Pagi itu, seorang wanita cantik terlihat sibuk menyiapkan makanan di dapur. Aroma masakan hangat memenuhi rumah.
Tidak lama kemudian, Zen keluar dari kamarnya.
Rambutnya masih basah setelah mandi. Ia mengeringkannya menggunakan handuk sambil berjalan menuju ruang makan.
🧕🏻 Mamah Zen :
"Zen... cepat pakai bajunya, habis itu makan bareng-bareng ya. Mamah sudah bikin makanan kesukaanmu."
🧖🏻♂️ Zen :
"Iya, Mah..."
Zen kemudian berjalan kembali menuju kamarnya.
🚪 Klik.
Pintu kamar tertutup.
Di dapur, mamahnya masih sibuk menata makanan di meja.
🧕🏻 Mamah Zen :
"Pah..."
🧔🏻♂️ Papah Zen :
"Iya, Mah. Kenapa?"
🧕🏻 Mamah Zen :
"Kemarin mamah sempat lihat ada surat di meja belajarnya Zen, kan, Pah..."
Ia berbicara sambil terus menyiapkan makanan.
🧔🏻♂️ Papah Zen :
"Wah, surat buat siapa tuh? Jangan-jangan Zen sudah punya cewek, nih."
Papahnya tertawa kecil.
🧕🏻 Mamah Zen :
"Kayaknya sih iya... hehehe."
🧕🏻 Mamah Zen :
"Sepertinya dia suka sama teman sekelasnya sendiri."
🧔🏻♂️ Papah Zen :
"Oalah... namanya siapa?"
🧕🏻 Mamah Zen :
"Alika, Pah."
🧔🏻♂️ Papah Zen :
"Alika? Waduh... Papah kurang tahu yang mana."
🧕🏻 Mamah Zen :
"Loh, masa Papah nggak tahu sih?"
🧔🏻♂️ Papah Zen :
"Ya nggak tahu yang mana... tapi Papah nggak asing sama namanya. Kayaknya pernah dengar."
🧕🏻 Mamah Zen :
"Kita pernah adopsi kucing dari dia itu loh, Pah... si abu."
🧔🏻♂️ Papah Zen :
"Oalah... yang itu."
⸻
Di dalam kamar, ternyata Zen mendengar semua percakapan itu.
🙎🏻♂️ Zen (dalam hati) :
"Waduh... Mamah bilang ke Papah."
⸻
Tidak lama kemudian, suara mamahnya terdengar memanggil.
🧕🏻 Mamah Zen :
"Mas... Kakak... Adek... ayo makan!"
Tak lama kemudian seluruh keluarga berkumpul di meja makan.
Suasana makan pagi itu terasa hangat—seperti keluarga cemara yang sederhana namun penuh kebersamaan.
Setelah selesai makan, Zen mengambil gelas air putih yang sudah disiapkan oleh mamahnya.
🧖🏻♂️🍶 Zen :
Glek... glek... glek...
Ia mengusap mulutnya dengan punggung tangan.
Tanpa banyak bicara, Zen langsung meninggalkan meja makan dan kembali menuju kamarnya.
Orang tuanya yang melihat itu hanya saling menatap.
Kemudian mereka berjalan menuju kamar Zen.
🚪 Tok... tok...
🧕🏻 Mamah Zen :
"Zen, mamah mau ngomong."
🧔🏻♂️ Papah Zen :
"Papah juga mau bilang sesuatu ke kamu."
Zen langsung panik.
Ia takut jika telah melakukan sesuatu yang salah.
🧕🏻 Mamah Zen :
"Kemarin mamah lihat surat yang kamu buat... itu surat buat Alika, kan?"
🙍🏻♂️ Zen :
"Iya, Mah... soalnya sekarang Alika lagi sakit."
🧕🏻 Mamah Zen :
"Karena hari ini Papah lagi libur, kamu mau jenguk Alika di rumah sakit bareng Mamam dan Papah?"
Wajah Zen langsung berubah cerah.
🙆🏻♂️ Zen :
"Mau banget, Mah!"
Ia langsung tersenyum lebar.
🧕🏻 Mamah Zen :
"Yaudah, mamah telepon mamahnya Alika dulu."
⸻
📞 Telepon berdering
🧕🏻📞 Mamah Zen :
"Assalamualaikum, Mom Alika."
💁🏻♀️📞 Mamah Alika :
"Waalaikumsalam, Mom Zen. Ada apa ya, Mom?"
🧕🏻📞 Mamah Zen :
"Ini katanya Zen, Alika lagi masuk rumah sakit ya, Mom?"
💁🏻♀️📞 Mamah Alika :
"Iya, Mom. Betul."
🧕🏻📞 Mamah Zen :
"Sakit apa, Mom? Kok bisa sampai masuk rumah sakit?"
💁🏻♀️📞 Mamah Alika :
"Kakinya cedera. Katanya sempat kedorong Zen, lalu kena besi pintu sampai berdarah. Setelah itu kakinya jadi biru, dan besok paginya satu kakinya belum bisa dipakai jalan."
Mendengar itu, mamah Zen langsung merasa bersalah.
🧕🏻📞 Mamah Zen :
"Astaghfirullah... karena Zen ya, Mom. Maafkan sekali lagi ya, Mom. Maafkan anak saya."
💁🏻♀️📞 Mamah Alika :
"Iya, Mom... tidak apa-apa."
🧕🏻📞 Mamah Zen :
"Boleh tahu Alika di ruangan nomor berapa, Mom?"
💁🏻♀️📞 Mamah Alika :
"Nomor 172, Mom. Di ruangan VVIP."
🧕🏻📞 Mamah Zen :
"Terima kasih ya, Mom. Nanti saya mau ke sana menjenguk Alika."
💁🏻♀️📞 Mamah Alika :
"Oh iya, Mom. Silakan."
🧕🏻📞 Mamah Zen :
"Baik, Mom. Saya tutup dulu teleponnya. Sekali lagi maafkan Zen ya, Mom... dan Alika juga."
💁🏻♀️📞 Mamah Alika :
"Iya, Mom. Tidak apa-apa."
🧕🏻📞 Mamah Zen :
"Assalamualaikum."
💁🏻♀️📞 Mamah Alika :
"Waalaikumsalam."
📞 Telepon pun dimatikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALZEN
RomanceSenja itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Zenn berdiri di hadapan Alika, seolah menahan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Angin sore berhembus pelan, membuat suasana perpisahan itu terasa semakin nyata. Dengan suara yang sedikit bergetar, Zenn...
