Senja itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Zenn berdiri di hadapan Alika, seolah menahan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Angin sore berhembus pelan, membuat suasana perpisahan itu terasa semakin nyata.
Dengan suara yang sedikit bergetar, Zenn...
Setelah satu minggu dirawat di rumah sakit, akhirnya Alika diperbolehkan pulang. Namun karena kondisinya belum benar-benar pulih, dokter masih melarangnya untuk langsung kembali sekolah sampai hari Rabu tiba.
Padahal saat itu hari Senin.
Alika yang sudah terlalu rindu suasana sekolah hanya bisa pasrah menjalani masa pemulihan di rumah.
Karena bosan dan penasaran dengan keadaan sekolah, Alika langsung menghubungi Zaza, sahabatnya yang sudah lama tidak ia temui sejak dirawat di rumah sakit.
Tak lama kemudian, sambungan telepon tersambung.
"Halo, Al. Gimana kabarnya? Kamu sehat-sehat kan?" tanya Zaza dari seberang telepon.
"Baik, Za... tapi langsung ke topik aja deh. Zen gimana di sekolah?!" jawab Alika cepat tanpa basa-basi.
"Hadeh... baru mulai aja udah nanya tentang Zen," celetuk Zaza sambil tertawa kecil.
"Yaudah deh, aku kasih tahu. Tapi ada berita sedih sama berita bahagia."
"Hah? Berita sedih? Waduh, apaan tuh..." suara Alika langsung melemah.
"Janji dulu jangan sakit hati ya."
Kabar Baiknya 💗
"Pas kamu sakit, Zen kan duduknya di belakang kursimu. Dia sering banget ngelihatin depan yang kosong kayak lagi sedih gitu," cerita Zaza.
Jantung Alika langsung berdetak lebih cepat.
"Terus waktu ada doa bersama buat kamu supaya cepat sembuh..." lanjut Zaza.
"Ustazah bilang, 'Siapa yang mau nurunin kursinya Alika? Siapa tahu hari ini Alika bisa masuk sekolah.'"
"Nah, si Zen langsung berdiri dari tempat duduknya terus nurunin kursi kamu. Cieeee..." goda Zaza heboh.
"AAAAA?!" Alika langsung menjerit sambil menutup wajahnya sendiri dengan bantal.
"Tuh kan, tantrum lagi anak ini," ledek Zaza sambil tertawa ngakak di telepon.
Kabar yang Bikin Hati Nyeri
Setelah suasana sedikit tenang, suara Zaza mendadak berubah serius.
"Al... janji ya jangan marah, jangan nangis."
Alika langsung diam. Perasaannya mulai nggak enak.
"Si cewek yang kamu curigain selama ini..."
"Cewek yang bantuin Zen pas Pramuka itu?" tanya Alika pelan.
"Nah... iya."
"Iya, Al. Dia suka sama Zen."
"WHAT?! DIA BENERAN SUKA SAMA ZEN?!" teriak Alika sampai hampir menjatuhkan ponselnya sendiri.
"Sabar ya, Al. Ada aku di sini," ucap Zaza mencoba menenangkan.
"Tapi kalau dipikir-pikir... kamu tetap pemenangnya kok. Soalnya Zen kan suka sama kamu."
Alika menggigit bibirnya sendiri menahan tangis.
"Sumpah... aku nggak bisa nahan nangis ini..." bisiknya lirih.
"Udah, jangan nangis terus. Kamu pasti tetap jadi pemenangnya. Nggak mungkin tuh cewek," kata Zaza meyakinkan.
"Iya... mungkin ya, Za..." jawab Alika pelan, walaupun hatinya masih terasa sesak.
Beberapa detik kemudian, suasana telepon berubah hening.
"Yaudah, aku tutup dulu ya. Aku malah jadi ikut mau nangis. Kamu jangan nangis lagi, Al. Kuat."
"Sebelum tutup... boleh tahu namanya siapa?" tanya Alika penasaran.
"Namanya Sofia."
"Ohh... oke..."
"Bye-bye."
"Bye-bye..."
Setelah telepon berakhir, Alika hanya menatap layar ponselnya diam-diam. Nama "Sofia" terus terngiang di kepalanya malam itu.
YANG MAU MUKA SI SOFIA TAPI VERSI SAMARAN YAA
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
YANG MAU TAU MUKANYA ZAZA TAPI INI VERSI SAMARAN YA
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.