Gara-gara tiga curut

89 31 39
                                        

"PAPA, MAMA. KENAPA GAK BANGUNIN, SERA. JADI TELAT KAN AKU"

Sarah yang baru saja memasukan makanannya ke mulut langsung tersedak karna mendengar suara cempreng putrinya. Dasar anak laknat, apa Sera mau mamanya ini mati karna tersedak. Sedangkan Anton hanya bisa membuang napasnya pasrah melihat tingkah putrinya. Dia jamin akan ada drama antara istri dan putrinya itu.

"Sera, kamu mau mama kamu meninggol ya karna denger suara kamu. Apa kamu gak liat orang tua lagi sarapan?"
"Loh, mama kok malah marahin Sera, sih. Harusnya Sera yang marah karna gak bangunin, Sera. Pokoknya mama sama papa harus tanggung jawab. Malah pelajaran pertama pak kumis lagi. Bisa habis Sera sama dia"

"kamu gak bakal dimarahin sama dia"

Penuturan Anton membuat Sera mengerutkan keningnya. Apa maksudnya?

"Kok papa yakin banget Sera gak bakal dimarahin?"
"Karna kamu udah gak sekolah disana lagi"
"HAH? MAKSUD MAMA APA?"

Anton dan Sarah saling tatap. Mereka lupa memberi tahu Sera tentang  hal ini.

"Kamu duduk dulu, sayang"

Tanpa bertanya lagi, Sera langsung menuruti perintah sang mama. Dia duduk diantara Anton dan Sarah kemudian menatap keduanya bergantian.

" jadi gini, Sera, "

Sarah menggenggam tangan putrinya lembut, dia sedang menyusun sebuah kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada Sera. Putrinya ini keras kepala, tidak mungkin dia mau menerima begitu saja apa yang sudah terjadi.

Tapi dia yakin jika menjelaskan semuanya dengan cara lembut pada Sera, pasti gadis itu akan mengerti. Walau keras kepala, tapi Sera pasti akan mengerti.

"Kamu, mama pindahin ke sekolah lain. Jadi kamu udah gak sekolah di cakrawala lagi"
"APA!"

Tentu Sera terkejut dengan apa yang dikatakan Sarah barusan. Pindah? Sera ingat betul kalau dia tidak pernah minta untuk pindah sekolah. Terus tidak ada hujan tidak ada angin, mamanya malah menyuruhnya untuk pindah? Apa mamanya kemasukan jin dari luar negeri?

"Maksud mama apa? Sera gak pernah tuh minta mama buat pindah sekolah. Terus kenapa mama pindahin Sera?"
"Sayang, denger dulu!"

Sekarang Anton yang mengelus punggung putrinya. Dia tahu putrinya marah, tapi ini juga demi kebaikan Sera.

"Sera, papa sama mama juga sebenarnya gak mau pindahin kamu kesekolah lain. Tapi ini juga buat kamu. Kasus kamu kemarin gak bisa diselesaikan dengan cara baik-baik. Kamu bisa saja dikeluarkan dari sekolah. Makanya, sebelum itu terjadi papa udah pindahin kamu duluan"

Shit!

Jadi ini yang membuatnya harus pindah sekolah. Karna dia ketahuan bertengkar di gudang sekolah.
Ya, beberapa minggu lalu dia bertengkar dengan 3 temannya dan berakhir mereka dibawa kerumah sakit karna Sera memukul kepala mereka agak keras. Tapi Sera tidak melakukan semua itu tanpa alasan. Tiga curut itu selalu saja bersikap senioritas dan semena-mena pada adik kelas. Bukan hanya itu, mereka bahkan suka membully para siswi yang dekat dengan most wanted cakrawala. Semua itu membuat Sera jengah, dia benci ada hama menjijikan itu disekolahnya. Makanya, dia sedikit memberi pelajaran pada mereka tapi malah berakhir seperti ini.

"Tapi Sera gak salah, pa. Kalian lihat sendirikan vidionya. Mereka udah banyak bully orang. Apa salah kalo Sera beri mereka pelajaran?"
"Bukan itu yang jadi masalahnya, Sera" ucap Anton berusaha menjelaskan.
"Terus apa?" Sera berusaha keras menahan emosinya. Tidak mungkin dia melampiaskan emosinya pada orang tuanya. Dia tidak ingin dikutuk menjadi batu.
"Papa gak pernah menyalahkan kamu untuk belain teman kamu yang di bully. Tapi bukan itu cara yang benar. Kamu gak bisa asal balas mereka dengan cara kamu sendiri. Semuanya bisa selesai tanpa harus ada kekerasan, bukan?"

silentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang