September 2021
Akhirnya sekolah dimulai lagi.
Setelah hampir dua tahun belajar dari rumah, anak-anak akhirnya bisa kembali merasakan suasana sekolah. Meski begitu, semuanya masih belum benar-benar normal. Aktivitas masih dibatasi dan sistemnya masih bergantian.
Saat itu ada jadwal khusus untuk masuk sekolah.
Nomor absen ganjil masuk pagi, sedangkan nomor absen genap masuk siang.
Kebetulan, Alika dan Zen sama-sama memiliki nomor absen ganjil.
Artinya... mereka bisa berada di sekolah pada waktu yang sama.
Alika sebenarnya tidak bisa melihat Zen setiap hari. Hanya lima hari dalam seminggu. Tapi entah kenapa, lima hari itu terasa seperti setiap hari bagi Alika.
Saat itu perasaan Alika masih... netral.
Suka? Iya, mungkin suka.
Tapi apakah benar-benar suka? Ia sendiri juga tidak yakin.
"Hadeh... kenapa sih kalau suka sama orang rasanya begini," gumamnya dalam hati.
Ada satu memori yang sampai sekarang tidak pernah ia lupakan.
Hari itu Zen pindah tempat duduk—tepat di belakang bangku Alika.
Di situlah Alika masih sempat berkomunikasi langsung dengannya.
Kadang Alika iseng mencoret-coret tempat pensil atau pulpen milik Zen, bahkan sampai menuliskan tanda tangannya di sana.
Suatu hari Zen sempat menyadarinya.
Tanpa banyak bicara, Zen langsung mengambil kembali tempat pensilnya begitu saja.
Alika hanya terdiam.
"Enggak apa-apa," pikirnya.
Lagi pula... ia bukan siapa-siapa bagi Zen.
Jadi tidak ada alasan untuk merasa sakit hati.
⸻
Waktu itu mereka masih kelas 5 SD.
Ada aturan sederhana di kelas:
anak perempuan tidak boleh duduk sebangku dengan anak laki-laki, kecuali jika memang terpaksa.
Saat pemilihan tempat duduk dilakukan, Alika sedang sakit dan tidak masuk sekolah.
Sementara itu Zen tetap masuk seperti biasa.
Teman-teman Alika sebenarnya tidak tahu kalau Alika menyukai Zen.
Perasaan itu ia simpan rapat-rapat.
Hanya satu orang yang tahu.
Zaza.
Teman dekatnya.
Dan sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Ketika Alika kembali ke sekolah, ia baru mengetahui satu hal.
Ia duduk sebangku dengan Zen.
Teman-temannya langsung heboh, terutama yang sedikit mengetahui tentang perasaan Alika.
Sementara Alika sendiri hanya bisa tersenyum kecil.
Di dalam hatinya ada rasa senang...
Tapi juga sedikit sedih.
Karena saat itu ia harus izin sakit selama dua hari lagi.
Artinya...
Ia harus meninggalkan Zen untuk sementara.
⸻
Gambaran Alika tentang dirinya dan Zen:
Duduk bersama.
Bercanda bersama.
Menghabiskan waktu di kelas dengan cerita kecil yang sederhana.
Namun kenyataannya tidak selalu seperti itu.
Yang benar-benar terjadi justru terasa berbeda.
Hubungan mereka perlahan menjadi asing.
Zen lebih sering pergi bersama teman-temannya.
Lebih sering menjauh dari Alika.
Dan Alika hanya bisa melihat semuanya... dari jauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALZEN
RomansaSenja itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Zenn berdiri di hadapan Alika, seolah menahan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Angin sore berhembus pelan, membuat suasana perpisahan itu terasa semakin nyata. Dengan suara yang sedikit bergetar, Zenn...
