Bab 20

24 2 0
                                        

Kereta kuda terbakar hingga sisa kerangkanya saja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kereta kuda terbakar hingga sisa kerangkanya saja.

Kaguya duduk bersimpuh di depan kereta kuda. Dikelilingi oleh empat samurai berzirah lengkap.

Tak jauh dari gadis itu, Mitsuki tengah terluka parah.

Seorang lelaki berbadan tambun tertawa terbahak-bahak. Tawa yang menggelegar di antara petir.

Takayuki menunduk. Menatap tetesan demi tetesan air hujan yang jatuh ke pangkuannya.

Ryan dan Frank berlari menembus hujan dan tiba di tempat itu dengan terengah-engah

"Ketemu juga kau, Takayuki!" kata Frank.

Seperti dikomando, Ryan pun melanjutkan, "Mari selesaikan urusan kita bertahun-tahun yang lalu."

Takayuki berbalik. Matanya berkaca-kaca.

Hentikan!

Hentikan!

"Hentikan!" Takayuki menusuk diri sendiri dengan katana, tepat di dada.

Lubang berdiameter satu senti menganga di dada samurai itu.

Api biru melesat dari lubang, membentuk percikan lingkaran di sekeliling samurai itu.

Kobaran yang melalap kayu seakan tersedot menuju api biru, membuat nyala api biru semakin besar hingga menyelimuti Takayuki.

Apa yang terjadi? pikir Ryan.

Lidah api yang menari-nari menyambar remaja itu. Refleknya menepis api dengan punggung tangan.

Panas.

Takayuki meloncat seperti kesurupan. Mencakar-cakar udara.

Ryan memasang kuda-kuda.

Frank, Katana Mode

Tubuh Frank diselimuti cahaya, lantas berubah menjadi katana yang digenggam Ryan.

Katana menyabet, menghantam cakaran Takayuki.

Alih-alih terluka, amukan samurai itu semakin garang. Lidah api yang bagaikan ekor binatang buas menampar wajah Ryan.

Ryan meluruskan katana, menangkis.

"Yamero¹! Takayuki!" terdengar teriakan Mitsuki.

Ryan mundur. Namun Takayuki terus mengejarnya.

Lidah api bercabang jadi sembilan, lantas menghujam tanpa ampun. Ryan memainkan katana dengan lincah, menahan setiap serangan.

Angelo tiba terlambat.

"Pinjamkan aku kekuatanmu, Angelo!" teriak Ryan.

Sepasang sarung tangan hitam segera terpasang di tangan remaja itu. Ryan memukul sekuat tenaga.

Pukulan telak mengenai perut Takayuki. Samurai itu berdiri sempoyongan.

"Hahahaha!" ia tertawa. Namun bukanlah suara Takayuki biasa.

Monumen KubusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang