XVIII. To Get Her (back)

73 6 0
                                        

Langit New York merona merah sore ini. Senada dengan rona langit, pipinya merona karena blush on yang ia kenakan. Peran sebagai antagonis dalam film kali ini membuat tampilannya berbeda dari biasanya. Kesan bold namun elegan menjadi poin untuk mempertegas karakter Wilma yang ia perankan.

comment:

tyler_21: Aku jadi penasaran dengan penampilan Melanie dalam Wilma.
starinyoureyes: Dia cocok memerankan antagonis daripada protagonis.
gelatogether: Aku harap kau dan Sergio masih bersama 🥲
me_lioner: Siapa yang setuju Melanie jadi ratu antagonis tahun ini?!
mikeformelan: Aku harap Mike yang jadi lawan mainnya. Aku tidak siap Melanie jadi jahat 😭
pretzeeeel: @mikeformelan aku setuju!

Disela-sela menunggu waktunya untuk take shooting, Melanie selalu membaca satu persatu komentar dari foto yang baru saja ia unggah. Sebagai selebriti yang tengah naik daun, berkirim foto di sosial media adalah satu dari sekian banyak kegiatan yang dia lakukan. Bukan kewajiban, tapi Melanie senang melakukan interaksi bersama penggemarnya. Baginya, itu adalah suatu bentuk melepas penat yang paling membahagiakan. Meski tidak jarang ia mendapat kritik dan masukan, ia menerima dengan penuh pertimbangan. Baginya, tidak ada yang sempurna bahkan dirinya yang kerap mendengar kata itu sejak bersama dengan Sergio. Hidupnya tidak sempurna seperti kebanyakan orang melihatnya.

Dia hanya mencoba menjadi yang terbaik. Bukan menjadi sempurna.

Mengiringi tenggelamnya Sang Surya, Melanie berpikir untuk mempersiapkan kehebohan saat Fabian datang. Malam nanti Fabian bersama timnya akan tiba di New York. Dalam lamunannya, ia sudah merencanakan satu hal yang pasti akan ia lakukan saat bertemu dengan Fabian.

Dia ingin membalas semua kebaikan Fabian yang ia dapat selama berada di Milan. Ia berniat mengajak Fabian untuk berkunjung ke tempat favoritnya menghabiskan waktu senggang. Ice skating. Meski musim panas baru mulai, namun bukankah menghabiskan waktu diatas es juga menyenangkan?

"Mel, lima menit lagi. Bersiap."

Ia sudah siap dengan karakter Wilma. Sedikit banyak, karakter Wilma memiliki kesamaan dengan Melanie. Melakukan apapun demi mencapai tujuannya agar bahagia dan tidak mengenal hutang lagi. Namun bedanya, Wilma versi nekat dan tak kenal hukum.

🎬🎬🎬


"CUT!"

Adegan terakhir dari film telah selesai ia kerjakan. Ditengah perjalanannya menuju ruang ganti, Odille datang dan mencegah Melanie untuk masuk ke ruangan itu. Sudah tidak ada waktu baginya. Ia ingin segera menemui Fabian di bandara agar rencananya berjalan mulus tanpa ada yang curiga.

"Kenapa?"

"Sergio. Dia ada di dalam."

"Aku tidak punya waktu banyak untuk bermain petak umpet!"

"Sayang? Kau kah itu?" Detik itu juga Melanie merutuki dirinya yang membuat kehebohan di depan ruang ganti. Tak lama berselang, pemilik suara bariton itu keluar dan menemui yang terkasih.

"Apa kau tidak merindukanku?"

Pertanyaan itu sukses membuat Melanie menutup matanya, ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlihat lemah dihadapan Sergio. Ia tidak boleh menunjukkan air mata ketakutan seperti yang diharapkan Sergio. Tarik napas, buang napas. Pikirannya ia tujukan hanya pada pesan Fabian sebelum dirinya meninggalkan Milan.

"Aku merindukanmu sampai hampir gila! Kau tahu, berita sekarang suka mengada-ada."

"Apa maumu?" Jiwa Wilma masih belum sepenuhnya hilang dari dirinya. Perangai antagonis melekat dan mengambil alih dirinya.

Trading the Spotlight [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang