XXIV. True Colours

211 3 0
                                        

Proses syuting berlangsung lancar dan  memukau banyak pasang mata. Tidak memungkiri, meski bukan tayangan langsung kru yang bertugas ikut terbawa suasana saat Fabian dan Melanie menatap satu sama lain, seolah mereka berbicara lewat tatapan mata itu. Tatapan yang menyiratkan kerinduan satu sama lain.

Beratapkan langit malam dihias gemerlap lampu sorot dari gedung-gedung sekitar, mempercantik pemandangan yang tengah mereka kagumi malam ini. Bersandar pada pilar yang sekaligus menjadi pembatas antara rooftop dan atap lantai gedung paling atas perusahaan majalah milik Louisiana, mereka sibuk ingin memulai dari mana.

"Soal yang aku katakan pada Vivian tadi, itu berdasar pada kenyataan." ujar Fabian mengawali pembicaraan.

Fabian berusaha tenang seperti yang biasa ia lakukan, namun ingatannya masih mematri senyum wanita dihadapannya. Seolah tersihir dan tidak bisa mengendalikan diri. Sama halnya dengan Fabian, Melanie pun terjebak dalam rayuan manik indah dan semanis madu milik Fabian.

"Kau mengatakan banyak hal tadi. Aku tidak ingat yang mana yang kau maksud?" goda Melanie.

"Kau tahu betul maksudku."

"Bukan begitu caranya, Fabian." Meski Melanie tahu maksud Fabian, ia hanya ingin mendengarnya secara langsung dan eksklusif dari Fabian sendiri. Melalui tatapan menenangkan khas Fabian yang selalu ia sukai. Sementara sang pria mengernyit, meminta penjelasan.

Melanie tersenyum menatap Fabian yang kebingungan. Kemudian ia mendekat, berdiri dihadapan Fabian persis. "Aku sudah katakan di awal, bukan?"

Semakin dalam kerutan di dahi Fabian sebab tidak mengerti yang dimaksud Melanie. "Jangan. Jangan jatuh cinta dengan aku yang kau lihat saat makan malam bersama keluargamu."

Akhirnya Fabian mengerti kemana arah pembicaraan Melanie. Pandangannya menerawang jauh pada awan keabuan yang bergerak tenang. Akal sehatnya mencoba untuk tidak terpancing yang berujung akan merusak rangkaian hari yang sudah ia lalui bersama Melanie dengan damai.

"Jangankan aku, mereka yang ada di luar sana juga menatap pada bintang yang sama."

"Apa kau melihatnya?" tanya Fabian, masih setia dengan pandangannya ke langit.

"Tidak ada bintang, Fabian. Cuaca sedang mendung."

"Lihat dengan baik. Ada satu bintang di atas sana. Apa warnanya?"

Melanie semakin tidak mengerti maksud Fabian. Tidak ada bintang yang menghiasi malam ini, tapi Fabian bersikukuh mengatakan ada bintang di atas sana. "Aku tidak mengerti maksudmu, Fabian."

Degan telaten, Fabian mengarahkan Melanie agar bisa melihat bintang yang dimaksud dengan jelas. Benar adanya. Terdapat satu bintang yang bersinar paling terang di langit seluas samudera. "Kau melihatnya sekarang?"

Masih dalam pelukan Fabian, Melanie mengangguk pelan. "Apa warnanya?" tanya Fabian.

"Entahlah, perak? Dia berubah warna tiap sepersekian detik."

Fabian turun dari pembatas rooftop. Kemudian ia memegang tangan Melanie yang dingin akibat terpaan angin malam yang mendung. Keduanya kembali bersandar pada pilar rooftop sembari melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda.

"Kau adalah bintang, Melanie. Kau dilihat banyak orang karena sinar yang kau pancarkan. Kau berbakat, kau terlihat sempurna dari bawah sini, dari sudut pandang mereka. Hanya karena kau terselimuti kabut mendung, sinarmu tidak sepenuhnya redup. Kau tetap bersinar ...,"

"Sinarmu tetap ada meski mengalami perubahan. Sama dengannya yang berubah dalam sepersekian detik. Itu hanya kerlipan cahaya, Melanie,"

"Bersifat sementara. Sama seperti kau yang suka bermain peran."

Trading the Spotlight [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang