22. | Pertunangan

141 121 6
                                    

Favian dan Eza pun pergi ke ruang tamu untuk meminta izin kepada orangtua Eza, Favian yang masih canggung hanya mengekor dibelakang Eza

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Favian dan Eza pun pergi ke ruang tamu untuk meminta izin kepada orangtua Eza, Favian yang masih canggung hanya mengekor dibelakang Eza.

"Mah, pah. Aku sama Arjune izin ya, mau pergi ke acara pertunangan temen." Mamah yang mendengar kata 'pertunangan' seketika tersenyum sumringah.

"Kenapa, mah?" Tanya Eza yang bingung melihat ekspresi mamah nya.

"Kamu kapan nyusul?" Tanya mamah Eza sambil menaik turunkan alis nya.

"Please lah, mah. Kyla masih kecil, dia masih sekolah." Jawab Eza frustasi dengan tingkah mamah nya.

"Tau nih, mamah. Biarin itu jadi urusan Kyla dan Eza, lagian mereka udah dewasa bisa ngurus diri mereka sendiri asalkan nggak kebablasan aja." Lirik papah ke Eza dengan tatapan mengintimidasi.

"Eza pernah kebablasan sekali." Ucap Eza dengan tampang santai nya.

"Apa kamu bilang, Eza?" Tanya papah yang seakan akan ingin memakan orang.

"Iya, aku pernah ngajak dia makan kebab di kedai kebablasan. Emang nggak boleh?" Papah yang mendengar itu hanya bisa menepuk jidat nya, begitu juga dengan mamah dan Favian yang hanya bisa tertawa.

"Pergi sana kamu, ganggu papah sama mamah lagi ngebucin aja." Usir papah yang sudah kesal dengan anak nya itu.

"Pah." Panggil Eza.

"Apa?" Jawab papah yang sedang manja ke mamah.

"Udah tua, bukan nya tambah sadar malah makin nggak tau malu." Gerutu Eza.

"Papah masih bisa dengar, Eza." Sahut papah yang menatap Eza dengan tatapan tajam, Eza yang ditatap hanya bisa tersenyum.

"Kenapa kamu manggil papah?" Tanya papah Eza.

"Ada ini nggak?" Ucap Eza sambil menggesekan jari telunjuk dan jempol nya.

"Ohh... tentu ada." Sahut papah Eza dan dengan usil nya, ayah Eza memasukan tangan nya ke kantong celana dan mengeluarkan kembali lalu memberikan love finger ke Eza.

"Ih bukan itu maksud aku, pah." Protes Eza yang kesal dengan jokes papah nya.

"Tenang dulu, nih buat kamu dan ini buat Arjune." Papah Eza menyodorkan uang berwarna merah dan masing masing, mereka mendapatkan 5 lembar. Favian yang masih canggung enggan untuk menerima uang itu akan tetapi, papah Eza memaksa nya untuk menerima.

"Makasih, om." Ucap Favian sembari mencium tangan mamah dan papah Eza.

"Lain kali, kamu panggil tante sama om itu papah dan mamah aja. Kamu itu sudah tante anggap sebagai anak juga, jadi jangan sungkan." Ujar mamah Eza sembari mengusap kepala Favian dengan lembut.

"Iya tante. eh, maksudnya ma-mamah." Sahut Favian.

"Yaudah, kalo gitu Eza dan Arjune izin pamit. Kelamaan kalo nunggu mamah main drama drama an, keburu acara nya selesai." Mamah yang mendengar itu dengan segera ingin memukul Eza akan tetapi, Eza terlebih dahulu kabur keluar rumah.

HARSA {Revisi}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang