Sudah update sampai part 20 di karyakarsa.
💜
Setelah tiga hari, Monnie berhasil menyelesaikan beberapa bab novelnya. Ia menulisnya dengan serius. Ia sudah menulisnya di masa lalu, tetapi, ia berhasil menyempurnakannya sekarang. Hasilnya juga pasti jauh lebih baik. Sudah tiga hari Monnie tidak melihat keberadaan Wyne dan juga Hide. Mungkin saja mereka menghabiskan waktu bersama.
Hari ini Monnie masih berpenampilan rapi selayaknya ia bekerja sungguhan di sebuah kantor. Ia mulai nyaman berpenampilan seperti ini. Ia tidak mau Wyne menyepelekannya.
"Mon~" Wyne datang ke ruang kerja Monnie.
Monnie erdiri dan tersenyum menyapa Wyne."Selamat pagi, Bu."
Wyne memperhatikan penampilan wanita itu yang berubah."Eum~kau agak~ah sudahlah lupakan saja. Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
Monnie memperlihatkan hasil pekerjaannya."Saya sudah menyelesaikan hampir sepuluh bab."
Kening Wyne mengkerut, menatap Monnie curiga."Sepuluh bab? Bagaimana mungkin?" Ia sedikit mentertawakan hal tersebut."Ah, kau kan penulis digital, ya, sering dikejar target jadi terbiasa menulis cepat tanpa memikirkan kualitas."
"Semua orang menginginkan hasil yang baik, Bu. Jika menurut kita tidak berkualitas, belum tentu orang lain berpikiran sama,"balas Monnie tetap tenang. Ia sedikit tersinggung karena Wyne kerap merendahkan Penulis yang sedang bertumbuh dan berkembang. Padahal ia sendiri seterkenal itu karena mencuri karya orang lain.
Raut wajah Wyne berubah mendapat jawaban seperti itu."Aku tidak mengatakan itu kau, Monnie. Jadi, jangan tersinggung."
"Saya juga tidak mengatakan itu tentang Ibu. Ini bisa saja terjadi pada semua orang dan dalam hal apa pun,"balas Monnie.
Wyne mulai pusing menatap layar."Tolomg diprint sekarang. Aku ingin membacanya dengan kertas saja."
"Baik, Bu."
"Tolong antarkan ke kamarku." Wyne memegang kepalanya yang sedikit pusing. Sudah tiga hari ini ia sibuk dengan buku catatan yang terbakar. Namun, ia belum berhasil mendapat isinya dengan benar. Padahal alurnya sangat bagus.
"Baik, Bu." Monnie mengangguk. Wanita itu mencetak hasil pekerjaannya. Kemudian ia melangkah ke rumah utama. Langkahnya melambat saat menyadari sesuatu. Ia tidak tahu keberadaan kamar utama.
Wanita itu mengedarkan pandangan mencari asisten rumah tangga untuk bertanya. Tetapi tak satu pun terlihat. Monnie berjalan mengitari ruang tengah yang sangat besar itu. Lalu kepalanya menubruk sesuatu.
Hide memegang lengan Monnie dengan erat agar wanita itu tidak jatuh. Monnie memegang keningnya dan mendongak.
"Ah, maafkan saya, Pak." Monnie segera menjauh dan membungkuk meminta maaf,"maaf saya tidak tahu Bapak ada di sekitar saya."
Telinga Hide terasa panas."Oh, tidak apa-apa. Aku juga baru masuk. Kamu ngapain di sini?"
"Oh itu~Bu Wyne memintaku mengantarkan dokumen ini ke kamarnya. Tapi, saya tidak tahu dimana kabar utamanya,"kata Monnie sambil menunjukkan lembaran kertas yang dibawa.
"Kamu naik ke tangga besar ini lalu ke kanan. Pintu yang besar itu adalah kamar kami,"jelas Hide.
"Hmm~mengingat Bapak sudah ada di sini, saya tidak bisa ke kamar menemui Ibu. Apakah saya boleh menitipkan ini pada Bapak?"tanya Monnie sembari tersenyum.
Hide mematung sejenak karena teringat sesuatu. Pria itu mengangguk."Baiklah, akan saya sampaikan padanya."
Monnie menyerahkan beberapa lembar kertas tersebut ke tangan Hide dan sengaja menyentuh jemari pria tersebut. Hide merasakan tubuhnya berdesir. Sementara Monnie bersikap seakan-akan tidak terjadi sesuatu.
"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi."
"Sama-sama, Monnie." Hide berjalan ke arah kamar mereka. Saat masuk, ia melihat Wyne sedang berbaring dengan sedikit frustrasi.
