pada orang -orang di kantornya. Tak satu pun yang bisa menerjemahkan tulisan luntur yang sudah terkena bakar dan air hujan. Ini menjadi sangat sulit baginya untuk membuat Novel baru.
Wanita itu mengembuskan napas kasar. Lalu ia tersadar bahwa handphonenya berbunyi sejak tadi. Ia melihat bahwa suami sedang menghubunginya.
"Halo, sayang~"sapa Wyne.
"Kau terdengar sedang tidak baik-baik saja?"sapa Hide di seberang sana. Pria itu merasa lega karena akhirnya sang istri menjawab teleponnya.
"Aku hanya sedikit stress dengan novel baruku. Risetnya sedikit sulit,"jawab Wyne sembari memijit keningnya. Sementara Vinz menatapnya dari kejauhan sebab ia tahu sedang berbicara dengan sang suami.
"Kau ada dimana? Sunyi sekali?"
Wyne melihat ke sekeliling. "Ah, A- aku ada di ruang kerjaku. Sebentar lagi aku akan pulang. Kau sudah sampai?"
"Aku sudah sampai dua jam lalu. Aku menunggu kabar darimu sampai tidak bisa tidur,"kata Hide dengan nada mengantuk,"besok aku harus meeting. Hmm~aku tidak bisa memastikan kapan urusanku selesai. Mungkin butuh waktu beberapa hari."
"Ah, selesaikan semua urusanmu dengan baik. Aku baik-baik saja dan akan menantimu sampai kembali,"kata Wyne menenangkan. Ia butuh ketenangan Hide karena ia harus fokus pada pekerjaannya.
"Iya, sayang, aku mencintaimu."
"Aku mencintaimu." Wyne memberikan kecupan dari jauh sebelum mengakhiri panggilan teleponnya. Lalu, ia menatap Vinz,"kita pulang saja. Ini sia-sia!"
Vinz mengangguk saja dan membiarkan Bosnya itu pergi lebih dulu karena mereka membawa mobil masing-masing.
💜💜💜
KAMU SEDANG MEMBACA
MUST BE A HAPPY ENDING
Romance⚠️ 21+ Cerita berisi banyak adegan yang membuat tidak nyaman. Bagi, Wyne Xynerva, ada dua cara untuk mendapat posisi tertinggi. Pertama, bekerja keras. Kedua, dengan menjatuhkan pesaingnya. Obsesinya membuat ia memilih jalan kedua. Ia menyingkirkan...
