HARI UJIAN :):(

20 5 0
                                        

Alika melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah dengan perasaan yang sejak tadi terasa aneh. Dadanya tidak tenang, seolah ada sesuatu yang akan terjadi hari itu.

"Aneh banget... kenapa perasaanku nggak enak ya," batinnya pelan sambil menggenggam tali tas lebih erat.

Lorong sekolah pagi itu cukup ramai karena siswa-siswa sedang bersiap menghadapi ujian. Namun semakin dekat Alika menuju ruang ujian, langkahnya perlahan melambat.

Di depan kelas, ia melihat sekumpulan cewek sedang bergerombol ramai di satu tempat.

"Widih... apaan tuh?" gumam Alika sambil menyipitkan mata penasaran.

Baru saja ia ingin menaruh tasnya, pandangannya langsung tertuju pada sosok yang membuat hatinya seketika jatuh.

Di sana ada Zen.

Dan di sekeliling cowok itu, berdiri gerombolan geng Sofia yang sedang heboh bercanda dan mencari perhatian. Suasana di sekitar bangku Zen langsung terasa penuh dengan suara tawa dan tingkah caper yang dibuat-buat menggemaskan.

Sofia bahkan terlihat duduk santai dekat bangku Zen sambil sesekali tersenyum manis ke arahnya.

Melihat itu, wajah Alika langsung berubah datar.

"Nah kan... udah kuduga," batinnya lirih.

Perasaan tidak enak yang sejak tadi mengganggu pikirannya ternyata benar-benar nyata.

Perasaan tidak enak yang sejak tadi mengganggu pikirannya ternyata benar-benar nyata

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Suasana ruang ujian yang tadinya ramai perlahan mulai membuat Alika tidak nyaman. Dari bangkunya, ia bisa melihat Sofia masih terus mencari perhatian Zen tanpa rasa malu sedikit pun.

Tiba-tiba, Sofia mengangkat tangannya lalu mengusap rambut Zen pelan sambil menepuk-nepuk kepalanya seolah sedang bersikap manis.

Namun reaksi Zen justru di luar dugaan.

Plak.

Zen langsung menepis tangan Sofia dengan kasar.

"Bisa pergi dari sini nggak? Aku risih. Ini ujian!" bentak Zen dengan nada keras hingga beberapa siswa langsung menoleh.

Sofia terlihat sedikit kaget, tapi ia masih mencoba tersenyum manis.

"Ihh, Zen... maksud aku kan baik. Aku cuma pengen kamu hari ini lebih semangat, iya kan?" ucap Sofia manja.

Bahkan tanpa izin, Sofia duduk di sebelah Zen sambil memegang paha cowok itu pelan.

"Biar Zen makin semangat ngerjain ujiannya..." lanjutnya dibuat-buat imut.

Zen langsung berdiri setengah emosi.

"PERGI! PERGI! SHUHH! Jijik, najis! Kamu bukan penyemangatku hari ini, malah bikin risih tau nggak?! Ganggu aja!" bentaknya tanpa menahan diri lagi.

Seketika suasana kelas jadi hening.

Wajah Sofia langsung berubah merah karena malu dan marah bercampur jadi satu.

"Kamu gitu ya?! Udah aku baikin malah kamu kayak gitu?! Sana-sana sama si jamet aja!" balas Sofia dengan nada tinggi.

Zen malah menatap Sofia tajam tanpa rasa takut sedikit pun.

"Yaudah, aku nggak peduli! Mending sama si jamet, karena si jamet di mataku lebih cantik dan lebih sopan daripada kamu!" jawab Zen lantang.

Kalimat itu membuat jantung Alika langsung berdegup keras.

Namun di saat yang sama, keributan mereka mulai membuat suasana ruang ujian kacau. Alika yang sejak tadi mendengarkan dari bangkunya akhirnya benar-benar muak.

Dengan wajah kesal, gadis itu langsung berdiri dari kursinya.

"KALIAN KALAU MAU RIBUT PERGI AJA! NGGAK USAH UJIAN SEKALIAN!" bentak Alika keras sampai satu ruangan terdiam.

Sofia langsung melotot ke arah Alika.

"Heh, pahlawan kedua! Nggak usah ngusir-ngusir. Apa lo mau gue usir?!" balasnya nggak kalah emosi.

Namun sebelum pertengkaran makin panjang, guru pengawas langsung menghampiri mereka.

"Heh, sudah-sudah! Ini mau ujian. Selesai! Bubar semuanya!" tegur guru dengan nada tegas.

Akhirnya keributan itu berhenti juga. Sofia kembali ke tempat duduknya dengan wajah kesal, sementara suasana kelas perlahan kembali tenang.

Namun Alika masih menahan emosi di dalam hatinya. Ia benar-benar kesal melihat Sofia terus mengganggu Zen.

Sementara itu, Zen diam-diam menatap Alika dari bangkunya.

Ada rasa bersalah sekaligus hangat di hatinya karena gadis itu sudah membelanya di depan semua orang.

"Cara minta maafnya gimana ya..." batin Zen sambil memandangi Alika diam-diam.

Tatapannya lembut, penuh rasa yang selama ini belum pernah berani ia ungkapkan secara langsung.

ALZEN Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang