📍Charles De Gaulle, Prancis
"Akhirnya kakiku istirahat juga!" seru Nigel setelah menginjakkan kakinya sesaat setelah pesawat mendarat untuk transit selama beberapa jam kedepan.
Bukan hanya Nigel, Fabian pun meregangkan badannya yang pegal. "Lagipula, siapa yang suruh pesan kelas ekonomi?"
Nigel tidak percaya ia mendengar pertanyaan santai dari bosnya yang baru saja membuat masalah, "kita harus menghemat pengeluaran karena perbaikan mobilmu, tau?" yang diceramahi diam, merasa bersalah.
"Memangnya tidak ada uang yang tersimpan di akunku?" kata-kata yang keluar dari Fabian sukses membuat Nigel memutar mata, jengah.
Ditempat yang sama. Pesawat dari New York tiba dan mendarat sempurna di Bandara Charles De Gaulle untuk transit. Namun berbeda dengan Fabian dan Nigel yang tiba dengan perasaan lega, Melanie dan Odille harus menyelamatkan diri kejaran wartawan yang telah bersiap di pintu kedatangan.
"Itulah alasan kenapa aku membiarkan Jonathan yang menjadi bintang."
Baik Fabian pun Nigel mereka melewati Melanie dan Odille untuk menuju lounge yang telah disediakan. Berbekal rasa penasaran yang tinggi, Nigel memberanikan diri untuk mencari tahu lebih dekat siapa selebriti yang tengah dikerubungi oleh pemburu gambar dan berita di depannya.
"Tidak usah." cegah Fabian. Sangat memahami jika manajer sekaligus sahabatnya itu haus akan gosip terhangat dari berbagai kalangan selebriti. Apalagi jika itu idolanya, Melanie Rosewood. Tapi ia tidak bisa menoleransi jika kelakuan memalukan Nigel sampai ke lokasi berita diambil.
"Kau langsung jalan saja ke lounge kalau tidak mau menungguku. Lumayan aku bisa melihat tayangan langsung. Sekalian bawakan barang-barang ku, boleh tidak?" diiringi dengan senyum lebar khas Nigel jika ingin merepotkan bosnya itu.
Tanpa berpikir dua kali, Fabian langsung menuju lounge yang disediakan untuk bersantai sambil menunggu waktu keberangkatan ke Milan. Daripada mengikuti Nigel dan mengurangi waktu istirahatnya, ia dengan kacamata hitamnya melenggang meninggalkan Nigel.
Sementara itu, Melanie yang berusaha dilindungi oleh Odille agar tidak semakin banyak orang tahu bahwa dia transit di Prancis sebelum ke Milan terus mengucapkan kata-kata yang sama, "terima kasih, tapi aku bukan Melanie." sambil terus menutupi separuh wajahnya dengan topi yang ia kenakan seraya berjalan menuju ke lounge.
"Apakah kau akan menghadiri Milan Fashion Week?"
"Tolong tanggapannya, Mel. Apa kau sudah putus dari Sergio?"
"Apa kau kemari untuk berlibur?"
"Apa kau sedang berencana melarikan diri dari media?"
Pertanyaan yang terakhir membuat Melanie terhenyak. Melarikan diri dari media? Bagaimana bisa? Bahkan mereka berhasil menemukannya walau keberangkatannya bisa dikatakan mendadak dan sembunyi-sembunyi. Kalau pun ada cara terbaik untuk melarikan diri dari media, ia mau mencobanya barang sebentar saja.
Hidupnya bergantung pada media sekarang. Di rumahnya, ibu serta adik-adiknya hidup dengan baik bahkan satu minggu lalu ibunya menelepon agar mengirim uang lagi dengan alasan keperluan kuliah adiknya. Ia tidak bisa lepas dari media. Bak kecanduan, bila ia lepas tangan dari sorotan media, bayang-bayang menjadi miskin menghantuinya.
Dan dia benci itu.
"Aku bahkan tidak memberitahu siapapun tentang keberangkatanmu ke Milan. Bagaimana mereka bisa tahu?" gerutu Odille sesaat setelah bebas dari kerumunan dan duduk di kursi kosong yang ada di lounge.
"Sosial media, kau lupa? orang-orang sekitar tempat kita duduk juga saling berbisik." ujar Melanie seraya melepas topi, blazer, dan kacamata hitamnya.
"Bukan begitu, maksudku ..., agar Sergio tidak menyusul kemari." bisik Odille. Padahal jika dilihat-lihat lounge tidak terlalu padat menjelang fajar begini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Trading the Spotlight [TERBIT]
ChickLitDari sekian banyak potensi, aku rasa potensi terbesarku adalah hidup dalam bayang-bayang hutang atas kemewahan hidup kekuargaku. Hidup bagai layang-layang terbawa angin tanpa tuju, masih beruntung kait benang tidak putus. Atau barangkali, sebentar l...
![Trading the Spotlight [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/370374616-64-k540838.jpg)