Proses reading bersama dengan tim dan pemain yang lain selesai dalam lima hari. Terlepas dari berita yang membuat ia sampai dirawat di rumah sakit akibat kelelahan, ia harus tetap profesional agar terus bersinar. Bak bintang di siang hari, meski tidak terlihat ia akan terus berusaha memancarkan sinarnya. Melalui berita itu, ia tetap bersinar di tengah hari. Menjadi sorotan meski sedang berada di balik layar.
Berita yang dibuat secara tiba-tiba oleh Anthony tiga hari lalu membuat dirinya menerima teror dari Sergio maupun penggemar yang mendukung hubungan mereka dengan Sergio. Penolakan-penolakan terus disampaikan Sergio di setiap kesempatan bertemu dengan wartawan sementara dirinya berusaha bungkam dan tidak memberikan tanggapan terkait hal itu. Tidak jarang mereka menyebut soal Mike atau Fabian. Pada kenyataannya, dia hanya berhadapan dengan teror Sergio dan sang ibu.
Para wartawan kerap datang ke rumah dan menanyakan hal-hal tidak penting untuk didengar bahkan diketahui oleh keluarganya. Beberapa hal yang tidak ingin ia bahas, menjadi hal serius yang harus ia dengar baik lewat telepon maupun secara langsung. Seperti saat ini, ia dapat hari libur sebelum proses syuting dimulai, namun sang ibu jauh-jauh berkendara dari New Ark, New Jersey menghampiri apartemennya dan di ruang tamu serba merah itu diselimuti oleh atmosfer canggung.
"Ekhem."
"Langsung ke intinya saja." lanjut sang ibu, kemudian mengeluarkan map dokumen dengan bolpoin di tangan lainnya.
"Aku ingin pindah ke New York." ujar wanita yang ia sapa sebagai ibu.
"Kenapa?"
"Karena ..., karena semua serba terjangkau disini. Aku tidak perlu jauh-jauh haya untuk bisa bertemu denganmu." ungkapnya, sementara bola matanya bergerak kesana-kemari menutupi suatu yang benar adanya.
"Tidak." pungkas Melanie. Singkat dan langsung pada intinya.
"Kenapa begitu? Biarlah kami tinggal di New York. Lagipula, Megan sebentar lagi lulus. Apa kau tidak mau adikmu itu dapat pekerjaan disini?"
Melanie tidak bermaksud demikian. Ia hanya tidak ingin kehidupan keluarganya menjadi sasaran empuk para wartawan. Ia tidak memahami bagaimana perasaan orang rumah yang hampir setiap hari kedatangan wartawan atau sesekali teror dari penggemar yang menyayangkan kandasnya hubungan Melanie dan Sergio. Masih banyak pertimbangan lainnya seperti yang membayar biaya hidup mereka selama di New York, gaya hidup mereka yang suka belanja dan bersenang-senang, perawatan yang mereka lakukan, dan lain sebagainya. Melanie bisa hanya dengan bekerja, mencari projek sampingan seperti model atau bintang iklan, namun ia juga ingin menikmati hidupnya tidak hanya berputar pada pekerjaan dan membiayai kehidupan ibu dan adiknya.
"Beri aku satu alasan apa yang kurang di New Jersey? Kenapa harus pindah ke New York?"
"Karena... aku sudah membayar deposito untuk menyewa rumah di Brooklyn." seraya memberikan map dokumen tersebut kepada Melanie.
Terkejut tidak dapat disembunyikan dari wajahnya. Betapa tidak? Ibunya sudah membayar deposito sejumlah uang yang ia kirim saat berada di Milan. Uang dengan alibi untuk biaya kuliah adiknya. Bukan hanya itu, biaya sewa pertahun yang diajukan juga bukan nilai yang sedikit.
"Apa tidak lebih baik bunuh aku saja?"
"Hei, kenapa kau bilang seperti itu? Aku hanya memberitahu. Kalau kau keberatan, tinggal bilang. Tidak usah drama begini." Melanie tersenyum getir.
"Kalau begitu bayar sendiri. Karena pendapatanku tidak sebanyak yang tertera disini." putus Melanie, mutlak.
Dapat Melanie saksikan ibunya yang tengah gelagapan karena mendapat penolakan mentah darinya. "Jadi kau benar-benar angkat tangan kali ini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Trading the Spotlight [TERBIT]
Literatura FemininaDari sekian banyak potensi, aku rasa potensi terbesarku adalah hidup dalam bayang-bayang hutang atas kemewahan hidup kekuargaku. Hidup bagai layang-layang terbawa angin tanpa tuju, masih beruntung kait benang tidak putus. Atau barangkali, sebentar l...
![Trading the Spotlight [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/370374616-64-k540838.jpg)