Luna dan Namira kini sudah duduk manis di kantin. Jika biasanya Luna membawa bekal, maka hari ini ia memilih jajan di kantin saja. Ia kesiangan tadi, dan ibu-nya sudah berangkat kerja. Jadinya ia tidak sempat menyiapkan bekalnya.
Bekal Daksa juga, tidak ada. Bahkan beberapa hari ini cowok itu seakan-akan hilang ditelan bumi. Alias nggak ada kabar.
Luna sih senang-senang aja, bahkan ia berpikir bahwa Daksa sudah tobat. Dan berhenti menjadikan Luna babu.
"Tumben kagak ke 'warmi' lo."
"Kayaknya aku bakalan pensiun lebih awal", jawab Luna.
"Bahasa lu pensiun, PNS lu?!"
"Udah bosan paling kak Daksa."
Seorang cowok menghampiri meja Luna dan Namira.
"Hallo rakyat-rakyatku."
"Dih, pak Jokowi lo?" Balas Namira sewot.
"Ada apa gerangan sih dengan babuku yang satu ini?" Ucap cowok yang agak kemayu itu sambil membuka bedak padat yang daritadi ia bawa kemana-mana.
"Gue ada gosip, lumayan buat kita masukin ke account menfess sekolah."
Namira menatap cowok yang bernama Ajeng--ralat Anza itu jengah. Cowok ini memang teman eskul journalist, yaitu BhumikaFess, yang merupakan eskul yang berfungsi memberitakan apa saja yang terjadi di lingkungan sekolah.
Bahasa simpelnya akun gosip sekolah yah. Anza Arsenal, atau yang lebih dikenal Ajeng itu memang agak sedikit kemayu. Tapi justru itu yang membuat ia dikenal banyak murid-murid Bhumika.
"Gosip apa?" Luna yang daritadi diam memperhatikan, ternyata kepo juga.
Luna dan Anza juga bisa dibilang kenal dekat, karena Namira sering mengajaknya sesekali ke ruangan eskul, jadinya ia mengenali cowok jadi-jadian ini.
"Bentar dulu, sebelum lo ngasih tahu gosipnya, bisa kagak lo taruh dulu tuh bedak."
"Nama doang Arsenal lo, kagak ada LAKIK-nya", sewot Namira menekan katak lakik.
"Sewot aja lo janda."
"Salahin bapak gue noh, ngapain namain gue ada unsur bola-nya."
"Yah bapak lo juga kagak bakalan tahu, kalau anaknya bakalan jadi pensil Inul gini."
"Udah babi, ngapain bahas eyke sih."
"Lanjut", titah Namira.
"Tahu nggak?"
"Kagak tahu."
"Namira sumpah, lo sekali lagi ngomong gue gampar lo."
"Iya-iya maap", Namira cengengesan.
"Kemarin gue denger dari crush gue..."
"Bentar, jangan bilang crush lo kak Dimas?"
Dengan tersipu malu, Anza mengangguk pelan.
Dengan cepat, botol minum Luna yang isinya tinggal setengah itu mendarat dikepalanya Anza.
"Bangsat, Namira", keluh Anza sambil mengusap kepalanya.
"Modelan kek gini nih, yang halal digetok pake tongkatnya nabi Musa."
"Anza coba kamu nyebut dulu", Luna menatap Anza ngeri.
"Panggil gue Ajeng Lun, btw gue pan kristen bjir", jawab Anza.
"Oh iya lupa."
"Ini jadi mau dengerin gosip kagak sih?" Anza mulai muak juga daritadi dipotong Namira.
"Mangga neng."
"Jadi gue dikasih tahu kak Dimas, kalau kak Daksa lagi dekat sama kak Sekar", ucap Anza dengan sekali tarikan nafas.
"Sumpah? Yang bener lu tante?"
"Sumpah Mir, pan kak Dimas sekelas sama kak Daksa."
"Kak Sekar yang mana yah?" Tanya Luna.
"Itu Lun, kak Sekar ketua cheerleader."
Luna mengangguk paham, pantesan aja Daksa dari kemarin tidak merecokinya terus. Lagi dekat sama cewek ternyata.
Sekar itu ketua cheerleader sekolah, salah satu deretan anak famous di SMA Bhumika. Cantik dan kaya siapa sih yang nggak mau?
Sedang asik melamun, Luna kaget ketika Namira menyenggol tangannya dengan kencang.
"Kenapa Mir?"
"Noh liat."
Luna mengalihkan tatapannya ke arah pintu masuk kantin. Disana Daksa dan teman-temannya serta seorang gadis masuk.
"Panjang umur banget si Daksa."
"Kebukti kan kalau gosip dari gue bener adany?" Anza tersenyum bangga.
Banyak sekali siswa yang memperhatikan mereka. Tak jarang juga ada yang bergosip.
"Ambil fotonya Jeng cepat", perintah Namira pada Anza.
"Lumayan berita baru", kekeh Namira.
"Kak Sekar cantik banget yah", gumam Luna.
Namira yang mendengar itu tersenyum simpul.
"Cantikan elu Lun."
"Dih, jangan ketipu muka Lun, cantik-cantik gitu hatinya busuk itu", Anza mulai julid lagi.
"Lu diapain sama si Sekar anjir, kayanya dendam amat."
"Kak Dimas suka sama dia njir."
"Oh masalah asrama ternyata."
"Asmara goblok."
"Eh ini perasaan gue doang apa gimana?"
"Kak Daksa lihat kearah sini bjir", ucap Namira dengan suara pelan.
"Pasti lagi liatin gue yang cantik jelita ini", Jawab Anza percaya diri, sambil membenahi penampilannya.
"Anak gadis genit amat."
Luna melihat kearah Daksa. Daksa memang terlihat seperti menatap kearah meja mereka. Entah ia yang salah lihat atau apa, tapi kakak kelasnya itu menatap kearahnya.
Baru saja akan mengalihkan pandangannya kearah lain, cewek yang duduk disamping Daksa itu juga ikut menatapnya. Luna tidak terlalu ahli menilai arti tatapan orang, tapi yang jelas cewek itu terlihat menatapnya dengan pandangan tak suka.
[ D A K S A ]
Haiiii balik lagi sama ainggg....
Lama juga kagak updateee 🤸
Jan lupa votment gaesss 💃
KAMU SEDANG MEMBACA
DAKSA
Fiksi RemajaRaden Daksa Wardhana. Mendengar namanya saja sudah bisa membuat warga SMA Bhumika bergidik ngeri. Berandalan terkenal seantero sekolah, yang sayangnya sangat tampan. Daksa. Satu nama yang amat dihindari oleh siswa-siswi SMA Bhumika, termasuk Lun...
