Monnie terbangun dengan kepala yang sakit. Ia merasa sulit tidur semalam karena memikirkan apa yang telah ia lakukan. Wanita itu menarik napas panjang, kemudian meneguk segelas air. Ia menyingkap tirai dan melihat ke arah balkon kamar Wyne. Wanita itu tersenyum karena Hide ada di sana dengan secangkir kopi. Hide menatap ke pergerakan tirai, pria itu tersenyum meskipun ia tidak bisa melihat Monnie dengan jelas. Monnie berpikir bahwa pria itu telah masuk ke dalam perangkapnya.
Wanita itu melihat penampilannya di kaca, tidak terlalu seksi tapi tidak terlalu tertutup. Ia membuka kaca dan menggeliat. Lalu, ia berpura-pura tak melihat Hide. Ia ada di sana selayaknya sedang menikmati udara pagi. Hide sedikit kecewa karena Monnie tidak melihat ke arahnya.
"Sayang~" Wyne menghampiri suaminya yang tumben sekali ada di balkon. Biasanya pria itu langsung ke ruang kerja sembari menikmati kopinya,"kamu ngapain?"
Hide terperanjat. Ia khawatir kalau ia ketahuan sedang menatap Monnie dari kamarnya. Wanita itu juga sedang ada di sana.
"Aku hanya sedang menikmati udara segar." Hide memeluk pinggang Wyne.
Wyne mengedarkan pandangannya. Hide ikut mengedarkan pandangan dan terkejut saat melihat Monnie tidak ada di tempat. Bahkan tirai kamarnya kembali tertutup rapat seolah-olah tidak berpenghuni.
"Apa kegiatan kamu pagi ini, sayang?"tanya Hide.
"Aku ingin istirahat, aku agak capek karena pesta semalam,"balas Wyne sembari bersandar manja di dada sang suami. Ia merasa bersalah karena sudah mengkhianati suaminya di dalam rumahnya sendiri.
Hide menatap wajah istrinya yang cantik, kemudian mengecup keningnya."Hari ini aku harus kunjungan ke luar kota. Aku akan kembali besok."
Wyne mengangguk. Ia sudah terbiasa dengan kesibukan suaminya itu."Baiklah, ayo kubantu bersiap-siap."
Sementara itu Monnie memegang dadanya di balik dinding. Hampir saja ia ketahuan sedang mencoba menebar pesona pada Hide. Monnie segera bersiap, ia akan mengambil kamera tersembunyi yang ia pasang di vas bunga sebelum ditemukan orang lain.
Monnie berjalan dengan tenang, lalu berpura-pura menelepon sembari memainkan bunga. Ia mengambil kamera dan menyimpan ke dalam kantongnya. Ia tidak langsung pergi, ia berdiri di sana cukup lama seakan-akan sedang menghubungi seseorang lagi.
"Hallo, Monnie." Wyne muncul dengan penampilan yang rapi.
"Selamat pagi, Bu."
"Kamu sedang apa?"
"Aku sedang menghubungi temanku, tapi, dia tidak menjawabnya. Lalu tanpa sadar aku berjalan ke sini. Apa saya melanggar batas?"
Wyne menggeleng dan tertawa kecil."Tidak. Ini area umum. Oh ya~kamu lanjutkan saya bab selanjutnya. Itu sangat bagus."
"Tentu saja bagus, aku penulis aslinya,"kata Monnie dalam hati."Ah, terima kasih. Saya akan melanjutkannya. Tapi, apakah hari ini saya boleh pergi keluar?"
"Kau mau ke mana?"tanya Wyne ingin tahu.
"Sayang~" Hide datang dan memeluk pinggang Wyne, tak lupa memberikan kecupan di kepalanya. Namun, matanya tak lepas dari wanita di hadapannya.
Monnie menunduk memberi hormat pada Hide. Lalu ia berkata pada Wyne."Menulis sedikit menguras energi dan pikiran. Jadi, saya butuh pergi ke tempat di mana saya bisa mengisi energi saya kembali. Menyendiri dan menikmati makanan manis."
"Ah seperti itu, ya? Aku bisa menyediakannya di sini. Kau mau makanan seperti apa?"kata Wyne sembari mengeluarkan ponselnya.
"Sayang, bekerja duduk seharian dalam ruangan itu sangat melelahkan. Jika sudah lelah, kita tidak bisa berbuat apa pun. Kinerja akan menurun. Kau butuh staff yang sehat dan kuat,"kata Hide masuk dalam pembicaraan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
MUST BE A HAPPY ENDING
Romantik⚠️ 21+ Cerita berisi banyak adegan yang membuat tidak nyaman. Bagi, Wyne Xynerva, ada dua cara untuk mendapat posisi tertinggi. Pertama, bekerja keras. Kedua, dengan menjatuhkan pesaingnya. Obsesinya membuat ia memilih jalan kedua. Ia menyingkirkan...
