Suatu hari, Zenn akhirnya berkata jujur.
🙋🏻♂️ Zenn :
"Iya... itu memang aku yang suka sama kamu."
Ia lalu menceritakan bagaimana semuanya bermula.
🙋🏻♂️ Zenn :
"Dulu aku lagi ngobrol sama Maulana. Terus tiba-tiba Maulana nanya ke aku."
👥 Maulana :
"Sebenernya kamu suka siapa sih, Zenn? Kayaknya kamu suka sama anak kelas sebelah, ya?"
Zenn langsung menjawab tanpa ragu.
🙋🏻♂️ Zenn :
"Enggak! Aku tuh seneng sama Alika!"
Nada suaranya bahkan terdengar cukup keras saat itu.
Sejak Alika mengetahui cerita itu, hatinya mulai sedikit percaya bahwa perasaan Zenn memang nyata. Namun di dalam dirinya masih ada sedikit keraguan yang belum hilang.
⸻
Cerita dari Maulana (kisah asli)
Maulana juga pernah menceritakan semuanya.
Menurutnya, sejak kelas 5 sampai kelas 6, Zenn sebenarnya sudah sering bilang kalau dia menyukai Alika. Tapi Zenn orangnya gengsi sekali untuk menyatakan perasaannya secara langsung.
Suatu hari mereka bermain di rumah Lio. Saat itu, semua yang datang ke rumah Lio membuat semacam tantangan: setiap orang harus mengakui perasaan mereka kepada orang yang mereka suka.
Maulana masih mengingatnya dengan cukup jelas.
Saat kelas 6, Zenn benar-benar sudah menyukai Alika dengan serius. Bahkan Zenn sempat bilang ke Maulana kalau dia ingin confess.
Tapi pada akhirnya... dia tetap tidak jadi.
Saat di rumah Lio pun sebenarnya Zenn masih gengsi dan tidak berani mengatakannya.
Akhirnya Maulana mengambil langkah lebih dulu.
Ia mengaku pada Zaza terlebih dahulu.
Barulah setelah itu Zenn mulai berani untuk ikut mengungkapkan perasaannya.
Ada satu hal yang masih diingat Maulana sampai sekarang.
Saat mereka di rumah Lio, Zenn bahkan sempat dikejar anjing di halaman rumah. Tapi anehnya, di tengah kepanikan itu, Zenn masih sempat melihat WhatsApp Alika.
Seolah-olah... apa pun yang terjadi saat itu, pikirannya tetap tertuju pada Alika.
⸻
Dan bagi Alika, semua cerita itu menjadi kenangan yang tidak akan pernah ia lupakan.
"Aku tidak akan melupakan kenangan ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
ALZEN
RomanceSenja itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Zenn berdiri di hadapan Alika, seolah menahan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Angin sore berhembus pelan, membuat suasana perpisahan itu terasa semakin nyata. Dengan suara yang sedikit bergetar, Zenn...
