📍New York
Setelah Makan Malam Keluarga Pioretti ...
Jalanan lengang Kota New York di malam hari menyambut ramah kedatangan Fabian. Dengan kecepatan yang biasa ia lakukan di sirkuit, ia bawa untuk membelah jalanan di tengah malam bak kota mati. Sama halnya dengan yang tengah ia rasakan.
Perasaan yang entah sejak kapan membuatnya terus memikirkan Melanie dan segala hal yang wanita itu lakukan. Sebelumnya, sekalipun ia tidak suka jika Nigel menyebut tentang Melanie dan segala skandal yang ia buat. Namun berbeda seratus delapan puluh derajat ketika ia mengenal secara langsung siapa sosok Melanie Rosewood yang kini menyandang sebagai kekasih bohongan selama hampir tiga bulan.
Di pertengahan perjanjian yang telah ia tanda tangani bersama Melanie, dirinya justru ingin melihat Melanie bangkit dari masa lalunya yang sengaja dikubur seiring berjalannya waktu. Sebab bagi Fabian, sesuatu yang dikubur akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Seperti bunga liar dan gulma di tanah lapang. Itu hanya akan mengganggu tanaman yang sudah benar-benar ia tanam dan rawat segenap jiwa.
Sama halnya dengan masa lalu pahit yang Melanie kubur agar tidak kembali merasakan pahit yang sama. Suatu saat akan tumbuh kembali hingga mengakar dan tidak terpatahkan. Fabian tidak ingin itu terjadi pada Melanie. Baginya, Melanie yang apa adanya jauh lebih menarik dengan segala pengetahuan dan kemurnian hatinya.
Bukan berarti ia tidak suka dengan perubahan Melanie yang jauh lebih berani dan profesional. Suka. Justru Fabian merasa Melanie mirip dengannya, tapi tidak dengan kepura-puraan yang Melanie tampilkan di depan publik. Seumur hidupnya, baru kali ini ia merasa harus mengerahkan seluruh yang ia bisa lakukan kepada seseorang, yakni Melanie Rosewood.
"Yo, bro! Kau dari mana saja? Dihubungi tidak diangkat. Masam sekali wajahmu?! Apa main jodoh-jodohannya tetap dilanjutkan? " cecar Nigel sesaat setelah Fabian masuk ke kamar hotelnya.
Siapa yang peduli? Cepat atau lambat Nigel juga akan segera tahu dari Serena, sang ibu. Segera ia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dibawah guyuran air shower yang dingin, ia larut dalam pikiran. Terlebih ia jadi memikirkan perasaan Melanie saat bertemu dengan kedua orang tuanya yang alih-alih membahas soal hubungan mereka, justru membahas tentang Louisiana dan bisnis. Ia merasa bersalah sudah memaksakan kehendak atas Melanie dan bagaimana ia melihat reaksi Melanie sesaat sebelum turun dari mobilnya.
Sungguh, ia tidak enak hati terhadap Melanie.
Fabian berusaha bersikap biasa, mengirim pesan pada Melanie setibanya ia di rumah hanya sekedar memberitahu bahwa dirinya sudah tiba dengan selamat. Sehingga tidak membuat Melanie khawatir, mengingat kebiasaan buruknya dalam menyetir mobil. Memacu spidometer hingga jarum berada diatas kecepatan rata-rata yang diperbolehkan.
Tidak ada jawaban dari Melanie. Maka saat itu, ia pikir Melanie sudah lelap dalam tidurnya.
"Bagaimana makan malamnya? Ceritakan padaku. Aku penasaran!" rengek Nigel.
Tidak ada kabar dari Melanie, begitu pula dengan Fabian yang enggan menjawab ocehan Nigel. Ia menuju balkon seraya menyalakan rokok elektriknya. Mengembuskan asapnya dan membiarkannya menari-nari di udara.
"Sepertinya tidak berjalan dengan baik, ya? Kau kenapa, huh?"
Dengan pandangan yang menerawang birunya langit malam, Fabian menjawab dengan mengangkat bahunya.
🎬🎬🎬
📍Milan, Italia
Sinar merah muda keunguan mengiringi keberangkatannya ke Milan. Pagi-pagi sekali ia bersama Nigel sudah tandang ke bandara untuk memasukkan barang-barangnya ke bagasi pesawat. Bahkan sampai detik dimana ia melangkahkan kakinya menuju pintu masuk keberangkatan, belum ada balasan dari sang puan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Trading the Spotlight [TERBIT]
Literatura FemininaDari sekian banyak potensi, aku rasa potensi terbesarku adalah hidup dalam bayang-bayang hutang atas kemewahan hidup kekuargaku. Hidup bagai layang-layang terbawa angin tanpa tuju, masih beruntung kait benang tidak putus. Atau barangkali, sebentar l...
![Trading the Spotlight [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/370374616-64-k540838.jpg)