"Ku lihat kau cukup akrab dengan Louisiana." ujar Melanie. Pandangannya lurus menatap kedua manik cokelat madu yang membuatnya tenang. Sementara yang ditatap berusaha untuk membebaskan diri dengan memutus kontak mata, beralih pada bibir yang kini terlihat berbeda dari ekspresi wajah yang baru saja ia saksikan saat di studio.
Pria yang tengah mengaduk risotto pesanannya itu tersenyum sejenak sebelum menjawab, "kau cemburu?"
"Ayolah. Aku hanya membuka pembicaraan, merasa bersalah membiarkanmu menunggu lama dan kelaparan." Mendengar itu, Fabian berhenti menyuap risotto menuju kerongkongannya dan menatap Melanie kembali.
"Kau tidak perlu merasa bersalah hanya karena membuatku menunggu. Seperti yang ku katakan, aku sedang tidak sibuk." bebernya. Sontak mendapat dengusan dari wanita yang ada dihadapannya.
"Kenapa?" tanya Fabian. Kini ia mulai serius menatap lawan bicaranya.
"Aku tidak bicara."
"Kenapa kau merasa bersalah?"
"Karena membuatmu menunggu. Itu saja." Bukan itu jawaban yang Fabian ingin dengar. Namun apa boleh buat, ia harus membatasi dirinya untuk tidak berlaku kurang ajar.
Fabian membawa Melanie makan siang di restauran favoritnya saat duduk di bangku sekolah. Dulu, ia kerap kemari bersama dengan teman-teman sekolahnya karena dekat dan makanan yang disajikan tidak kalah dengan restauran mewah pilihan kedua orangtuanya. Restauran dengan nuansa serba putih beratap langit membuat siapa saja yang berkunjung tidak bosan untuk menikmati hidangan yang disajikan ditemani pemandangan Italia yang damai.
"Bagaimana makanannya?"
"Jadi selain mengalihkan perhatian lawan, kau juga jago mengalihkan topik pembicaraan."
"Hei nona, itu masih satu paket." ucap Fabian otomatis membuat manik Melanie melebar, tersanjung dipanggil Nona.
"Enak." ujar Melanie.
Burung-burung terbang berkeliling diatas mereka, berkicau mengelilingi restauran. Mengiringi percakapan mereka yang semakin hangat. Di tempat yang menyimpan memori masa kecil Fabian itu, kini terukir kenangan mereka. Sebagai awal dari hubungan rekan kerja yang saling menguntungkan. Di meja nomor 29 itu, mereka bertukar cerita tentang kehidupan. Tujuan dan harapan untuk bertahan hidup.
"Lalu apa yang membuatmu menyetujui hubungan yang diatur agensi ini?"
"Karena ..., aku mulai bosan?"
"Omong kosong. Aku tahu kau begitu suka hidup dalam gua. Tidak terekspos dan menjadi bayangan Jonathan."
"Diam-diam kau mencari tahu tentangku, ya?"
"Odille yang melakukannya."
"Sama sepertimu." Jeda dalam percakapan yang sangat bersahabat itu. Melanie tidak menyangka bahwa pria seperti Fabian juga dapat disakiti seperti dirinya.
"Sama seperti mereka." Pandagan Fabian mengarah kepada langit bertabur keindahan burung yang sesekali melintas dari pohon satu ke pohon yang lain.
"Oh." Sampai sini, Melanie paham. Ia mengerti bahwa pria di hadapannya kini tengah mencari cara untuk bebas. Ia jadi berasumsi bahwa saat Fabian dengan sukarela mengantarnya ke bandara waktu itu juga salah satu rencananya.
Tanpa terasa, langit biru yang menjadi payung teduh mereka kini berubah warna menjadi lebih cantik. Pergantian siang menuju malam. Gradasi langit yang tiada henti memukau dua insan yang tengah tenggelam dalam pikirnya masing-masing. "Besok aku kembali ke New York. Barangkali kau ingin membuat lebih heboh?" tanya Melanie dengan pandangan menerawang ke langit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Trading the Spotlight [TERBIT]
Romanzi rosa / ChickLitDari sekian banyak potensi, aku rasa potensi terbesarku adalah hidup dalam bayang-bayang hutang atas kemewahan hidup kekuargaku. Hidup bagai layang-layang terbawa angin tanpa tuju, masih beruntung kait benang tidak putus. Atau barangkali, sebentar l...
![Trading the Spotlight [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/370374616-64-k540838.jpg)