44. | Perbedaan Yang Nyata

169 131 38
                                    

"Theo, aku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Theo, aku..."

"Fin, kalau Lo masih ragu dengan ini semua. Tolong kasih gue waktu buat yakinin lo. Dan kalau gue balik nanti, gue harap Lo udah cukup yakin sama perasaan gue." Theo memberikan bunga itu ke Fina, lalu pergi.

Favian dan Maria pun pergi menyusul Theo, didalam kelas Theo sudah duduk bersama Bono dan Thya.

"Thya." Maria kaget ketika melihat Thya dengan santainya masuk sekolah, baru saja kemarin ia tertembak tapi sekarang ia sudah bisa kesekolah.

"Lo nggak apa apa masuk sekolah?" Tanya Maria.

Thya hanya mengangkat jari jempol nya yang menandakan bahwa ia baik baik saja.

"Maksud Lo apa?" Tanya Bono sembari memukul belakang Theo.

"Maksudnya?" Tanya Theo bingung.

"Lo bilang akan yakinin Fina, terus gimana caranya Lo yakinin dia sedangkan kalian berdua aja dari awal udah berbeda." Ujar Bono.

"Gue tinggal ngikutin dia." Ucap Theo dengan santainya sembari memainkan ponsel.

"Theo bego." Lagi lagi, Bono memukul keras belakang Theo.

"Anying lo, ada dendam apa sih sama gue? Perasaan mukul terus." Theo ingin membalas Bono tapi dengan segera ditahan oleh Thya.

"Lo serius mau ngikutin dia?" Tanya Thya dengan serius.

Theo menganggukkan kepalanya dengan semangat.

"Theo, agama itu bukan mainan." Ujar Thya.

"Perasaan gue juga bukan mainan, Thya. Karena itu, gue rela pindah demi Fina." Sahut Theo.

"Tapi, Lo nggak bisa egois kayak gini. Lo mikirin nggak perasaan Fina, kalau dia tau Lo pindah agama demi dia bukan karena Lo udah yakin. Gue tau kalau Lo sayang sama dia, cuman fikirin lagi. Fikirin semuanya dengan matang, gue yakin Lo udah dewasa buat hadapin ini semua." Thya menepuk pelan pundak saudara kembarnya itu.

Tanpa mereka sadari, Fina lewat didepan kelas itu dan mendengar semua percakapan mereka. Entah mengapa hati Fina seketika merasa tergetar, ada muncul rasa bersalah dan rasa yang tak pernah ia rasakan selama ini hingga membuat ia bingung.

Fina pun berlari dan masuk kedalam kelasnya, ia berusaha tak ingin mengingat tentang Theo tapi ia gagal. Dalam hati, Fina terus mengucapkan kalimat dzikir ia takut bahwa ini hanyalah perasaan hawa nafsu semata nya yang ingin memiliki Theo dan melupakan Allah dihatinya.

Semakin ia berdzikir, entah mengapa wajah Theo selalu hadir didalam ingatan nya. Fina semakin kuat berdzikir dan ia pun dikejutkan dengan seseorang yang menepuk pelan pundaknya.

"Astagfirullah hal adzim." Fina membuka matanya dan ia menatap ke arah orang itu.

"Kamu kenapa?" Tanya Syaqila.

HARSA {Revisi}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang