BAGIAN 2

63.2K 3.5K 125
                                        

HAPPY READING!

Eits! Vote dulu ya sayang-sayangku, supaya bisa cepat update dan bertemu dengan empat manusia tampan bertato ular❤️‍🔥

Selamat bertemu dengan Fourich!🚩

========

BITTERSWEET RUINS
[ Bagian 2 | Failed to Escape ]

Luina berlari keluar dari koridor untuk kembali ke kelas— bermaksud untuk kabur. Sesekali kepalanya menoleh ke belakang, berharap Fourich tidak mengejarnya.

Dan syukurnya, tidak ada siapa pun. Empat penguasa itu jelas tidak akan repot-repot membuang waktu untuk mengejar orang seperti dirinya.

Dengan napas tak beraturan, Luina lantas berhenti berlari dan berganti melangkah. Pikirannya dipenuhi adegan tadi— bagaimana seorang siswi dipermalukan hanya karena tak sengaja menjatuhkan es krim ke sepatu Ardanthe.

Untuk kesalahan sekecil itu saja, mereka membalas sesialan itu. Lantas bagaimana jika ada kesalahan yang lebih besar? Seperti.. kesalahannya?

Apakah nantinya dia akan bernasib sama dengan perempuan es krim itu? Atau hidupnya akan baik-baik saja sampai nanti hari kelulusan tiba?

Tentu saja, opsi kedua hanya ada dalam mimpi.

Padahal niatnya tadi hanya ingin memakan es krim dengan tenang, namun malah tanpa sadar ikut nimbrung di antara kerumunan, dan menyerukan perlawanan. Dia benar-benar menyesal sekarang.

Maka dari itu, dia bertekad untuk menghindari empat pemuda sombong itu mulai hari ini. Dia harus menjaga jarak aman, supaya tidak menimbulkan masalah dan terseret dalam perundungan yang dibuat oleh mereka.

Akan tetapi— bagaimana dia bisa menghindar jika dia saja satu kelas dengan Zirga?!

"Itu dia orangnya."

Luina berjengit.

Hampir kembali berlari jika saja dia tidak melihat lebih dulu siapa yang baru saja berseru.

"Oh.. lo, Chels," gumam Luina sedikit lega. "Ngapain nyariin gue?"

Perempuan yang baru saja mengagetkan Luina, tampak berjalan mendekat dengan tangan bersedekap. Dan Luina hanya menatap seorang primadona di kelasnya tersebut, dengan tatapan malas.

"Ada yang mau gue sama yang lain omongin sama lo," jawabnya lantas masuk ke dalam kelas, diikuti Luina dengan bingung.

"Ini, Len, orangnya," seru perempuan ungu itu pada sang ketua kelas. "Sekarang bilang sama dia buat mundur dari posisinya sebagai bendahara," lanjut perempuan itu yang tampaknya mendapatkan banyak dukungan dari teman kelasnya yang lain.

Mendengar itu, Luina langsung terkekeh.

"Ini yang mau dibicarain? Atas dasar apa lo nyuruh gue stop jadi bendahara?" Tantang Luina.

"Serius lo nanyain itu? Lo lupa kalau lo sekarang udah jadi gembel?"

Netra olive milik Luina saat itu juga langsung menatap tajam salah satu teman sekelasnya yang menjadi satu-satunya pemilik rambut berwarna ungu di sekolah ini.

Chelsea Princessa Deavinci. Perempuan sombong yang dari dulu selalu merasa tersaingi dengan semua pencapaian Luina. Padahal Luina tidak sedikitpun pernah mengajak perempuan itu untuk bersaing, tetapi kenapa dia selalu merasa tersaingi?

Dan sepertinya, kondisi kehidupannya saat ini, dimanfaatkan dengan baik oleh perempuan itu. Chelsea kembali bergerak untuk menyingkirkan dirinya dari posisi yang sebelumnya memang sangat ingin perempuan itu miliki.

BITTERSWEET RUINSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang