Malam itu, sekali lagi Alika melamun.
Ia duduk di atas atap genteng rumahnya, menatap langit malam dengan tatapan kosong. Angin malam berhembus pelan, membuat rambutnya bergerak lembut.
Entah sudah berapa lama ia duduk di sana.
Di rumah, rasanya tidak ada lagi hal yang bisa membuatnya merasa segembira saat di sekolah.
Alika mengambil ponselnya, lalu membuka layar dan masuk ke galeri.
Di sana ada sebuah album khusus.
Album itu berisi foto satu orang.
Muhammad Zen Damare.
Alika menatap foto itu cukup lama.
🙇🏻♀️ Alika : "Kamu nungguin aku nggak ya... di sana..."
Ia menyandarkan kepalanya ke dinding rumah di sampingnya, masih memandang layar ponselnya dengan mata yang sedikit kosong.
⸻
Di sisi lain, Zen ternyata merasakan hal yang sama.
Zen duduk di teras rumahnya. Kepalanya bersandar pada tembok dinding teras, sementara matanya menatap tanaman-tanaman di halaman.
Tatapannya kosong.
Sejak Alika tidak masuk sekolah, hari-harinya terasa berbeda. Bahkan sampai menjelang libur sekolah, rasa sepi itu masih ada.
Kakaknya yang melihat Zen terus-menerus melamun akhirnya merasa kesal dengan tingkah adiknya yang terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri.
🤷🏻♂️ Masnya Zen :
"Nopo meneh sih, ngelamun teko wingi? Emang kowe nduwe pacar?"
(Kamu kenapa lagi sih, melamun dari kemarin? Emang kamu punya pacar?)
🙍🏻♂️ Zen :
"Orak, Mas."
(Enggak, Mas.)
🤷🏻♂️ Masnya Zen :
"La terus nopo?"
(Lah terus kenapa?)
🙍🏻♂️ Zen :
"Gakpo."
(Nggak apa-apa.)
🙎🏻♂️ Masnya Zen :
"Turu kono, wes bengi. Kowe rak ndelok jam, po?"
(Tidur sana, sudah malam. Kamu nggak lihat jam?)
🙍🏻♂️ Zen :
"Yo, Mas... sepurane."
(Iya, Mas... maaf.)
Zen pun berdiri perlahan.
Ia berjalan menuju kamarnya, melewati ruang tamu dengan langkah yang terlihat lemas.
Ibunya yang melihatnya hanya bisa memandang bingung.
Ada apa sebenarnya dengan anaknya itu?
Tatapan matanya terus mengikuti Zen sampai pintu kamar tertutup.
Zen membuka pintu kamarnya, lalu menutupnya pelan.
Ibunya yang masih penasaran akhirnya bertanya kepada kakaknya Zen.
🙎🏻♂️ Masnya Zen :
"Mah, Zen itu nggak pernah kayak gitu loh, Mah. Tumben banget. Apa dia galau ya, Mah?"
🧕🏻 Mamah Zen :
"Mungkin saja, Nak. Soalnya cewek yang dia taksir kan habis pemulihan, jadi nggak masuk sekolah."
Ia tersenyum kecil.
🧕🏻 Mamah Zen :
"Biarin dulu aja, Mas. Kasihan anaknya... mungkin dia nggak ada yang bisa semangatin di sekolah."
🙆🏻♂️ Masnya Zen :
"Yaudah, Mah. Mas mau tidur ya, Mah."
🧕🏻 Mamah Zen :
"Iya, sana tidur."
Kakaknya pun berjalan menuju kamarnya.
Namun ketika melewati kamar Zen, ia berhenti sebentar di depan pintu.
Dengan wajah iseng, ia mengetuk pintu itu.
🚪 Tok... tok... tok...
🙎🏻♂️ Masnya Zen :
"Jangan galau, woy! Mending tidur!"
Setelah itu, ia langsung berlari menuju kamarnya sendiri dan menutup pintu.
Memang...
kakaknya selalu saja usil kepada adik laki-lakinya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALZEN
RomansaSenja itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Zenn berdiri di hadapan Alika, seolah menahan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Angin sore berhembus pelan, membuat suasana perpisahan itu terasa semakin nyata. Dengan suara yang sedikit bergetar, Zenn...
