DAKSA | DELAPAN BELAS

288 11 0
                                        

"Boss ampun bos, gue ngaku salah."

Bugh

"Title buaya lo, kagak ada gunanya bajingan."

Daksa terus memukuli Dito dengan buku tebal yang ia ambil dari tas Satya tadi. Sekarang mereka sedang berada di 'warmi', menunggu bel pulang berbunyi. Lagi-lagi mereka bolos.

"Ya mana gue tahu, kalau cara itu kagak berhasil", sewot Dito.

"Eh iya, ampun-ampun", Dito meringis, melihat Daksa yang akan kembali memukulnya.

"Lo beneran suka sama si Luna Sa?" Tanya Rajif.

"Lo kalau suka, langsung gebet aja boss, kagak usah ngikutin caranya si Dito. Sesat itu mah", sahut Awan.

"Belum suka dia."

"Cuman enggak mau kalah saing sama si Reyza doang", jelas Satya.

Daksa menatap Satya dengan lamat, sahabatnya yang satu ini memang paling mengerti dirinya.

"Bener gitu boss?"

Mendengar pertanyaan dari Awan, Daksa mengangguk.

Sejak ia melihat Reyza dan Luna pulang bareng kemarin, entah mengapa ada hal yang mengganjal pada dirinya.

Yang Daksa artikan bahwa, ia tidak mau kalah lagi dengan Reyza, cukup dimata 'dia', jangan Luna juga.

Lalu, dengan kesadaran penuh, ia meminta saran dari Dito, yang notabenenya merupaka anggota gengya pemilik title playboy itu.

Jika pada Rajif Dito berani menipu cowok itu dengan memberikan saran yang asal. Maka pada Daksa Dito tentu saja tidak berani, cari mati namanya kalau nekat jahilin Daksa.

Dito memberikan dua cara yang menurutnya sangat jitu untuk mendapatkan cewek.

Yang pertama, Dito menyarankan pada Daksa, untuk tidak mengabari Luna, alias ghosting.

Namun setelah Daksa lakukan tidak ada efek berarti, yang ada ia yang kelimpungan, karena akhir-akhir ini ia jadi bergantung pada Luna.

Yang kedua, Dito menyuruh Daksa untuk pura-pura mendekati cewek lain, untuk membuat Luna cemburu.

Daksa dengan cepat mendekati Sekar, yang teryata sudah suka pada dia sejak kelas sepuluh. Namun buka mendapatkan reaksi yang diinginkan pada Luna. Yang ada dia malah terus ditempeli Sekar. Daksa kan jadi muak.

"Lo udah suka, cuman belum sadar aja", setelah mengatakan itu, Satya mengambil buku miliknya pada Daksa.

"Kayaknya si Satya beneran peramal deh", kata Rajif.

"Gue punya ide."

Semua menatap Rajif was-was, nih anak, kalem-kalem gini otaknya agak kemasukan air dikit. Jadi agak koslet.

"Gimana kalau Satya live TikTok, check khodam aja?"

Tuhkan beneran konslet, efek ditolak terus nih.

[ D A K S A ]

Setelah berdebat dengan pikirannya, akhirnya Daksa melajukan motornya kearah halte bus. Tempat dimana Luna berada.

Daksa daritadi berdiam diri, dibawah pohon samping sekolah. Memperhatikan Luna, setelah merasa bahwa Reyza si kutu kupret enggak ada. Akhirnya ia baru mau menghampiri Luna.

"Naik."

Luna yang daritadi menunduk memainkan ponselnya, akhirnya menatap kearah Daksa.

"Kak Daksa?"

"Iya ini gue, lo berharap ketua osis bau kambing lo itu?" Sahut Daksa sensi.

Luna terdiam, ini kenapa setelah ngilang terus datang-datang si Daksa ini jadi sensi sih. Nggak kesurupan hantu pohon mangga kan?

Mana ngatain Reyza bau kambing lagi, enak aja padahal Reyza tuh wangi tahu. Makanya Luna suka, hehe.

"Malah ngelamun nih bocah."

"Naik cepetan, perlu gue gendong lagi?"

Luna dengan cepat menggeleng.

"Enggak usah kak, aku naik bus aja nanti", Luna menolak ajakan Daksa.

Daksa yang keinginannya tidak suka dibantah itu, dengan cepat turun dari motornya dan dengan entengnya mengangkat Luna.

Luna memekik pelan, ini udah kedua kalinya Daksa mengangkatnya kayak gini. Mau gampar Daksa, tapi ia mana berani.

"Lo mau langsung ke toko bunga?" Tanya Daksa ketika sudah menjalankan motornya.

"Iya kak."

Daksa sesekali memperhatikan Luna dari spion motornya. Terlihat bahwa cewek itu mengipasi wajahnya dengan tangan, Luna kegerahan sepertinya.

[ D A K S A ]

Luna turun dari motor Daksa, kemudian ia menyerahkan helm pink pada Daksa.

"Bawa aja, nanti gue jemput."

"Eh nggak usah kak, aku naik gojek aja nanti", Luna merasa tidak enak, jika harus kembali merepotkan Daksa.

"Nurut", titah Daksa.

Dengan begitu Luna menurut, aura dominan Daksa selalu membuat ia tidak bisa berkutik.

"Yaudah, makasih kak", baru saja berbalik badan Luna dihentikan Daksa.

"Tunggu", Daksa melepas gelang karet hitam yang ada ditangannya.

Ia turun dari motor, lalu berdiri dibelakang Luna.

Ia menyatukan rambut Luna, kemudian mengikatnya jadi satu.

"Udah."

Daksa kembali berdiri didepan Luna. Cowok itu tersenyum, yang Luna lihat sangat manis.

"Semangat kerjanya, babu", ucap Daksa masih tersenyum, lalu tangannya bergerak untuk mengacak rambut Luna.

Luna yang diperlakukan seperti itu tentu shock. Perasaan yang diacak-acak rambutnya, kok yang berantakan hatinya.

[ D A K S A ]

Please, aku ikutan baper guyssss 😭
Jan lupa vote dan comment yaaaaa

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 20, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DAKSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang