— 1 September 2022
Sebenarnya, sejak awal Alika sudah mulai curiga dengan sikap Zen hari itu.
Entah kenapa, dari siang sampai sore Zen terus-terusan mencari eye contact dengannya. Setiap Alika menoleh, cowok itu selalu terlihat sedang memandang ke arahnya seolah sengaja memperhatikannya diam-diam.
"Zen kenapa sih dari tadi ngeliatin aku terus? Ngapain dah..." gumam Alika pelan sambil pura-pura fokus ke hal lain.
Namun beberapa detik kemudian ia langsung menepis pikirannya sendiri.
"Eitss, jangan kepedean dulu..." batinnya cepat.
Tapi makin lama, Alika malah makin jengkel sekaligus bingung. Tatapan Zen nggak berhenti sama sekali.
"Ini anak kenapa sih... eye contact terus dari tadi," pikirnya sambil menahan kesal.
Salah satu temannya yang sadar dari tadi Alika terus melirik Zen langsung menyenggol lengannya pelan.
"Kamu kenapa sih, Al? Dari tadi nyinyirin si Zen terus," godanya sambil tertawa kecil.
"Jangan-jangan... suka lagi sama Zen?"
"Dih, enggak ya! Aku cuma bingung..." jawab Alika cepat sambil memalingkan wajah.
"Bingung apa? Bingung jadi calon menantu mamahnya Zen?" ledek temannya semakin menjadi-jadi.
"Dih, apaan sih. Aku aja nggak mikir sampai situ," balas Alika salah tingkah.
Meski begitu, pipinya mulai terasa hangat sendiri.
Hari Sial Tapi Bahagia
Karena sudah kelas senior, sekolah Alika mengadakan tambahan materi untuk persiapan ujian akhir dan kelulusan.
Kalau adik kelas masuk pukul 07.30, kelas Alika harus sudah datang sekitar pukul 06.30 pagi.
Dan hari itu... Alika telat.
Padahal cuma beda sepuluh menit.
"Hah... aku telat banget nih. Waduh..." keluhnya sambil buru-buru menaiki tangga sekolah.
Di sekolahnya, siswa yang terlambat tidak diperbolehkan masuk kelas sampai jam tambahan materi selesai. Mau nggak mau, Alika harus menunggu di luar.
"Huftt... capek banget. Tangga banyak banget dah. Mana telat lagi. Duduk kursi aja deh, nggak boleh masuk juga..." gerutunya sambil menjatuhkan tubuh ke kursi lorong sekolah.
Sekitar sepuluh menit kemudian, beberapa temannya keluar kelas dan langsung menghampirinya.
"Loh, Al? Kamu telat?" tanya salah satu dari mereka.
"Ya menurutmu?" jawab Alika datar.
"Hehe... maap-maap. Aku tahu kamu lagi bad mood. Tapi aku punya berita bagus buat kamu. Jangan tantrum dulu ya..."
Alika langsung menatap curiga.
"Berita apa?!"
"KAMU DISUKAIN ZEN! YEYYY!" teriak temannya heboh.
"Hah?! Tahu dari mana coba?" Alika langsung berdiri kaget.
"Kalian bohong ya? Nggak mungkin seorang Zen yang susah didapetin suka sama aku yang jamet..." katanya nggak percaya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kalau nggak percaya, coba tanya anak-anak satu kelas. Mereka semua jadi saksi waktu Zen ngomong kayak gitu."
Jantung Alika langsung berdetak nggak karuan setelah mendengar kalimat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALZEN
RomanceSenja itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Zenn berdiri di hadapan Alika, seolah menahan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Angin sore berhembus pelan, membuat suasana perpisahan itu terasa semakin nyata. Dengan suara yang sedikit bergetar, Zenn...
