"Hidup dengan penuh keindahan" itulah kata yang sesuai untuk Maria Sofia Isabella wanita cantik dengan banyak talenta yang dia miliki serta otak yang cerdas.
Bagaimana jadinya jika semua keindahan yang dimiliki Maria sekarang akan menghilang satu pe...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Arjune, ngapain lo disini?"
"Eza? G-gue.." Favian bingung menjawab apa.
"Yaudah, masuk mobil gue aja dulu. Cerita nya sambil jalan aja, sekalian lo belum makan kan?" Tanya Eza.
"Lo serius?" Ujar Favian dan diangguki oleh Eza.
Favian pun dengan segera memasuki mobil Eza, mereka menuju cafe yang tak berada jauh dari rumah Eza.
"Lo kenapa? Berantem sama ayah lo lagi?" Celetuk Eza yang sudah tau dengan faktor permasalahan Favian.
"Ya, seperti biasalah." Jawab Favian dengan santai nya.
"Ayah lo dari dulu nggak berubah, suka banget mukulin anak nya. Sampai sampai orangtua gue aja, berniat buat ngambil lo jadi anak mereka." Ucap Eza.
Bukan hal yang baru bagi Eza dan kawan kawan nya ketika melihat Favian yang selalu mendapat pukulan dari ayah nya, bahkan orangtua mereka juga mengetahui hal yang terjadi kepada Favian.
"Hehe.. huhh!" Favian pun menghembuskan nafas kasar nya.
"Kenapa lo?" Tanya Eza.
"Gue baru ketemu sebuah fakta yang bikin ayah benci banget sama gue, sampai sekarang gue masih nggak nyangka ternyata itu alasan ayah marah sama gue." Senyum pahit terlukis diwajah Favian yang sedang menatap makanan nya.
"Nggak apa apa, Arjune. Lo masih ada gue, teman teman lo, and jangan lupa lo boleh anggap orangtua gue itu orangtua lo juga." Eza menepuk pelan bahu sahabat nya itu.
Mereka telah selesai makan dan Eza pun mengajak Favian untuk pulang kerumah nya, di sepanjang jalan Favian menatap ke arah luar jendela sembari memikirkan perkataan ayah nya tadi.
"DAVINA, KAMU ITU BERBEDA DENGAN DIA! AYAH NGGAK TAU DIA ANAK SIAPA, MAMAH KAMU HAMIL DISAAT DIA SUDAH SELINGKUH SAMA LELAKI ITU!"
"MASIH UNTUNG SAYA MAU MENGASUH KAMU, FAVIAN! KAMU INI MEMANG ANAK NGGAK TAU DIRI, DAVINA MEMANG BERBUAT SALAH TAPI DIA BISA MEMPERBAIKI NYA BUKAN SEPERTI KAMU! SEANDAINYA SAYA BISA MEMILIH, SAYA LEBIH BAIK TIDAK MENGASUH KAMU! SAYA MENYESAL TELAH MERAWAT KAMU, JIKA TAU MAMAH MU AKAN PERGI SEPERTI INI."
Eza yang melihat tingkah sahabat nya yang aneh mencoba memanggilnya, akan tetapi Favian tak merespon sama sekali. Sampai akhirnya, Eza pun memukul tangan Favian dengan cukup keras.
"Anjir!" Favian yang kaget ingin membalas balik tapi Eza menahan nya.
"Eitss... tunggu dulu! Gilak lo mau balas gue, masih untung lo nggak kesurupan gara gara bengong terus." Marah Eza yang tak terima karena Favian ingin memukul nya.
"Udah sampai?" Tanya Favian.
"Yoi, ayo buruan turun." Ajak Eza dan diikuti oleh Favian, Favian menarik nafasnya pelan sebelum memasuki rumah itu.