Langit hampir kehilangan sinar mentari namun tidak menyurutkan Milan untuk berhenti bergerak. Menjadi pusat kota mode ke-4 di dunia tetap menjalani hari tanpa kenal lelah. Dari jendela hotelnya, Melanie masih bisa melihat kerumunan wartawan di bawah sana.
"Aku mau ke cafetaria. Kau ikut?" tanpa banyak pertimbangan, ia memilih untuk tetap berdiam diri di kamar. Tanpa memberitahu Odille sama sekali soal Sergio yang berulah siang tadi.
"Kenapa tiba-tiba kau tidak bersemangat?" tanya Odille penuh selidik.
Benar, ini bukan dirinya. Melanie kemudian membalas tatapan manajernya dengan nyalang dan memberi kalimat pembelaan, "aku tau kau merindukanku, 'kan? Baiklah, ayo. Aku temani kau ke bawah."
"Tiba-tiba bersemangat lagi? Secepat itu?" gumam Odille, heran dengan perubahan sikap sang aktris.
Kejadian siang tadi masih membuatnya enggan melangkahkan kakinya untuk keluar. Berbanding terbalik dengan keinginannya yang tidak ingin membuat sang manajer khawatir dengan perubahan suasana hatinya, ia berusaha setenang mungkin. Lagipula, sudah ditangani oleh pihak keamanan hotel. Seharusnya dia tidak cemas lagi. Seharusnya dia akan baik-baik saja, bukan?
"Apa kau baik saja?"
Melanie mengamit lengan Odille, menuntun ke arah pintu sembari menjawab Odille, "ya. Seperti yang kau lihat. Berita seperti itu sudah jadi menu wajib. Tanpanya mana bisa aku hidup sampai detik ini?" ujarnya santai.
"Oke kalau begitu. Omong-omong besok kita harus pindah karena pesawat delay cukup lama. Oh, dan juga aku dapat pesan dari tim Gilda Lorenza. Dia ingin bertemu denganmu secara personal sebelum kembali ke New York. Bukankah itu kabar baik?"
"Ya ya ..., atur saja jadwalku. Aku pasti akan ikut selama tidak ada Sergio-"
"Ah! serigala itu memang tidak bosan ya mengganggumu?!" belum selesai Melanie bicara soal Sergio, rupanya Odille sudah kepalang muak mendengar nama asli si serigala itu.
Betapa pun Melanie mencoba untuk menjauhkan diri dari Sergio, pria jangkung itu akan selalu menemukan cara untuk bertemu dengan Melanie. Membuat Melanie putus asa untuk menjauh darinya. Bahkan rumor dirinya dengan Mike tidak cukup membuat Sergio menyerah akan cinta yang ia percaya. Kata-kata Sergio siang tadi kembali memenuhi pikiran Melanie.
Tentang tidak akan ada yang mau dengannya selain Sergio. Tentang betapa murahannya dia sehingga bisa dengan mudah digosipkan dengan siapapun. Dia ingin tidak percaya Sergio, tapi siapapun yang mendengar pasti percaya dengan setiap kata yang keluar dari bibir pria berambut keriting itu sebab dia selalu punya cara agar dipercaya.
"Bagaimana kalau nanti saat media mewawancarai tentang hubunganmu dan Sergio, beri tahu saja mereka yang sebenarnya."
Wanita bermanik cokelat kopi dihadapan Odille menggeleng ribut mendengar usulannya. Yang ada dipikiran sang aktris, alih-alih menyelesaikan masalah, itu hanya akan memperburuk keadaan. Melanie rasa, sementara ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan ke media terkait hubungannya dengan Sergio. Ia tidak mau mewujudkan perkataan Sergio tentangnya menjadi nyata.
Pada cafe berornamen kental akan budaya Neo Klasik Italia, keduanya berbincang sambil menikmati minuman yang mereka pesan untuk menghabiskan hari. Menertawakan hidup yang penuh kejutan setiap harinya. Odille yang bertahan hidup demi mewujudkan rumah impiannya hingga nekat berurusan dengan pialang dan Melanie yang bertahan hidup agar tetap hidup ditengah isu yang ingin meredupkan sinarnya. Keduanya bertahan hidup dengan alasan masing-masing. Pada dasarnya memang hidup harus punya tujuan, bukan?
"Sebentar, siapa yang menelepon?" gumam Melanie seraya melihat nama yang tertera di ponselnya.
"Oh, sudah tenggat waktu." gumamnya pada diri sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Trading the Spotlight [TERBIT]
ChickLitDari sekian banyak potensi, aku rasa potensi terbesarku adalah hidup dalam bayang-bayang hutang atas kemewahan hidup kekuargaku. Hidup bagai layang-layang terbawa angin tanpa tuju, masih beruntung kait benang tidak putus. Atau barangkali, sebentar l...
![Trading the Spotlight [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/370374616-64-k540838.jpg)