pembully lagi

60 23 16
                                        

"Sekarang ganteng lo udah kelihatan. Lain kali, lo gak boleh luka lagi. Kalo luka terus, ganteng lo kapan kelihatannya, coba? Lo ngertikan maksud gue? "

Sedari tadi, hanya ucapan itu yang terus berputar di kepala Gyan. Kata gadis yang mengobatinya kemarin, dia tidak boleh terluka lagi. Tapi masalahnya, kemarin dia lupa mengerjakan tugas daksa dan sekarang pun begitu.

Cowok itu yakin setelah sampai disekolah lagi dia akan dihajar oleh daksa karna alasan yang sama. Sebenarnya bukan itu yang dipikirkan oleh Gyan. Lagi pula, dia tidak takut. Daksa tidak sekali dua kali melakukan ini padanya. Gyan sudah terbiasa. Tapi ... gadis itu melarangnya untuk terluka lagi.

Dia sudah siap dengan seragam serta jas almamater sekolahnya, bahkan dengan dasi dan topi pun sudah dia siapkan. Dia hanya tinggal tinggal berangkat saja. Tapi dia seakan ragu. Gyan menatap wajahnya dari pantulan cermin. Gadis kemarin sudah mengobatinya dengan telaten, bukankah akan tidak enak jika wajahnya terluka lagi dan bertemu gadis itu. Pasti dia akan marah karna gyan tidak menuruti perintahnya.

" Apa aku ijin dulu aja, ya. Habis itu ke kolong jembatan buat ngajar anak-anak "

Gyan tersadar atas apa yang dia ucapkan barusan. Hei, kenapa dia malah memikirkan ucapan gadis kemarin? Bukan malah memikirkan dirinya sendiri. Tapi ...

💜💜💜

"Wah, siapa tu cewek? Kok gue baru liat ya?"
"Gila, keren juga dia"
"Penampilannya tomboy, gue suka"
"Auranya dinging gimana gak, sih"
"Maksud lo?"
"Gue ngerasa dia agak gimana gitu"
"Cuman perasaan lo aja kali"

Sera membuang nafasnya jengah. Sebenarnya apa yang membuat mamanya memasukannya ke sekolah ini? Isinya orang-orang norak semua. Bagaimana tidak norak? Lihatlah bagaimana mereka menatap Sera dari gerbang sampai menuju ruang kepala sekolah. Sera risih! Dia tidak suka menjadi sorotan.

"Hey, jaga mata kalian! Bukannya kasih kesan bagus untuk anak baru, malah buat dia gak nyaman "

Walau terkesan guru yang bar-bar, tapi bu Dina yang katanya akan menjadi wali kelas Sera ini cukup peka. Terbukti dengan dia yang langsung memarahi anak-anak yang masih saja menatap dan membicaraan Anasera. Gadis itu jadi sedikit terbantu.

Sera manatap sekeliling sekolah barunya. Tidak buruk, sebenarnya sama saja dengan sekolahnya yang dulu. Tapi Sera harap, disini masih ada perbedaannya. Dia tidak ingin melihat pembully lagi. Sera muak.

Mereka sampai di sebuah kelas dan Sera langsung disuruh memperkenalkan dirinya. Dia bisa melihat banyak anak yang bertanya-tanya tentang dirinya.

"Cantik juga tu cewek"
"Anaknya keliatan tomboy tapi manis"
"Mukanya datar "
"Kayaknya Daiva punya saingan ketat, nih"
"Hmmm ... semoga dia aman"
"Dia cantik, gue yakin Daiva gak bakalan suka"
"Kalo aja penampilannya biasa, pasti daiva gak akan incer dia"

Perkataan terakhir itu sedikit mengganggu Sera. Penampilan? Memang kenapa dengan penampilannya? Dia tidak memakai rok setengah paha kaya lonte, ukuran seragamnya pas dengan anak sekolah dan dia juga tidak memakai make up tebal seperti tante girang. Lalu? Apa yang salah dengan penampilannya? Terus siapa Daiva? Mereka sedari tadi terus menyebut nama itu.

"Ayo anak baru, silahkan perkenalkan diri kamu" suara bu Dina menyadarkan Sera.

Gadis itu manatap satu persatu temannya lalu mulai berkenalan.

"Nama gue Sera, tepatnya Alisha Anasera Naladhipa. Dari dulu Penampilan gue emang kayak gini dan gue nyaman dengan penampilan gue. Oh ya, satu hal yang harus kalian tahu, gue ... gak suka diusik"

Kalau biasanya akan ada sapaan hangat saat berkenalan, maka Anasera berbeda. Dia tidak suka basa basi. Terlebih moodnya yang memburuk karna perkataan mereka tadi. Sera benar-benar benci ini.

Sedangkan yang lain diam mendengar perkenalan Sera yang seakan membalas semua ucapan mereka. Sepertinya gadis didepan mereka ini sedang kesal.

Bu Dina yang mendengar ucapan perkenalan Sera hanya tersenyum maklum. Dina tahu siapa anak ini. Karna dia dan Sarah adalah sahabat dari sma. Malah, dialah yang menyarankan Sarah agar anaknya sekolah di sma lakeswara "

"Dia mirip mamanya"

"Baik, Sera. Kamu bisa duduk dikursi yang kosong"

Pandangan Sera menyapu keseluruhan kelas. Matanya melihat sebuah kursi kosong disisi kiri maupun kanan. Bagus sekali, dia bisa duduk sendiri disana.

Kaki Sera melangkah ke bangku pilihannya, tidak ada yang mengangkat suara untuk menawarkan Sera duduk disamping mereka. Bukan karna tidak mau, tapi mereka takut gadis itu menolak. Sera tidak suka diusik bukan?

Bangku pojok belakang adalah pilihannya. Sempurna sekali posisi bangku ini. Sudah dibelakang pojok, sendiri pula. Sangat sempurna!

"Eh, kamu jangan duduk disitu! Bahaya,"

Sera manatap bingung seorang siswi yang tiba-tiba menghadap belakang hanya untuk mengatakan itu padanya. Memang kenapa dengan bangkunya?

"Maksud? Bisa ngomong yang jelas?"

Siswa itu gugup sendiri mendengar pertanyaan dingin Sera. Gadis itu kenapa jutek sekali?

"Sebelah lo bangkunya si cupu. Lo bisa aja diusik Daksa kalo duduk sama dia. Tadi kata lo gak suka diusikkan? Kalo gitu, jangan duduk disitu!"

Daksa? Siapa lagi dia? Bahkan setelah Daiva masih ada Daksa juga. Kenapa mamanya tidak pernah memilih sekolah yang normal?

"Daksa gak suka ada yang dekat sama si cupu. Walau itu cuma duduk berdua. Daksa tetep gak suka"
"Kenapa? Cemburu?"

Siswi itu melotot mendengar ucapan Sera. Apa gadis itu gila?

"Mereka itu sama-sama cowok. Masa cowok cemburu sama cowok" ucap siswi itu gak terima.
"Kalo gitu kenapa larang orang buat duduk sama dia? Emang siapa Daksa?"
"Lo-"
"Urus urusan lo sendiri!"

Setelah Sera mengatakan hal itu, siswi yang berada didepannya langsung berpaling. Dia takut dengan Sera yang terkesan menakutkan. Sera terlalu angkuh untuk didekati. dia hanya berharap gadis baru itu tidak akan bertemu dengan Daiva. karna itu akan membahayakan dirinya sendiri.

Wah ... kalian masih bertahan buat baca? Terima kasih ya 😆. Gimana tentang Sera, Daksa dan Daiva? Ada yang mau tau tentang mereka nggak?

silentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang