"Hidup dengan penuh keindahan" itulah kata yang sesuai untuk Maria Sofia Isabella wanita cantik dengan banyak talenta yang dia miliki serta otak yang cerdas.
Bagaimana jadinya jika semua keindahan yang dimiliki Maria sekarang akan menghilang satu pe...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hubungan beda agama itu harus ada pengorbanan, dia atau Lo yang harus ngalah dan yang lebih parahnya lagi adalah putus di saat masih sama sama sayang."
~Bono~
****
Bel istirahat pun berbunyi, Kyla dan Maria bergegas pergi ke kantin mereka takut akan mengantri panjang. Sesampainya dikantin, Maria pun ikut mengantri sedangkan Kyla memilih tempat duduk. Setelah sekian lama mengantri, Maria pun mendapatkan bakso pesanannya.
Disaat Maria membawa mangkok itu ke arah Kyla, tiba tiba ada seseorang yang menyenggol nya sehingga membuat kuah bakso yang panas itu tumpah ke tangan serta badan Maria. Kyla yang kaget langsung menghampiri Maria sembari membawa tissue, Maria hanya bisa merintih menahan rasa panas ditangannya.
Favian dan kawan kawannya tampak bingung melihat orang orang berkerumun, mereka pun perlahan mulai memasuki keramaian itu. Dan betapa terkejutnya Favian, ketika melihat Maria yang terduduk dengan kondisi tangan yang sudah memerah.
"Tangan kamu kenapa?" Tanya Favian cemas.
"Nggak apa apa, ini cuman ke siram kuah bakso doang tadi." Sahut Maria dengan entengnya.
"Ke siram doang kamu bilang? Sini, pegangan yang erat dibahu aku. Jangan dilepasin!" Favian yang penuh kekhawatiran dengan cepat mengangkat Maria dan membawanya ke UKS.
****
"Gimana, dok?" Tanya Favian.
"Ini saya kasih salep, mohon dengan rutin dioleskannya." Ucap dokter itu.
"Baik, dokter. Terimakasih." Dokter itu pun tersenyum lalu pergi meninggalkan Favian dan Maria.
Maria tampak meringis menahan pedih ditangan nya, Favian pun berjalan ke arah Maria dengan wajah yang cemas.
"Sini tangannya, kenapa kamu tadi bisa sampai ke siram kuah bakso?" Tanya Favian sembari mengoleskan salep dari dokter.
"Nggak tau." Jawab Maria.
"Favian." Panggil Maria.
"Hmm... kenapa, sayang?" Tanya Favian dengan lembut.
"Perih." Jawab Maria sembari meringis.
"Sabar, ya. Lain kali kalau kamu mau beli sesuatu, minta tolong aja sama aku. Jangan sendirian lagi dan misalkan aku nggak ada disana, telfon aja aku pasti aku bakalan lari datang ke kamu." Favian mengusap tangan Maria dengan pelan dan tersenyum ke arahnya.
"Tapi kalau misalkan kamu jauh, gimana?" Tanya Maria.
"Aku bakalan tetap datangin kamu lah." Jawab Favian tanpa pikir panjang.