ZEN AT MIDNIGHT

15 1 0
                                        

Malam itu langit dipenuhi bintang-bintang kecil yang menyinari suasana sunyi. Angin malam berhembus pelan masuk ke kamar Zen yang masih belum tidur sejak tadi.

Lelaki keturunan Aceh itu berdiri di dekat jendela kamarnya sambil menatap keluar dengan pikiran yang entah ke mana.

"Klik."

Suara jendela terbuka pelan memenuhi kamar.

Zen langsung menoleh ke belakang, memastikan keadaan aman. Saat merasa tidak ada siapa-siapa, ia mulai melancarkan aksinya. Perlahan, ia mengangkat satu kakinya ke atas meja belajar yang berada tepat di bawah jendela kamarnya.

Posisi jendela itu langsung mengarah ke genteng rumah, hampir mirip seperti kamar Alika yang juga punya akses ke atap rumahnya.

Dengan hati-hati, Zen mulai bersiap keluar lewat jendela.

Namun belum sempat tubuhnya naik sepenuhnya—

"Zen?"

Suara itu membuat tubuh Zen langsung membeku.

Ia menoleh cepat ke arah pintu dan mendapati ibunya berdiri di sana sambil memegang gagang pintu. Wanita berkacamata bulat itu menatapnya dengan wajah mengernyit penuh curiga.

Zen langsung tersenyum panik.

"Hehehe... maaf, Mah..."

Cepat-cepat ia menurunkan kembali kakinya dari meja belajar.

Ibunya hanya menghela napas pelan melihat tingkah anaknya itu. Setelah masuk ke kamar, wanita itu langsung duduk di tepi kasur Zen.

"Mamah tahu kamu masih sedih karena Alika nggak ada di sekolah, kan?" ucapnya lembut.

Mendengar nama itu disebut, Zen langsung terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca, seolah selama ini ia memang sedang menahan semuanya sendirian.

"Memangnya kamu nggak tahu kalau Alika udah pulang dari rumah sakit?" lanjut ibunya sambil memperhatikan wajah anaknya.

Zen langsung mengangkat kepala dengan ekspresi kaget.

"...Aku nggak tahu, Mah," jawabnya lirih.

"Iya. Ini mamah dapat info dari grup orang tua murid," jelas ibunya sambil menunjukkan layar ponsel.

Begitu membaca pesan itu, wajah Zen langsung berubah cerah.

"Yey... bisa ketemu lagi sama dia..." ucapnya spontan sambil memegang ponsel ibunya erat-erat.

Ibunya tersenyum kecil melihat reaksi anaknya yang langsung semangat lagi.

"Makanya, jangan sedih terus," katanya pelan.

Namun beberapa detik kemudian, tatapan ibunya berubah menyipit penuh selidik.

"Sekarang mamah mau tanya..."

Zen langsung menelan ludah.

"Tadi kamu mau ngapain loncat keluar jendela?"

"Hmmm..."

Tubuh Zen langsung tegang. Tangannya mulai gemetar kecil karena gugup.

"M-maaf..." katanya terbata-bata.

"Aku itu cuma... mau ngirup udara malam kok..." lanjutnya berusaha mencari alasan supaya pembicaraan cepat selesai.

Ibunya hanya menggeleng pelan sambil menahan senyum kecil.

"Mamah tahu kamu suka sama Alika. Tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan ya, Nak," ucapnya sambil mengelus lengan Zen lembut.

"Alika pasti balik lagi jadi penyemangat kamu."

Zen hanya diam mendengarkan.

"Sayangin Alika... kayak kamu sayang sama mamah."

Kalimat itu membuat Zen tersenyum kecil sambil menundukkan kepalanya malu.

"Udah sana, tidur dulu. Ini udah malam banget," kata ibunya sambil melirik jam di ponselnya.

Zen akhirnya merebahkan tubuhnya di kasur dan mencari posisi ternyaman untuk tidur.

"Yaudah... selamat tidur," ucap ibunya lembut sambil mengelus rambut lurus anaknya.

Tak lama kemudian, lampu tidur dimatikan, jendela ditutup kembali, dan kamar Zen pun kembali dipenuhi suasana malam yang tenang.

ALZEN Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang