Sebelas

881 73 6
                                        

Air telah penuh. Vinz mengisinya dengan sabun cair dan mengaduk dengan tangan. Air segera berbusa. Vinz berendam di dalam bathup, sementara Wyne mengusap punggung lelaki itu dengan sabun dengan busa yang banyak dari sisi bathup. Sesekali ia menunduk dan putingnya menyentuh lengan lelaki itu. Ia merasa geli dan sedikit bergairah.

"Tanganmu lembut sekali. Masuklah ke dalam sini,"perintah Vinz.

Wyne terlihat panik."Kenapa aku harus masuk? Aku tidak berniat mandi juga."

"Masuk saja, duduklah di pangkuanku." Vinz memegang tangan Wyne dan memandunya agar masuk dan duduk.

Wyne duduk di antara paha Vinz yang terbuka. Vinz memeluk dari belakang, menyimpan dagu di pundaknya. Kedua tangannya berpindah ke dua gundukan kenyal milik Wyne. Tangan penuh sabun nan licin meremas-remas lembut.

"Ah~" Wyne merasa nyaman dan rileks. Kepalanya bersandar di dada Vinz. Tubuhnya seperti sedang mendapat pijatan yang membuatnya tenang.

Vinz mencium pipi Wyne."Kau cantik sekali, Wyne."

"Hmm~" Wyne melenguh ketika putingnya dipilin oleh Vinz. Pria itu tahu bagaimana cara membuatnya tertunduk dan tidak bisa meronta lagi.

Vinz membuka paha Wyne lebar, meletakkan kedua paha wanita itu di atas pahanya. Ia memasuki milik Wyne dengan jemarinya.

"Vinz!!" Wyne menggelinjang dan kepalanya menengadah. Vinz menyambutnya dengan sebuah lumatan. Ini sangat menyenangkan.  Wyne membalas lumatan Vinz. Lidah mereka saling bertautan dan menghisapnya bergantian.

"Kau sangat menyukainya, kan?"tanya Vinz dengan napas memburu. Ia menggerakkan jarinya dengan cepat hingga wanita itu merasa tidak tahan lagi dan menginginkan miliknya.

Vinz meremas bokong Wyne, kemudian mengangkatnya, menyatukan milik mereka.
Keduanya mendesah bersamaan saat Vinz menggerakkan pinggulnya bersamaan dengan tubuh Wyne.

"Vinz, lebih cepat lagi." Wyne mengatakan permintaannya.

"Sedikit sulit jika dalam posisi ini. Bagaimana kalau kamu menungging?"

Wyne segera mengambil posisi menungging, kemudian Vinz berlutut memasuki milik Wyne. Ia memukul bokong itu dengan keras. Kemudian menghunjamnya.

"Oh, aku suka ini."

Wyne menahan diri untuk tidak mendesah lebih keras lagi karen merasa malu. Namun, tak bisa ia pungkiri bahwa ini sangat enak. Vinz lebih mahir dibandingkan suaminya. Mungkin karena Vinz adalah pria muda yang penuh gairah dan perkasa. Ia merasa puas berkali-kali.

Vinz kembali menyemburkan cairan miliknya di dalam ladahal Wyne sudah melarangnya. Wanita itu segera berjongkok dan memaksa cairan itu keluar. Setelah itu keduanya membersihkan diri dan kembali ke atas ranjang. Karena kelelahan, keduanya tertidur sampai pagi.

Sekitar pukul lima lagi, mata Wyne terbuka lebar. Ia kaget setengah mati karena ketiduran. Ia tidak tahu ini pukul berapa. Dengan panik, ia mencari ponsel dan menyalakannya. Wanita itu mengembuskan napas lega, ia masih punya kesempatan untuk pulang.

"Ada apa?" Vinz ikut terbangun.

"Ah, ini sudah pukul lima. Sepertinya aku harus pulang,"jawab Wyne. Kepalanya sedikit linglung karena tertidur. Ia mencari keberadaan pakaiannya yang berserakan.

Vinz menggeser tubuhnya, memeluk pinggang Wyne dan menciumi pahanya. Wyne merasa geli, ia sedikit menghindar. Namun, Vinz kembali merapatkan tubuh mereka.

"Haruskah pergi sekarang?"tanya Vinz dengan suara serak.

"Huum~suamiku akan segera bangun. Aku tidak mau dia curiga." Wyne memberi alasan. Demi apa pun ia harus pergi dari sini sekarang juga sebelum suaminya terbangun dan mencarinya ke kantor.

Vinz menarik pinggang Wyne hingga wanita itu terbaring di ranjang. Vinz menindihnya dengan cepat. Ia mencumbu tubuh Wyne sebelum mereka berpisah. Ia pasti akan merindukan saat-saat ini. Entah kapan lagi momen ini akan datang.

"Vinz, cukup,"ucap Wyne pelan.

"Sekali lagi." Vinz menghisap payudara Wyne. Pagi-pagi adalah waktu yang tepat untuk bercinta. Miliknya juga sudah bangun kembali.

Meski sudah berkali-kali, Wyne tetap mudah terangsang dengan sentuhan Vinz. Mungkinkah sebenarnya ia adalah wanita yang sangat menyukai hubungan di atas ranjang. Hanya saja kesibukan suaminya membuat ia mengabaikan hal tersebut.

Vinz membuka paha Wyne, kemudian menghisap daging lembut milik wanita itu. Lidahnya menelusup ke setiap lekukan milik Wyne hingga wanita itu terlihat sangat bergairah.

"Vinz sudah!!"

Vinz menindih tubuh Wyne kemudian menyatukan milik mereka. Wyne memeluk Vinz erat,tubuhnya seakan melayang merasakan kenikmatannya.

"Aku suka, sangat suka!" Wyne meracau. Vinz menghunjam cepat dan kembali mendapatkan pelepasannya. Wyne tak memiliki tenaga lagi untuk menyingkirkan  tubuh Vinz dari tubuhnya. Ia membiarkan milik mereka masih menyatu. Sementara Vinz terus menciumi wajah, leher, dan dadanya. Ia tampak sedang memuaskan diri sebelum berpisah dengan Wyne.

Wyne merasakan cairan Vinz menetes di pahanya. Vinz berbaring di sebelahnya semvari mengatur napas. Tak lama kemudian ia bergerak membuka laci.

"Ini milikmu, sayang." Vinz menyerahkan buku catatan yang dijanjikan."

Wyne terbelalak, ia meraih buku catatan tersebut dengan senang."Terima kasih." Tubuhnya yang lemas kini bertenaga kembali. Ia duduk dengan wajah semringah.

"Aku selalu menepati janjiku. Terima kasih sudah datang dan bercinta denganku. Kau sangat nikmat." Vinz mengerlingkan matanya.

"Aku boleh pergi sekarang?"

"Silakan." Vinz mempersilakan wanita itu pergi. Untuk saat ini ia sudah merasa puas. Nanti ia bisa mencari cara lain untuk membuat wanita itu menerima permintaannya lagi.

Wyne tersenyum licik. Setelah ini namanya akan semakin melambung tinggi.  Wyne segera mandi dengan bersih, ia memastikan  tidak ada jejak-jejak yang ditinggalkan Vinz di tubuhnya. Setelah itu ia pulang ke rumah dengan selamat.

Saat ia tiba di rumah, sang suami masih tertidur. Wyne dengan tenang mengganti pakaian, lalu membangunkan suaminya dengan hangat dan penuh cinta.

💜💜💜

MUST BE A HAPPY ENDINGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang