XIII. Camera, Roll, Action!

69 6 0
                                        

Sesuai dengan dugaan Fabian, bandara sudah dipadati oleh kerumunan wartawan. Melanie turun dari mobil Fabian dan dalam sekejap, puluhan blitz menyoroti kedatangannya. Ia bersama dengan Odille yang kini tengah mendorong troli koper mereka menuju pintu keberangkatan. Seperti biasa, Melanie hanya memberikan senyum terbaiknya agar publik berspekulasi baik tentangnya. Citra seorang aktris memang begitu, bukan?

"Melanie, kami melihatmu turun dari mobil sport, apakah kau diantar Fabian?" Melanie hanya memberi jawaban dengan tersenyum.

"Apakah itu berarti benar?" tanya wartawan yang sama, meminta kepastian.

"Bagaimana makan malam dengan Gilda dan Fabian?"

"Aku dengar hanya kau dan Fabian yang diundang, apa itu benar?" timpal wartawan sebelahnya.

"Kita- ah maksudku kami berlima. Jadi aku rasa itu makan malam yang seru. Gilda menyambut kedatangan kami dengan baik." jelas Melanie.

"Lalu dengan Fabian? Apa Sergio juga diundang tapi dia tidak datang?"

"Kalau itu tanyakan pada yang bersangkutan."

"Sekarang publik sedang membahas kedekatanmu dengan Fabian, bagaimana tanggapan Sergio?"

"Oh, ayolah. Tanyakan yang berkaitan denganku saja. Tentang persepsi atau pendapat orang lain, aku bukan cenayang."

"Aku dengar kau akan memerankan antagonis pada projek terbaru, apa itu benar?"

"Nah. Pertanyaan seperti ini yang aku suka. Terima kasih. Soal itu, nantikan saja ya. Aku masih belum boleh membocorkan apapun."

Pertanyaan terus bersahutan tiada henti hingga akhirnya Odille yang memutuskan interaksi antara wartawan dan penggemar Melanie agar mereka tidak ketinggalan pesawat. "Apa aku menjawabnya dengan baik?"

"Setidaknya kau tidak memberi jawaban gamblang soal apa yang terjadi antara kau dan Fabian." perkataan Odille merujuk pada peristiwa tidak mengenakkan yang terjadi di tangga darurat waktu itu.

"Baguslah." Dalam hatinya, Melanie bersyukur sebab hanya ini yang bisa ia lakukan sebagai rasa terima kasih atas bantuan yang Fabian berikan.

Tidak munafik, Melanie juga ingin tahu tanggapan Sergio setelah berita tentangnya dan Fabian mencuat ke media. Hanya saja, rasa takut disakiti lebih besar daripada rasa penasarannya. Selain itu, ia juga merasa bersalah telah melibatkan Fabian dalam rumor percintaannya dengan Sergio. Namun perkataan Fabian saat mereka di mobil tadi cukup membuatnya terenyuh.

"Kau boleh tunjukkan kebolehan aktingmu menggunakan namaku saat Sergio mulai mengganggumu lagi."

🎬🎬🎬

Melipir dari padatnya lalu-lalang Milan, Fabian berhenti di tepi sungai untuk mengembalikan ketenangannya. Ia duduk dan mengamati suasana kota kelahirannya. Pikirannya melayang pada obrolan di mobil bersama Melanie. Sebelumnya, ia sangat menolak ide yang diberikan Nigel, terhitung tiga kali. Namun saat mengantar Melanie, ia mengatakan hal yang bodoh dan terkesan sok pahlawan.

Ia merutuki dirinya sendiri. Bukannya menyesal akan apa yang diucapkannya, namun sebagian dari dirinya yang tidak suka menjadi sorotan itu seakan kecewa pada keputusan singkat yang ia buat.

Maka untuk meyakinkan dirinya, ia harus tenang dan mencoba berpikir secara luas. "selama Melanie tidak menanggapi media secara serius, aku rasa kau masih aman." celetuk Nigel dengan dua kaleng bir di tangannya.

Kegelisahannya sampai ke telinga Nigel. "Hanya kali ini dan kau tidak akan bertemu dengannya lagi. Jadi itu bukan apa-apa." lanjutnya.

Trading the Spotlight [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang