Ruang gelap

42 11 21
                                        

Setiap masa lalu tidak selalu baik dan bisa dengan mudah diceritakan dengan orang lain. Tapi itu bukan berarti dia tidak ingin membaginya pada siapapun. Manusia cuma butuh waktu agar bisa bercerita bukan karna merasa asing

- Gyan abisatya -


"Gyan"

Perlahan, Sera mendekati brangkar Gyan yang berada di bilik paling pojok. Pasti cowok itu sengaja memilih bilik ini karna ingin mendapat ketenangan. Gadis itu menatap wajah cowok itu dalam, bahkan dalam tidur saja Gyan terlihat tidak nyenyak. Pasti ada sesuatu yang dipikirkan oleh cowok itu makanya sampai terbawa dalam mimpi.

Sera memang mengantar Affandra ke UKS, tapi bukan UKS yang sama dengan Gyan. Sekolahan mereka memang memiliki fasilitas lengkap, bahkan sampai memiliki UKS yang jumlahnya lebih dari satu. Sera tidak mau Affandra bertemu Gyan disini. Tapi dia juga bingung dengan apa yang terjadi pada Affandra tadi. Kenapa cowok itu terlihat panik saat dia membicarakan tentang masa lalu? Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka? 

"Ma, Gyan kangen. Jangan pergi! Gyan sendiri? Gyan sakit"

Sera terkejut mendengar Gyan yang meracau tidak jelas. Sepertinya cowok itu sedang mimpi buruk.  Bahkan dahi cowok itu sudah penuh dengan keringat.

"Ma, ,mereka jahat, gak ada yang mau percaya sama Gyan. Papa marah, ma. Papa jauh. Gak ada yang mau percaya sama Gyan. Mereka semua pergi"

Racauan Gyan semakin menjadi. Sera sampai harus menahan bahu Gyan agar cowok itu tidak jatuh dari brankar. 

"Gyan, bangun! lo kenapa?"

Bingung dan takut, itulah yang mewakili perasaan Sera sekarang. 

"Gak ada yang percaya, ma. Semua tinggalin, Gyan. Mama juga tinggalin Gyan dan gak percaya sama Gyan, kalian semua pergi,"

"Gyan, gue percaya sama lo. Gue akan tetep disini sama lo, gue gak bakal ninggalin lo."

Berhasil! Kata itu seperti mantra ajaib yang dapat menenangkan Gyan. Cowok itu mulai tenang dalam tidurnya, walau masih terlihat raut ketakutan di wajah cowok itu. Tapi setidaknya itu lebih baik. 

"A-anasera, jangan pergi! Aku sendiri," racauan itu terdengar lagi, tapi kali ini lebih tenang.

"Gue gak kemana-mana, Gyan. Gue bakal disini sama lo"

Sera mengusap surai Gyan lembut, berharap bisa membuat tidur Gyan akan lebih nyenyak dari sekarang. Dia menatap lekat cowok yang sedang tertidur lelap itu, ada banyak hal yang selalu Gyan simpan sendiri. 

"Apa yang harus gue percaya, Gyan? Sebenarnya masalah apa yang ada antara kalian?"

💜💜💜

Perlahan netra hitam itu mulai terbuka, Gyan meringis pelan karna kepalanya masih sedikit pusing. Sepertinya demamnya belum turun.

"Lo udah sadar?"

Pertanyaan itu sukses membuat Gyan menoleh. Anasera? Sejak kapan gadis itu disini?

"Dari tadi, gue nyusul lo kesini tadi,"

huft!

Gyan lupa kalo Sera suka sekali membaca piikirannya, dia semakin yakin kalau gadis itu adalah cenayang. 

"Gue bukan cenayang."

"ANASERA!"

Sera terkekeh puas melihat Gyan yang cemberut seperti anak kecil karna apa yang dia ucapkan barusan sesuai dengan apa yang dipikirkan Gyan. Ternyata mengganggu orang sakit menyenangkan juga. 

silentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang