"Manusia tidak punya hak menyimpulkan begitu saja apa yang mereka lihat. Lagi pula tuhan tidak hanya memberikan mata untuk melihat, tapi dia juga memberikan telinga untuk mendengar juga otak untuk berpikir"
-Alisha Anasera Naladhipa-
"B-bang Gyan, ketemu, kakak jahat,"
Astaga, rasanya Sera sudah lelah sekali membujuk Btari agar berhenti menangis. Sejak pulang dari rumah Gyan tadi, gadis kecil ini terus saja menangis karna tidak mau meninggalkan Gyan. Jika bukan karna Affandra yang mengirimnya pesan akan datang ke apartemennya untuk menjemput gadis itu, Sera juga masih ingin berlama-lama disana. Memang cowok anjing, padahal mereka sepakatat cowok itu menjemput adiknya nanti sore, tapi malah tiba-tiba menjadi siang. Dasar!
"Hey, Btari. Coba liat kaka!"
Perlahan Sera mengangkat wajah Btari agar menatap kearahnya. Mata gadis kecil itu sembab karna menangis, saking tidak inginnya berpisah dengan Gyan.
"Kakak juga masih pengen ketemu bang Gyan. Tapi bang Affandra mau kesini, kalo abang kamu tau kamu ketemu bang Gyan, kamu mau?"
Sontak Btari menggeleng cepat. Jika Bang Affandra tau dia baru saja bertemu Bang Gyan, pastinya akan ada pertengkaran lagi antara mereka. Dia takut, darah Bang Gyan waktu itu banyak.
"Takut, bang Gyan berdarah,"
Sera merapikan rambut Btari lalu mengusap air mata gadis itu.
"Dek, kamu mungkin dah sebesar dia sekarang,"
"Percaya sama Kakak! Kakak bakal bawa kamu ketemu lagi sama bang Gyan, Btari sabar dulu, ya! Kakak bakal usahain semuanya buat kalian,"
Entah dorongan dari mana, Btari mengangguk lalu memeluk Sera erat.
"Makasih, baik, Btari suka"
Entahlah, Sera tidak bisa mengartikan apa yang diucapkan oleh Btari. Tapi satu hal yang dia tau, Btari mulai menerimanya.
"Btari!"
Ini dia orang yang bikin Sera emosi, bisa-bisanya dia mengubah perjanjian mereka begitu saja!
"Ad-"
"B-btari, kamu gak papa? Kenapa menangis, hmmm?"
Affandra mengambil alih tubuh Btari perlahan dari pelukan Sera. Cowok itu mengusap pelan air mata gadisnya lalu dia bawa kepelukannya.
"Jangan nangis ya! Abang gak suka,"
Btari hanya diam dalam pelukan Affandra dan hal itulah yang membuat cowok itu takut. Apa adiknya marah padanya?
"Hey, kenapa? Bilang sama abang!"
"Abang nakal, sore jadi siang,"
Puft!
Walau terkadang ucapan susah dimengerti, tapi kali ini Sera tau maksudnya. Btari sedang memarahi Affandra karna datang tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Rasakan!
"Adek lo marah tu gara-gara gak nepatin janji, makanya jangan asal ubah janji aja lo, sore ya sore bukan siang,"
Sera sebenarnya tidak ingin menunjukan emosinya pada affandra karna takut akan membuat cowok itu curiga, tapi Btari malah mewakilinya terlebih dulu, jadi apa salahnya jika dia juga menambahkan?
"Gue khawatir sama dia, makanya gue cepet-cepet kesini,"
Affandra tidak berbohong saat mengatakan hal itu, dia bener-benar khawatir dengan Btari. Bagaimana jika adiknya itu berbuat onar di apartemen Sera?
"Terserah lo deh, tapi lain kali jangan gitu lagi! Gak ada yang suka sama orang yang ubah janjinya gitu aja, Affandra,"
Sera beranjak dari duduknya lalu pergi menuju dapur, sebelum Affandra datang tadi, dia sempat memasak untuk mereka bertiga.
"Kalo udah pelukannya kalian langsung ke meja makan, gue udah masak banyak buat kalian,"
"Emang lo bisa masak?"
Bukan karna apa Affandra bertanya seperti itu, tapi dia hanya kaget saja mengetahui Sera bisa memasak. Gadis tomboy seperti itu bisa memasak?
"Lo bakal tau jawabannya nanti waktu makan."
Hanya itu yang dikatakan Sera karna setelahnya gadis itu sudah menghilang di pintu dapur.
💜💜💜
Affandra menatap takjub pada hidangan yang tersaji dihadapannya sekarang. Memang tidak apa yang Sera masak untuk mereka sekarang. Hanya sayur asem dengan ikan goreng dimana ada sambel sebagai pelengkapnya. Awalnya cowok itu ragu untuk memakannya, tapi saat dia mencicipinya, sudah bisa ditebak dia akan mengahabiskan tiga piring nanti.
"Ternyata masakan lo enak juga, Ser. Belajar dari mana lo?"
"Dari nyokap gue, dia punya restoran nusantara, makanya bisa masak,"
"Wahhhh, kasih gue alamatnya donh! Pasti itu restoran biintang lima kan?"
Sera hanya terkekeh mendengar perkataan Affandra yang berlebihan menurutnya.
"Perasaan tadi kayak ada yang raguin masakan gue deh,"
Affandra tau kalau itu bukanlah pertanyaan, cowok itu hanya bisa tersenyum tanpa dosa pada Sera karna sindiran gadis itu.
"Maaf, Ser. Gue mana tau kalo lo bisa masak seenak ini, gue kira lo cuma bisa jambak sama tampar aja,"
Affandra masih ingat apa yang telah gadis itu lakukan pada Daiva untuk menolong Gyan. Sungguh luar biasa gadis itu.
"Gak semua yang lo itu kebenaran, Affandra. Harusnya lo cari tahu dulu baru nyimpulin."
Mereka memang sedang membahas apa yang dipikirkan Affandra tentang Sera. Tapi kenapa cowok itu merasa jika Sera sedang membahas Hal lain? Tapi apa?
Nah kan kena omel Btari lo, Affandra. Enggak nepatin janji sihhh, jadi gitu deh
Jangan lupa ninggalin jejak ya teman-teman 😊
Maaf banget aku udah lama gak up🙏🏻🙏🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
silent
Novela Juvenil"Anasera, terima kasih untuk tidak menjadi payung saat hujan karna kau tau selain dirimu aku juga menyukai hujan dan aku mohon, tetaplah menjadi obat saat hujan itu membuatku sakit. Tetap temani aku saat hujan itu membasahiku dan ayo kita bermain be...
