Cowok bertubuh tinggi itu terlihat serius mengerjakan ujiannya. Dahinya mengerut kecil sambil sesekali memutar pensil di tangannya.
Namun beberapa menit kemudian, fokus Zen mulai buyar lagi.
Ia menopang dagunya dengan tangan sambil menatap kosong ke arah depan kelas.
"Aku khawatir sama Aika..." batinnya pelan.
Aika.
Itu adalah secret name yang diam-diam ia pakai untuk memanggil Alika di dalam pikirannya sendiri.
"Aika kira-kira kenapa ya... duh, aku gengsi buat ngechat dia," lanjutnya sambil menghela napas pelan.
Di depan kelas, guru pengawas yang sejak tadi memperhatikan murid-muridnya akhirnya sadar kalau ada satu siswa yang melamun cukup lama.
Beliau melirik jam dinding. Lima menit lagi ujian selesai.
Guru itu akhirnya berdiri dan mulai berbicara.
"Anak-anak, lima menit lagi waktunya habis. Dikoreksi dulu jawabannya ya."
Lalu pandangannya tertuju ke arah belakang kelas.
"Itu yang di belakang... siapa namanya?" tanya beliau sambil menunjuk Zen.
Maulana yang duduk di dekat Zen langsung menjawab cepat dengan senyum jahil.
"Zen, Bu."
Guru itu mengangguk pelan.
"Zen, ayo jangan melamun dulu. Dikoreksi jawabannya."
Satu kelas langsung pecah tertawa karena Zen ketahuan melamun sendirian.
"Hahahahahaha!"
Zen langsung melirik tajam ke arah Maulana.
"Woy, Maul..." katanya sambil memberikan BOOMBASTIC side eye khasnya.
"Apa way? Woy ngomong aja salting," balas Maulana ngakak.
Zen hanya mendecakkan lidah pelan.
"Hmm... iya."
"Shin Ting," tambah Maulana makin jahil.
Namun tiba-tiba Sofia ikut menyela dari samping.
"Maaf, Bu. Namanya M. Zen Damare."
"Owalah..." guru itu tertawa kecil. "Kirain tadi siapa."
Zaza yang duduk tak jauh dari sana ikut tersenyum melihat tingkah mereka.
Seketika satu kelas mulai ramai menggoda Zen.
"ZENNNN CIEEEEEE!"
Zen hanya tersenyum kecil. Senyumnya manis, lengkap dengan bintik kecil di dekat bibirnya yang makin terlihat saat ia malu.
Di tengah ramainya kelas, Zen diam-diam menepuk bahu Maulana pelan.
Maulana langsung menoleh sambil menyeringai jahil.
"Salting ya?"
"Oh ya jelas dong. Makasih ya, Bro," jawab Zen sambil tertawa kecil.
"Yoi. Kapan ditembak tuh? Bentar lagi lulus loh."
Zen terdiam sebentar sebelum tersenyum tipis.
"Nanti... waktu yang tepat."
🫰🏻 Confess Zen akan ada di part "Cerita Zen dan Maulana"
🔔 KRINGGG! JAM PULANG TELAH TIBA 🔔
Zen mulai membereskan barang-barangnya dengan cepat. Ia memasukkan alat tulis ke dalam tas biru kesayangannya lalu bersiap meninggalkan ruang ujian untuk terakhir kalinya.
Tas itu selalu ia pakai setiap hari. Mereknya bahkan sama persis seperti milik Alika. Dan entah kenapa, Zen tidak pernah ingin menggantinya.
Baru saja keluar kelas, seseorang memanggil namanya.
"Zen..."
Zen menoleh pelan.
"Apa?"
"Kamu nggak kangen Alika?" tanya Zaza tiba-tiba.
Zen langsung pura-pura santai.
"Emang napa?"
"Ditanya malah nanya balik, woy."
"Iyo nopo emang?" jawab Zen sambil menaikkan alis. (Iya, emang kenapa?)
Zaza menatap Zen beberapa detik sebelum akhirnya bicara serius.
"Kowe rak reti kabare Alika?" (Kamu nggak tahu kabarnya Alika?)
"Rak." (Nggak.)
"Alika masuk rumah sakit."
Langkah Zen langsung terhenti.
"Hah? Kok bisa?" tanyanya cepat dengan wajah panik.
"Dia kebentur lemari karena cedera kaki... juga gara-gara kejadian kemarin itu."
Wajah Zen langsung berubah bersalah.
"Aku... merasa bersalah..." gumamnya lirih sambil menunduk.
Zaza menepuk pundaknya pelan.
"Kamu harus cari cara supaya Alika senang di sana."
Zen hanya mengangguk pelan.
"Iya..."
✨ Plot twist: ternyata Zen dan Zaza adalah saudara. ✨
Sepanjang perjalanan pulang, Zen terus memikirkan Alika.
"Gimana ya caranya biar aku bisa komunikasi sama dia..." batinnya.
"Aku mau Aika baik-baik terus... dan senang di sana."
Beberapa detik kemudian, Zen tiba-tiba menghentikan langkahnya sendiri.
"...Apa aku kasih surat aja ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ALZEN
RomanceSenja itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Zenn berdiri di hadapan Alika, seolah menahan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Angin sore berhembus pelan, membuat suasana perpisahan itu terasa semakin nyata. Dengan suara yang sedikit bergetar, Zenn...
