DAKSA | EMPAT BELAS

154 4 0
                                        

Setelah drama weekend kemarin, akhirnya Luna kembali ke rutinitasnya sebagai seorang siswa, yakni sekolah.

Istirahat pertama ini, alih-alih ke kantin ia malah berada di perpustakaan. Bukan karena ia murid rajin yah.

Ini karena tiada lain dan tiada bukan karena ia sedang mengerjakan PR dari baginda raja Daksa. Nah loh, Daksa yang notabenenya kelas XII menyuruh Luna yang masih kelas X itu mengerjakan PR-nya.

Tolong banget, dicari akal sehatnya Daksa. Ini kalau diacara-acara TV Luna sudah akan melambaikan tangannya pada kamera.

Ditengah kerisauannya memandangi PR Daksa, seorang cowok duduk didepan mejanya.

Luna melirik sebentar kearah cowok itu, yang ternyata adalah Reyza, ketua osisnya.

"Lagi ngapain Lun?" Tanya cowok itu.

"Oh ini lagi ngerjain PR kak."

"Ngerjain PR kok di sekolah?" Cowok itu terkekeh pelan.

Aduh, ganteng sekali. Tolong Luna sekarang juga.

"Eh tapi kok, lo ambil buku kelas 12?"

Reyza memperhatikan buku paket yang berada didepan Luna. Kemudian dia menyadari bahwa cewek itu sedang mengerjakan soal kelas 12.

"Lo ngerjain PR siapa Lun?" Reyza menatap Luna curiga.

"Eh, ini Kak...", Luna tergagap, sampai Reyza mengambil buku catatan yang sedang ia pegang itu.

'Raden Daksa Wardhana'

Nama yang ia baca dibuku itu membuat Reyza makin bingung.

"Lo ngerjain PR-nya kak Daksa?"

"Iya kak", ucap Luna tersenyum canggung.

"Kok bisa Lun?"

Luna terdiam sebentar, memikirkan jawaban yang pas. Kalau ia jujur bisa saja nanti Daksa dan Reyza berantem, karena dianggap mengulur-ulur waktu proker osis mereka. Dan yang paling parah, bisa saja Daksa akan melabrak Luna nanti.

Reyza terdiam sebentar, sedikit paham dengan watak dari seniornya itu.

"Lun, jangan bilang lo selama ini dibully sama Daksa?"

"Eng-enggak kok kak."

"Ini tadi kak Daksa minta tolong, jadi aku tolongin."

"Dia juga ngasih aku uang kok, jadi ini semacam kayak joki tugas gitu", jelas Luna, ia tidak bohong masalah Daksa yang memberikannya uang itu. Lumayan lah, walaupun dijadiin babu terus sama Daksa, yang penting kan cuan mengalir bro.

Reyza mengangguk, walaupun agak ragu.

"Yaudah mana, sini gue bantuin ngerjain", Reyza menarik pelan buku paket dari Luna.

Luna berbinar, ia baru ingat, selain menjabat sebagai ketua osis. Reyza ini juga sangat pintar. Sudah berkali-kali ia memenangkan olimpiade nasional dan sekali olimpiade internasional. Dan ia selalu pulang dengan membawa kemenangan.

Jangan heran mengapa ia punya banyak penggemar di SMA Bhumika ini. Sebelas dua belas lah sama Daksa. Kalau Daksa terkenal karena menjadi siswa trouble maker, maka Reyza terkenal karena selalu mengharumkan nama sekolah.

Banyak yang mengidolakan cowok ini, termasuk Luna. Tapi Luna sadar diri sih, Reyza nggak mungkin lah suka balik sama dia.

Luna sibuk memperhatikan Reyza, sambil tersenyum manis. Sedangkan Reyza terlihat sangat fokus dengan soal yang ia kerjakan. Sesekali dahi cowok itu menyeringit ketika menjumpai soal yang agak sulit mungkin.

Duh, nikmat tuhan mana yang hendak engkau dustakan.

Sedangkan di balik rak buku, tepat dibelakang Luna dan Reyza duduk.

Daksa berdiri mendengus sebal melihat dua orang itu. Ia yang sudah berhasil dengan bersusah payah menyelundupkan beberapa makanan di kantong jaketnya untuk Luna. 

Namun apa yang dia lihat sekarang, bukannya mengerjakan PR Daksa, Luna babu-nya itu malah keasikan memperhatikan si Reyza.

Daksa memberhentikan seorang siswa berkacamata.

"Heh lo sini."

"Sa..saya kak?" Siswa itu gugup, masalahnya ini Daksa coy, berandalan terkenal seantero SMA Bhumika.

"Ini buat lo", Daksa memberikan beberapa bungkus makanan dan juga air kemasan.

"Ha...hah? Buat saya kak?"

"Lo kagak budek kan, ambil buat lo semua", Daksa menaruh jajanan itu dengan kasar pada siswa tersebut.

Setelah memberikan jajanan itu, Daksa langsung melenggang keluar dari perpustakaan.

Cowok berkacamata itu masih bingung, ada angin apa Daksa memberikannya jajan. Namun sedetik setelahnya ia mulai mengutuk Daksa dalam hatinya.

"Heh kamu, enggak lihat larangan sebesar itu kalau di perpustakaan enggak boleh bawa makanan?" Seorang penjaga perpustakaan menghampirinya dengan muka galak.

"Kamu ikut saya, biar kena denda."

Siswa berkacamata itu pasrah, yang namanya dekatan dengan Daksa itu bawa nasib buruk. Bahkan ketika cowok itu berniat baik dengan memberikan ia jajan.

[ D A K S A ]

Hai jan lupa vote dan comment yakkk ✨🦋

DAKSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang