----Dua bulan yang lalu----
📍New York, Amerika Serikat
Lampu blitz kamera sangat sibuk mengejar setiap gerakan yang dilakukan Melanie. Detail tiap gerakan berusaha diabadikan dalam kotak berlensa sebagai tanda bahwa sang bintang telah lahir ke dunia seni peran. Menggandeng lawan mainnya dalam film romantis-komedi yang dibintanginya, Melanie melenggang dengan percaya diri memberi sapaan hangat kepada penonton yang berjajar di karpet merah.
Hari ini adalah harinya. Ia bersama pemain lainnya tengah melaksanakan tur untuk promosi film yang akan tayang dalam tiga hari. Bisa dikatakan, film ini adalah langkah awal Melanie untuk terus berkarir di bidang seni peran. Setelah dua tahun menjadi pemeran figuran, ia kini sukses membintangi film layar lebar sebagai pemeran utama.
Senyum sumringah tercetak jelas pada bibirnya yang diwarnai merah anggur. Dengan anggun, ia berpose sejenak di depan poster film sebesar baliho sebelum memasuki ruangan press conference. Masih setia menggandeng lawan mainnya, Mike Jacobs-pria yang lima tahun lebih tua darinya-kerap kali mencuri kesempatan dalam kesempitan. Pribadinya yang kelewat ramah dan bersahabat kadang justru menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
"Melanie, bagaimana perasaanmu menjadi pemeran utama di proyek kali ini?" tanya seorang wartawan yang berdiri tidak jauh dari meja konferensi.
"Ini pertama kalinya menjadi pemeran utama. Tentu saja aku senang. Apalagi pemeran dan kru selama pembuatan film ini turut membantuku setiap aku merasa ada kesulitan untuk mengambil adegan."
"Bagaimana perasaanmu beradu akting dengan Mike?"
Pertanyaan yang baru saja ia dengar seolah menggelitik tengkuknya, canggung. Ia bahkan tidak ingat apa yang dirasakan selama beradu akting dengan pria asal Canada tersebut.
"Oh, tiada hari tanpa tertawa. Dia orangnya menyenangkan dan membuat suasana jadi melebur. Terlebih karena dia lebih senior jadi aku merasa banyak belajar darinya tentang seni peran." jawabnya dengan gesture yang dibuat demikian ceria.
"Mike, bagaimana denganmu? Kau sudah bertunangan dengan Laura. Bagaimana kau membangun chemistry untuk menjadi pasangan Melanie di film ini?" tanya seorang wartawan dari platform majalah ternama di New York.
Detik itu, Melanie mencoba memahami arah dari pertanyaan sang wartawan. Meski ia lulusan Sekolah Teater, pengalamannya berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai watak jangan diragukan lagi.
"Seperti yang kalian lihat di media berita atau gosip, Melanie memang ramah dan apa adanya. Jadi membangun chemistry dalam proyek film ini berjalan begitu saja. Dia juga banyak membantuku dalam pendalaman karakter." jelas Mike, tidak lupa dengan lengannya yang bertengger di sandaran kursi Melanie. Memperjelas betapa kuat chemistry antara dia dan Melanie, baik dalam set memerankan sebagai Daniel maupun saat ini.
"Lagipula, sebagai publik figur Laura juga memahami hal itu, tentu saja. Dia sangat paham dengan profesionalitas." lanjut Mike, enteng.
Seketika memecah tawa para pemain film Stargazing yang mendengar penuturannya. Laura, tunangan Mike yang berprofesi sebagai penyanyi tidak kalah pamor. Penyanyi yang sedang naik daun berkat perilisan album barunya itu tengah menjadi sorotan seantero New York. Sama halnya dengan Melanie, dia juga menjalin hubungan dengan model majalah busana bulanan Vogio asal Italia, Sergio Antonio. Bedanya, Sergio sangat pencemburu dan tidak masuk akal jika bersangkutan dengan Melanie.
Tidak butuh waktu lama untuk membuktikannya, Sergio turut hadir di antara kerumunan yang ada. Ia memantau setiap gerak-gerik Mike terhadap sang pujaan hati, Melanie dari kejauhan. Rasa kepemilikannya terhadap Melanie sangat besar. Bagai seisi dunia hanya ia persembahkan untuk Melanie dan hanya dia yang hidup dalam dunianya, Melanie.
"Tapi sepertinya tidak dengan Sergio. Bagaimana tanggapan Sergio selama pembuatan film ini?" Sekali lagi, Melanie mencoba untuk menerka kemana arah dari pertanyaan wartawan ini. Ia melirik sekilas memar pada paha kirinya. Beruntung kali ini tertutup oleh selimut yang diberikan oleh staf acara. Seumur hidupnya, hal yang paling dia benci adalah bersikap diplomatis dan menjadi miskin. Dia tidak ingin kembali menjalani hidup seperti itu. Menjadi naif dan dibodohi. Dua hal yang menipu diri sendiri.
"Kebetulan-" Kalimatnya menggantung di atmosfer Gala Premier perilisan film.
Seolah sang sutradara paham aktrisnya kurang nyaman dengan pertanyaan pribadi tersebut, "bisa kita mulai membahas tentang filmnya saja?" ujar sang sutradara.
📍Sirkuit Monza, Italia
Cuaca terik tak menghalangi para pembalap yang saling berebut posisi untuk mendapat piala bergengsi Formula 1. Meski telah melalui beberapa putaran dari beberapa sirkuit, mereka tak patah arang. Lelah menjadi satu kepastian bagi mereka yang mengitari sirkuit hingga mencapai jumlah putaran yang ditentukan dan diakhiri dengan garis finish bercorak catur legendaris.
Tidak kalah semangat, para pendukung dari masing-masing pembalap turut memadati kursi tribun sirkuit sambil bersorak menyemangati jagoannya. Bahkan para kru dari masing-masing tim ikut memantau dari monitor yang disediakan supaya bisa memberi evaluasi untuk balapan selanjutnya atau sekedar memberi arahan dari sambungan ear piece yang terpasang di helm para pengendara.
"Bisa kita saksikan bersama di putaran ke tiga kali ini cukup sengit." Sebuah pertandingan tidak akan seru tanpa suara komentator yang terdengar melalui speaker yang menjangkau seluruh sirkuit selain memeriahkan pertandingan, penonton juga jadi tahu kedudukan sementara pengendara favorit mereka.
"Setuju, baru kali ini kita lihat Pioretti, perlahan mulai menyusul kawannya, Cristopher yang selalu menduduki posisi sepuluh besar."
"Jarang sekali. Jarang sekali Pioretti ada dalam barisan sepuluh besar. Ini adalah sebuah pencapaian."
"Ya dan semoga saja, Nio. Semoga saja kali ini Italia membawa pulang pialanya."
"Oh, tapi tetap waspada dengan Georgio. Sepanjang musim ini gelar juara masih disandang rapi di belakang namanya."
"Woah! Benar. Georgio jangan kita tinggalkan."
Di tempat yang sama, Nigel tengah cemas melihat perkembangan pesat yang dilakukan oleh bosnya itu. Ia cemas sebab tidak pernah Fabian berambisi hingga hampir menyusul Jonathan Cristopher, pembalap satu agensi dengan Fabian. Berdasarkan perjanjian yang telah disepakati kedua pembalap tersebut bahwa yang menjadi bintang adalah Jonathan Cristopher. Oleh karena itu, seumur karirnya dalam dunia pembalap Fabian tidak pernah meloloskan diri hingga putaran selanjutnya. Berbeda dengan kali ini, persetan dengan perjanjian yang telah ia ketahui konsekuensinya jika melanggar. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia ingin menguji kemampuan dirinya. Membuktikan pada kedua orangtuanya bahwa ia bisa bertahan hidup dalam bidang yang ia cita-citakan sejak usia sepuluh tahun itu alih-alih menjadi penerus bisnis keluarganya yang bergerak di dunia mode. Sejak saat itu Fabian menyadari satu hal, menjadi anak tunggal tidak selalu menyenangkan seperti yang ia dengar kebanyakan dari teman sebayanya waktu sekolah dulu.
"Ini gila! Pioretti ada di posisi ke-lima setelah menyalip Baltazar dan Hugo. Apakah setelah ini kita menyaksikan Cristopher dan Pioretti di atas podium?"
Seakan sependapat dengan penuturan Nio, Evan tertawa sembari menjambak kecil rambutnya, tidak percaya. Nyatanya, ini terjadi. Fabian Dominic Pioretti, tengah mendapat bahan bakar yang memenuhi tangki egonya. Ia sedang membakar segala hal yang membuatnya redup beberapa tahun terakhir. Berbekal jam terbang yang hampir sama dengan Jonathan, perlahan ia membuka jati dirinya sebab mimpi dan masa depannya sedang dipertaruhkan oleh kedua orangtuanya sendiri.
Sejak perubahan urutannya hari itu, penonton mulai memberi dukungan kepada Fabian. Beberapa dari mereka setuju bahwa Fabian memiliki kemampuan yang setara dengan Jonathan. Mereka juga tahu bahwa terjadi diskriminasi kepada Fabian. Sejak hari itu, media mulai menjadikan Fabian ikon baru bagi penggemar Formula 1.
-bersambung-
KAMU SEDANG MEMBACA
Trading the Spotlight [TERBIT]
Chick-LitDari sekian banyak potensi, aku rasa potensi terbesarku adalah hidup dalam bayang-bayang hutang atas kemewahan hidup kekuargaku. Hidup bagai layang-layang terbawa angin tanpa tuju, masih beruntung kait benang tidak putus. Atau barangkali, sebentar l...
![Trading the Spotlight [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/370374616-64-k540838.jpg)