"Halo, sayang." Hide datang dan memeluk istrinya dengan penuh rindu."Kamu sakit?"
Wyne mengubah posisinya dan duduk."Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah. Akhirnya kamu pulang."
"Aku merindukanmu." Hide mengecup bibir Wyne.
"Eum~jangan lakukan hari ini dulu, aku sedang tidak enak badan,"kata Wyne cepat sebelum Hide menyentuhnya. Ia sangat tahu bahwa sang suami akan langsung mengajaknya bercinta setelah berhari-hari melakukan perjalanan bisnis. Tapi, hari ini ia sangat tidak berminat melakukannya.
"Aku tidak akan memaksa, sayang. Oh, ya tadi di bawah aku bertemu dengan Monnie. Dia kebingungan mencari kamar kita. Kamu menyuruhnya ke kamar?"
"Astaga~apa dia tahu keberadaan kamar kita?"
"Tidak. Dia justru menunggu di ruang tengah sambil mencari asisten kamu untuk menitipkannya."
"Iya, tapi, aku lupa~seharusnya dia tidak boleh masuk area pribadiku. Tapi, syukurlah dia tahu diri,"kata Wyne sambil menerima dokumen yang diberikan Hide.
Wanita itu membacanya dengan serius. Saking seriusnya ia mengabaikan suaminya yang baru pulang. Kata demi kata dirangkai dengan apik sehingga siapa pun yang membaca akan terhipnotis mengikuti alurnya. Wyne menganga tak percaya bahwa itu sangat sempurna. Wajahnya terlihat bahagia sampai tak bisa berkata-kata.
Hide mengambil kertas-kertas tersebut dari tangan Wyne. Wanita itu membesarkan bola matanya.
"Kenapa kau lakukan itu?"
Hide menatap Wyne serius."Kenapa kau mengabaikanku? Aku rindu, tidak bisakah memelukku?"
Wyne tertawa kecil. Ia mengambil kertas dan meletakkan ke atas nakas. Lantas ia memeluk Hide. Hatinya sedang bahagia. Maka ia pun memeluk suaminya dengan senang hati.
"Aku bawa hadiah untukmu,"kata Hide. Saat bepergian ke mana pun ia tak pernah melupakan wanita yang dicintainya itu. Ia selalu membawakan hadiah khas daerah atau negara yang ia kunjungi.
"Aku tahu itu, kau pasti membawakanku hadiah. Kau memang sangat mencintaiku,"ucap Wyne sembari tersenyum. Ia menatap Hide dan mengecup bibirnya."Terima kasih."
"Jangan terlalu memikirkan pekerjaanmu. Jalani saja dengan santai. Tidak perlu memikirkan tentang uang, karena aku~akan memberikan apa pun uang kau mau."
"Ini bukan tentang uang. Ini adalah mimpiku,"balas Wyne.
"Aku mengerti, sayang." Hide membuka kemejanya.
"Aku janji, setelah buku ketigaku selesai, aku memutuskan untuk pensiun. Aku hanya akan fokus pada Penerbitanku saja." Wyne sedikit merasa bersalah karena sudah mengabaikan suaminya.
"Kamu sudah mempekerjakan Monnie. Seharusnya pekerjaanmu berkurang,"kata Hide,"apa pekerjaannya tidak baik? Kita bisa mengganti atau menambah orang."
Wyne menggeleng cepat."Tidak, dia sangat bagus. Jadi, aku sangat puas dengan kinerjanya. Entah kenapa aku mendapat ide untuk novel yang baru. Aku yakin ini akan laris di pasaran."
Hide tersenyum hangat sembari mengusap puncak kepala Hide."Jaga kesehatanmu, kutagih janjimu ketika buku ketiga telah selesai. Aku ke toilet dulu."
Wyne tersenyum manis. Kemudian ia mengulum senyumnya. Ia memikirkan Monnie, wanita itu sangat berbakat. Mungkin setelah kontrak mereka selesai, ia akan merekrut Monnie menjadi Penulis di Perusahaannya. Dengan begitu, ia akan mendapatkan banyak keuntungan.
"Ah, bahagianya." Wyne menggeliat. Hari ini cukup menyenangkan. Waktunya untuk istirahat.
KAMU SEDANG MEMBACA
MUST BE A HAPPY ENDING
Romance⚠️ 21+ Cerita berisi banyak adegan yang membuat tidak nyaman. Bagi, Wyne Xynerva, ada dua cara untuk mendapat posisi tertinggi. Pertama, bekerja keras. Kedua, dengan menjatuhkan pesaingnya. Obsesinya membuat ia memilih jalan kedua. Ia menyingkirkan...
